Raja Gowa “Hilang” di Tengah Perang, Novel Makmur Makka Bongkar Kisahnya
Poto Ai hanya ilustrasi: RAJA YANG HILANG DI "PERANG GOWA".(poto/ist/Ahmadie Thaha)
Satuju.com - Perang Gowa tidak hanya menyisakan catatan tentang pertempuran antara Kerajaan Gowa dan Hindia Belanda. Peristiwa 1905–1906 juga meninggalkan kisah tentang Raja Gowa, I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang, yang dalam novel terbaru A. Makmur Makka dikisahkan “ghaib” di tengah perang.
Kisah tersebut menjadi inti novel sejarah Perang Gowa 1905–1906 karya A. Makmur Makka. Buku setebal 175 halaman itu terbit pada 2026 melalui Satria Publisher dan diluncurkan secara sederhana di Jakarta.
Makmur Makka memilih satu episode dari sejarah Gowa untuk membangun cerita yang memadukan fakta sejarah, konflik politik, perang, percintaan, hingga tradisi masyarakat Sulawesi Selatan.
Dalam sejarah, I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang dikenal sebagai Raja Gowa yang memerintah pada 1895–1906. Ia bergelar Sultan Husain Tuminanga ri Bundu’na dan melakukan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda.
Sejumlah sumber sejarah mencatat sang raja meninggal di Bundukma, dekat Enrekang, pada 25 Desember 1906. Namun, dalam novel Makmur Makka, keberadaan sang raja justru menjadi misteri. Ia dikisahkan menghilang di tengah berkecamuknya perang.
Perbedaan antara catatan sejarah dan konstruksi cerita tersebut menjadi salah satu daya tarik novel. Makmur Makka tidak menempatkan karyanya sebagai buku sejarah akademis, melainkan sebagai novel yang menggunakan sejarah sebagai kerangka cerita.
Karena itu, kisah tentang raja yang “ghaib” perlu ditempatkan dalam wilayah sastra. Pembaca tetap perlu membedakan antara fakta sejarah, tafsir pengarang, dan unsur imajinasi.
Jurnalis dan penyair Ahmadun Yosi Herfanda, salah seorang pembicara dalam diskusi buku di Gedung Philanthropy Dompet Dhuafa, Jakarta, mengingatkan bahwa novel sejarah memang memadukan fakta dengan tokoh dan alur yang dibangun pengarang.
Bersama sejarawan Anhar Gonggong, Ahmadun menegaskan bahwa novel sejarah bukan karya ilmiah sejarah. Imajinasi tetap memiliki ruang, tetapi fakta sejarah yang menjadi dasar cerita tetap menuntut tanggung jawab.
Ahmadun juga menyoroti konstruksi cerita Perang Gowa. Kisah dua joki kuda, Patta Emba dan Bunga Rossi, menjadi jalur romantis yang berkelindan dengan konflik politik dan peperangan.
Keduanya bertemu di arena pacuan kuda dan kemudian menjalin hubungan. Namun, ketika cerita berpindah ke Benteng Rotterdam serta menghadirkan tokoh-tokoh Belanda seperti J.B. van Heutsz, alurnya dinilai terasa terputus.
Menurut Ahmadun, dua jalur tersebut akan lebih kuat jika dikembangkan menjadi alur ganda yang saling berkelindan.
Kritik itu menunjukkan bahwa kekuatan novel sejarah tidak hanya ditentukan oleh kekayaan bahan sejarah. Pengarang juga harus mampu menjaga mesin cerita agar pembaca tetap mengikuti konflik dari awal hingga akhir.
Makmur Makka dan Jejak Arsip Habibie
Makmur Makka bukan nama baru dalam penulisan sejarah dan biografi. Lahir di Parepare, 13 Februari 1945, ia menempuh pendidikan Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada dan melanjutkan studi ke Ohio University, Amerika Serikat.
Kariernya juga bersinggungan erat dengan dunia jurnalistik. Ia pernah aktif dalam pers mahasiswa di Yogyakarta, bekerja di Harian KAMI, serta menjadi Pemimpin Redaksi Republika pada 1997–2000.
Sebelumnya, Makmur Makka juga pernah menjadi staf ahli Menteri Negara Riset dan Teknologi/Kepala BPPT.
Kedekatannya dengan B.J. Habibie membuat Makmur ikut berperan dalam pengumpulan arsip Presiden ketiga RI tersebut. Arsip yang terkumpul kemudian diserahkan kepada Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
ANRI mencatat inventaris arsip Makmur Makka yang tersimpan mencapai 399 nomor, terdiri atas 384 arsip tekstual dan 15 lembar arsip foto.
