RBMM Bukan Sekadar Cerita Alam, Wahyu Wibowo Soroti Pencarian Jati Diri
peluncuran buku EXPA Ruang Belajar Menjadi Manusia: Perjalanan Pencinta Alam (RBMM) di Ruang Sasana Krida SMAN 8 Jakarta, Sabtu (12/9/2026).(poto/ist)
JAKARTA, Satuju.com - Ruang Belajar Menjadi Manusia atau RBMM tidak berhenti sebagai catatan perjalanan pencinta alam. Buku karya Endang Mariani dan kawan-kawan itu justru membuka ruang refleksi tentang manusia, alam, pengalaman, dan pencarian jati diri.
Pandangan tersebut disampaikan Prof. Dr. Wahyu Wibowo, sastrawan, penyair, jurnalis senior sekaligus pengajar Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional (Unas) Jakarta, saat menjadi penanggap dalam peluncuran buku EXPA Ruang Belajar Menjadi Manusia: Perjalanan Pencinta Alam (RBMM) di Ruang Sasana Krida SMAN 8 Jakarta, Sabtu (12/9/2026).
Buku yang diterbitkan Prenada, Jakarta, 2026 itu memuat tulisan dari 27 penulis. Menurut Wahyu, kekuatan buku tersebut justru terletak pada cara para penulis menghadirkan pengalaman mereka ketika berinteraksi dengan alam, bukan melalui pendekatan ilmiah yang kaku.
"Berkaitan dengan Krakatau ini, saya jadi teringat dan tidak sanggup mencerna, ketika seorang anggota Expa, yaitu KKO (Smandel 80) sempat bercerita pernah mendaki Krakatau (1984), sebanyak tujuh kali, dalam rangka membantu tugas Bakosurtanal," kata Prof.Dr.Wahyu wibowo, Sastrawan, Penyair, Jurnalis Senior yang juga Pengajar Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional (Unas-Jakarta).
Wahyu mengaku sempat menunda membaca buku tersebut. Namun, janji untuk membedah RBMM membuatnya akhirnya menanggalkan rasa malas dan mulai menyelami tulisan para kontributornya.
"Mentari sejak pagi itu, pun, ogah petentengan. Selepas subuhan, saya juga ogah petentengan dan lebih memilih kruntelan bersama sarung.Namun, menengok buku tadi, akhirnya sarung pun saya pelorotkan. Janji kepada Mbak Endang Mariani, untuk membahas buku tersebut, mesti saya tunaikan (meski mesti memelorotkan sarung). Lalu, saya mulai asyik membaca," katanya lagi.
Alam sebagai Jalan Memahami Manusia
Wahyu mencatat kecenderungan filosofis dalam sejumlah tulisan di RBMM. Para penulis, kata dia, banyak membawa pembaca pada pertanyaan mendasar tentang manusia: siapa dirinya, bagaimana ia memaknai kehidupan, dan apa yang dapat dipelajari dari alam.
Ia mengaitkan refleksi tersebut dengan sejarah filsafat manusia. Sejak Thales pada abad ke-6 sebelum Masehi hingga perdebatan Protagoras dan Socrates di Athena, pertanyaan mengenai manusia dan dunia terus berkembang.
Protagoras, misalnya, memandang manusia sebagai ukuran segala sesuatu. Socrates justru menentang pandangan tersebut dengan memperjuangkan nilai-nilai objektif yang dianggap baik. Perdebatan semacam itu menunjukkan bahwa pertanyaan mengenai manusia tidak pernah benar-benar selesai.
Menurut Wahyu, pertanyaan tersebut tetap relevan pada abad ke-21, termasuk ketika masyarakat menghadapi era post-truth, saat fakta objektif kerap kehilangan pengaruh dalam membentuk opini publik.
Di tengah kondisi itu, 27 penulis RBMM justru kembali kepada refleksi personal. Mereka menggunakan pengalaman perjalanan, aktivitas organisasi pencinta alam, dan hubungan dengan lingkungan sebagai bahan untuk mencari makna tentang diri mereka sendiri.
Bukan Buku Ilmiah, Melainkan Persepsi Pengalaman
Wahyu menilai RBMM menarik karena tidak mencoba tampil sebagai buku ilmiah. Para penulis tidak menyajikan alam melalui teori yang kaku, melainkan melalui pengalaman dan persepsi masing-masing.
Karena itu, pembaca tidak harus menerima pengalaman para penulis sebagai satu-satunya kebenaran. Pembaca justru diberi ruang untuk menafsirkan kembali pengalaman tersebut berdasarkan kehidupannya sendiri.
"Adakah yang salah “belajar” dari sepenggal persepsi? Karena bahasa “diciptakan” untuk kemudian direkonstruksikan kembali, maka tidak ada yang salah."
Ia bahkan meminta pembaca menghargai 27 penulis RBMM karena telah memberikan bahan bagi pembaca untuk membangun tafsirnya sendiri.
"Malah, berterima kasihlah kepada ke-27 penulisnya itu, karena melalui persepsi mereka itu para pembacanya bebas-merdeka menafsirkan dan kemudian mengonstruksikannya kembali untuk kepentingan tiap-tiap pembacanya."
Salah satu contoh yang disorot Wahyu ialah tulisan Endang Mariani berjudul "Jejak Sejarah Puapala dan Expa". Dalam tulisan tersebut, Endang merekonstruksi gagasan Leonardo da Vinci mengenai alam sebagai guru terbaik melalui pengalaman dan persepsinya sendiri.
Bagi Wahyu, proses itu menunjukkan bahwa pengalaman manusia terhadap alam selalu bergerak mengikuti ruang, waktu, dan kebudayaan.
Pandangan tersebut juga terlihat dalam falsafah masyarakat Minangkabau melalui ungkapan "alam takambang jadi guru". Sementara dalam nilai-nilai Jawa terdapat ungkapan "alam iki sejatining guru" yang menempatkan alam sebagai guru sejati.
Dengan demikian, alam dalam RBMM bukan sekadar latar perjalanan. Alam menjadi medium bagi para penulis untuk membaca kehidupan dan memahami manusia.
RBMM dan Pertanyaan "Siapa Gue"
Wahyu melihat pencarian identitas sebagai benang merah penting dalam buku tersebut. Pengalaman 27 penulis tidak hanya berhenti pada cerita tentang kegiatan pencinta alam, tetapi bergerak menuju pertanyaan yang lebih personal: siapa manusia dan bagaimana ia menjadi manusia.
Dari sini, judul kecil Ruang Belajar Menjadi Manusia mendapatkan relevansinya. Buku tersebut seolah mengajak pembaca belajar dari alam melalui pengalaman orang lain, kemudian mengolahnya menjadi pemahaman pribadi.
Bagi Wahyu, pendekatan semacam ini membuat RBMM berbeda dari buku yang hanya mendokumentasikan perjalanan organisasi pencinta alam.
Pada bagian penutup, ia menyampaikan apresiasi kepada editor dan seluruh penulis yang terlibat dalam penerbitan RBMM.
"Catatan ketiga : pamunah sebagai penutup, demi rasa apresiasi yang tinggi, akan diucapkan tahniah kepada editor atas terbitnya RBMM ini."
"Juga, kepada ke-27 penulis yang telah menyumbangkan tulisannya dalam RBMM. Ne transieris sicut ventus."
Kontributor: Lasman Simanjuntak
