Anak Bukan Kertas Kosong, Gen Bukan Pula Takdir

Poto Ai hanya ilustrasi: Penelitian genetika menunjukkan kepribadian anak dipengaruhi banyak varian gen dan lingkungan. Guru serta orang tua berperan membentuknya.(poto/ist/Ahmadie Thaha)

Satuju.com - Kepribadian anak tidak terbentuk semata-mata dari pola asuh. Genetika kepribadian anak ikut membawa kecenderungan tertentu sejak lahir, tetapi lingkungan dan pengalaman hidup tetap memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan mereka.

Hal itu menjadi sorotan dalam penelitian yang diterbitkan jurnal Nature berjudul “Robust inference and korelasi dari asosiasi genetik dengan kepribadian”.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Ted Schwaba, Margaret L. Clapp Sullivan, Wonuola A. Akingbuwa, bersama lebih dari 140 peneliti dalam Revived Genomics of Personality Consortium (ReGPC). Tim menggabungkan data dari 46 kohort penelitian di berbagai negara.

Hasil penelitian menemukan 1.260 varian genetik yang berkaitan dengan lima dimensi kepribadian utama atau Big Five . Sebanyak 824 varian di antaranya merupakan temuan baru.

Lima dimensi tersebut mencakup ekstraversi , kesesuaian , kesadaran , neurotisme , dan keterbukaan terhadap pengalaman .

Extraversion berkaitan dengan kecenderungan aktif dan mudah berinteraksi. Agreeableness berhubungan dengan sikap kooperatif dan perhatian terhadap orang lain. Sementara conscientiousness berkaitan dengan keteraturan, ketekunan, serta tanggung jawab.

Adapun neuroticism menggambarkan kecenderungan mengalami kecemasan atau emosi negatif, sedangkan openness to experience berkaitan dengan imajinasi, rasa ingin tahu, dan keterbukaan terhadap pengalaman baru.

Namun, temuan itu tidak berarti terdapat satu gen tertentu yang menentukan seseorang menjadi pemalu, rajin, pemberani atau calon pemimpin.

Ted Schwaba, penulis utama penelitian dari Michigan State University, menegaskan bahwa tidak ada satu gen yang menentukan kepribadian. Pengaruh setiap varian sangat kecil dan pengaruh yang lebih berarti muncul dari kombinasi banyak varian.

Anak Bukan Kertas Kosong

Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa manusia membawa kecenderungan bawaan. Namun, gen dan lingkungan tidak bekerja secara terpisah. Keduanya berinteraksi sepanjang kehidupan.

Salah satu contohnya terlihat pada varian yang berkaitan dengan openness. Varian tersebut juga berhubungan dengan kecenderungan seseorang tinggal di lingkungan yang lebih kosmopolitan. Pengalaman hidup dalam lingkungan tersebut kemudian dapat ikut memperkuat atau membentuk kecenderungan kepribadian.

Dengan demikian, anak bukan kertas kosong. Tetapi anak juga bukan buku yang seluruh isinya sudah tercetak sejak lahir.

Anak lebih tepat dipandang seperti benih yang membawa berbagai kemungkinan. Lingkungan menjadi bagian penting yang menentukan bagaimana kemungkinan tersebut berkembang.

Perspektif ini penting bagi orang tua dan guru. Anak pendiam, misalnya, tidak otomatis memiliki kemampuan yang lebih rendah. Memaksanya tampil tanpa persiapan justru dapat memperkuat kecemasan.

Guru dapat memberikan tahapan yang lebih sesuai, mulai dari jawaban tertulis, diskusi berpasangan, kelompok kecil hingga presentasi. Cara tersebut tidak berusaha menghapus sifat pendiam, tetapi membuka ruang agar keberanian tumbuh.

Sebaliknya, anak yang sangat aktif tidak selalu membutuhkan lebih banyak perintah untuk diam. Energinya dapat diarahkan menjadi kekuatan melalui peran sebagai moderator diskusi, pemimpin eksperimen, penjaga waktu atau penyaji hasil kelompok.

Anak yang teliti bisa unggul dalam pekerjaan yang membutuhkan ketekunan, meski mungkin memerlukan bantuan ketika menghadapi perubahan mendadak. Sementara anak yang spontan bisa saja kurang rapi, tetapi mampu menemukan solusi ketika situasi berubah.

Jangan Cepat Memberi Label

Karena itu, guru dan orang tua perlu mengurangi kebiasaan memberikan label kepada anak. Penilaian seperti “malas”, “pemalu”, atau “tidak percaya diri” sebaiknya diganti dengan upaya memahami pola perilakunya.

Ketika seorang anak terlihat malas, misalnya, pertanyaan yang lebih penting adalah kapan ia kehilangan minat, apakah ia kesulitan memahami instruksi, lebih aktif ketika belajar melalui praktik, atau justru takut melakukan kesalahan.

Pertanyaan yang tepat dapat menghasilkan pendekatan pendidikan yang lebih tepat pula.

Penelitian ReGPC juga menemukan hubungan antara pola genetik kepribadian dengan berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan, pendidikan, karier, pendapatan, umur panjang dan kebiasaan sehari-hari.

Namun, hubungan statistik tersebut tidak dapat digunakan sebagai ramalan masa depan seseorang. Gen yang berkaitan dengan suatu kecenderungan tidak otomatis membuat seseorang pasti sakit, kaya, atau berhasil dalam karir tertentu.

Justru karena gen memiliki pengaruh, orang tua dan guru perlu mengucapkan kata-kata rendah hati. Mereka tidak menciptakan anak dari nol. Tetapi pengaruh lingkungan juga menunjukkan bahwa pendidikan tidak boleh menyerah pada kalimat, “Memang sudah dari sananya.”

Pendidikan Bukan Pabrik Anak Seragam

Tugas orang tua dan guru bukan membuat semua anak memiliki watak yang sama. Mereka perlu memahami kecenderungan masing-masing anak, mengembangkan kekuatan, sekaligus membantu mengelola hal-hal yang menghambat pertumbuhan.

Pendidikan bukan pabrik yang menghasilkan anak dengan karakter seragam. Pendidikan lebih menyerupai kebun yang memerlukan perlakuan berbeda untuk setiap tanaman.

Oleh karena itu, ketika seorang anak berbeda dari kakaknya atau seorang murid tidak cocok dengan metode belajar tertentu, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar mengapa dia tidak bisa seperti anak lain.

Pertanyaannya adalah: siapa sebenarnya anak tersebut dan lingkungan seperti apa yang membuatnya mampu bertumbuh?

Bisa jadi persoalannya bukan karena anak terlalu berbeda. Bisa jadi orang dewasa terlalu lama menganggap bahwa mendidik berarti membuat semua anak menjadi sama.

Cak AT - Ahmadie Thaha
Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 13/9/2026 .


BERITA TERKAIT