Makmur kemudian dikenal luas melalui karya-karya biografi Habibie. Pada 2018, ia memperoleh penghargaan MURI sebagai penulis buku biografi Habibie terbanyak dengan 95 judul.
Namun, kiprahnya tidak berhenti pada biografi. Ia juga menulis puisi, cerpen, prosa liris dan novel sejarah.
Salah satu karya pentingnya adalah Rumpa’na Bone, yang terbit pada 2015. Novel tersebut mengambil latar serangan Belanda terhadap Kerajaan Bone pada 1904–1905 dan menggabungkan fakta sejarah dengan budaya siri’, upacara kerajaan serta tradisi ritual bissu.
Perang Gowa dapat dibaca sebagai kelanjutan ketertarikan Makmur Makka terhadap sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan.
Arsip Kolonial dan Ingatan Rakyat
Dalam pengantarnya, Makmur Makka menjelaskan bahwa arsip Belanda menyediakan detail penting mengenai nama tempat, tanggal, pertempuran hingga jumlah korban.
Namun, catatan kolonial tetap lahir dari sudut pandang pihak yang memenangkan perang. Di sisi lain, tradisi lisan masyarakat lokal menyimpan cerita mengenai kesetiaan, kehormatan, cinta, harga diri dan sosok raja yang hilang.
Dari titik itulah Makmur Makka memilih pendekatan dengan “menafsir, bukan menyalin”.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena sejarah tidak selalu hadir dalam satu versi. Arsip dapat mencatat jalannya operasi militer, tetapi belum tentu mampu merekam ketakutan, kehilangan, cinta dan harapan masyarakat yang berada di tengah perang.
Perang Gowa sendiri berlangsung pada periode ketika pemerintah Hindia Belanda semakin agresif memperluas kendali atas wilayah Nusantara.
Konteks tersebut membuat peristiwa Gowa tidak bisa dilepaskan dari proses panjang kolonialisme yang berusaha mengakhiri kedaulatan kerajaan-kerajaan lokal.
Pada periode yang sama, berbagai aktivitas sosial, pendidikan, perdagangan dan organisasi keagamaan juga berkembang di wilayah lain Hindia Belanda. Sejarah Nusantara karena itu tidak pernah berjalan dalam satu jalur.
Dari 31 Potongan Cerita ke Film Pendek
Salah satu gagasan menarik yang muncul dalam diskusi buku tersebut adalah mengembangkan 31 potongan cerita dalam Perang Gowa menjadi 31 film pendek.
Gagasan itu bukan berarti buku harus kalah oleh video. Sebaliknya, film pendek dapat menjadi pintu masuk bagi pembaca muda untuk mengenal sejarah dan kemudian mencari cerita lengkapnya melalui buku.
Strategi tersebut relevan di tengah perubahan cara generasi muda mengonsumsi informasi. Cerita tentang seorang raja yang menghilang di tengah perang memiliki unsur dramatik yang kuat untuk dikembangkan menjadi konten visual.
Apalagi novel tersebut memiliki banyak bahan sinematik: peperangan, kerajaan, benteng, pengkhianatan, percintaan, pengejaran, kesetiaan dan misteri hilangnya seorang penguasa.
Pada akhirnya, kekuatan Perang Gowa bukan semata-mata terletak pada seberapa banyak tanggal dan nama sejarah yang dapat dihafalkan pembaca.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah cerita itu mampu membuat pembaca ingin mencari tahu siapa I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang, mengapa ia melawan Belanda, bagaimana akhir perjuangannya dan mengapa kisah tentang dirinya masih menyimpan ruang perdebatan.
Di titik itulah novel sejarah menemukan fungsi pentingnya. Ia tidak harus menggantikan buku sejarah akademis. Ia bisa menjadi pintu pertama untuk membuat masyarakat kembali bertanya tentang masa lalu.
Perang Gowa pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang perang. Di balik kisah raja yang hilang terdapat persoalan lebih besar tentang ingatan sejarah.
Sebuah makam mungkin hanya menyisakan nama. Namun, cerita di balik nama itu dapat membuka kembali perdebatan tentang kekuasaan, kolonialisme, perlawanan, cinta, pengkhianatan dan identitas sebuah masyarakat.
Cak AT – Ahmadie Thaha
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 12/9/2026
