Bukan Sekadar Mendaki, EXPA Membukukan Cara Alam Membentuk Manusia
EXPA menerbitkan buku perdana yang merekam perjalanan pecinta alam sekaligus menggali bagaimana alam membentuk karakter dan manusia.(poto/ist)
JAKARTA, Satuju.com - Buku pecinta alam EXPA tidak berhenti pada cerita tentang gunung, tebing, sungai atau perjalanan di ruang terbuka. Melalui buku Ruang Belajar Menjadi Manusia: Perjalanan Pecinta Alam, pengalaman berada di alam justru ditempatkan sebagai proses panjang membentuk karakter manusia.
Buku perdana Perhimpunan Pencinta Alam dan Lingkungan EXPA itu diluncurkan di Ruang Sasana Krida SMAN 8 Jakarta, Sabtu (12/9/2026). Sebanyak 27 penulis terlibat dalam karya yang merekam sejarah, perjalanan dan dinamika komunitas pencinta alam tersebut.
Peluncurannya pun dibuat simbolis. Mock-up buku diturunkan dari wall climbing setinggi 15 meter oleh dua siswa SMAN 8 Jakarta yang tergabung dalam Putra-Putri Pencinta Alam (Puapala).
Dari ketinggian itu, EXPA seolah ingin memperlihatkan perubahan sebuah gagasan: sesuatu yang sebelumnya hanya menjadi wacana kini menjadi buku yang bisa dibaca dan diperdebatkan.
Sekitar 100 peserta kemudian mengikuti bedah buku. Mereka berasal dari berbagai generasi dan komunitas pencinta alam, termasuk MAPALA UI, Kerabat Pencinta Alam (KPA), Federasi Mountaineering Indonesia (FMI), Sispala DKI Jakarta, Forum Pendaki Jabodetabek, Big Adventure Indonesia, dan KAPA UI.
Sejumlah tokoh senior turut hadir, antara lain Don Hasman, Heryus Saputro, “Ciwo” Siswoyo Adi dan Krisna Purwana.
Alam yang Menguji Manusia
Buku ini menarik karena tidak semata-mata menjadikan aktivitas pencinta alam sebagai kumpulan kisah petualangan. Pengalaman di alam ditempatkan sebagai cara melihat manusia ketika berhadapan dengan keterbatasan, ketidakpastian, kerja sama dan lingkungan.
Alam menjadi semacam ruang ujian. Di sana seseorang tidak hanya belajar mencapai puncak, melewati jeram atau menaklukkan tebing. Ia juga belajar mengambil keputusan, mengendalikan diri dan bertanggung jawab terhadap orang lain serta lingkungan.
Salah satu penulis sekaligus editor buku, Endang Mariani, melihat penerbitan buku perdana ini sebagai pijakan untuk menghasilkan karya berikutnya.
"Buku perdana EXPA ini diharapkan dapat dilanjutkan dengan penerbitan seri buku tentang panduan teknis bagaimana cara melakukan kegiatan di alam. Karena banyak anggota EXPA yang memiliki prestasi dan keahlian seperti caving, rafting, wall climbing, rock climbing, hiking, mountaineering, dan lain sebagainya,” ujarnya.
Gagasan tersebut membuka kemungkinan agar pengalaman anggota EXPA tidak berhenti sebagai kenangan komunitas. Pengetahuan yang selama ini tersimpan dalam pengalaman para pegiat dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ketika Pendakian Berbicara tentang Karakter
Prof. Wahyu Wibowo, sastrawan, penyair, serta guru besar dan pengajar Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional, memberikan apresiasi terhadap buku tersebut. Ia melihatnya dari sisi filosofis dan fenomena post-truth.
Sementara Don Hasman menilai penerbitan buku tersebut memiliki arti tersendiri. Menurut dia, pengalaman para pegiat alam di lingkungan sekolah berhasil diubah menjadi dokumentasi yang dapat dibaca generasi lain.
"Saya bangga diundang dan bersyukur bahwa ternyata SMAN 8 para pegiat di alamnya itu mampu membuat terobosan yang sangat istimewa dan tekun secara konsisten sampai bisa menerbitkan buku. Semua pengalaman mereka yang mereka lakukan selama di Puapala itu dibukukan. Sepengetahuan saya, ini buku pertama yang diterbitkan oleh komunitas pencinta alam sebuah sekolah (SMA). Mudah-mudahan bisa menjadi pegangan para pegiat di alam lainnya. Buku ini ditulis oleh orang-orang hebat," ujar Don usai acara bedah buku ruang belajar menjadi manusia.
Pandangan serupa disampaikan Umar Freudo dari Federasi Mountaineering Indonesia DKI Jakarta. Ia melihat kekuatan buku tersebut justru terletak pada upaya menghubungkan kegiatan pendakian dengan pembentukan karakter.
“Buku ini bagus banget karena memang enggak banyak yang bicara buku tentang mountaineering, pendakian dikaitkan dengan pengembangan karakter. Alam itu ruang belajar paling jujur. Alam itu ruang Prabahasa, tempat kita belajar sebelum sempat dibentuk oleh kata-kata orang lain. Pantai itu menyenangkan, gunung itu menenangkan. Nah, buku ini saya lihat arahnya ke situ. Judulnya Ruang Belajar Menjadi Manusia, artinya manusia itu belajar mencari ketenangan dengan tenang dia bisa berpikir jernih, berprilaku dengan baik. Temen-temen wajib baca, beli, karena buku-buku ini berbeda dari yang pernah saya baca,” kata Umar.
Dari Puapala ke Kehidupan Setelah Sekolah
Yang juga menarik dari perjalanan EXPA adalah ikatan yang tidak selesai ketika anggotanya meninggalkan bangku sekolah.
Pengalaman berkegiatan di alam membawa nilai yang terus melekat. Persahabatan, kepedulian terhadap lingkungan, keberanian mengambil keputusan dan kemampuan bekerja dalam kelompok menjadi bagian dari bekal yang dibawa para anggota setelah lulus.
Karena itu, buku Ruang Belajar Menjadi Manusia tidak hanya berbicara tentang masa lalu EXPA. Ia juga menjadi upaya membaca kembali pengaruh kegiatan alam terhadap kehidupan para anggotanya.
Ketua EXPA Darius Krisdanu berharap buku tersebut tidak sekadar menjadi arsip perjalanan organisasi. Ia ingin buku itu berkembang menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi bagi pencinta alam lintas generasi.
Tim redaksi buku terdiri atas Didot Mpu Diantoro, Endang Mariani, Raditya Padmawangaa, Sulistya Pribadi dan Suradi.
Dengan demikian, EXPA tidak hanya membukukan perjalanan. Mereka sedang membukukan sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang sebenarnya dipelajari manusia ketika ia keluar dari ruang yang nyaman dan berhadapan langsung dengan alam?
Bagi EXPA, jawabannya tidak berhenti pada kemampuan mendaki atau bertahan di alam terbuka. Pengalaman itu menjadi bagian dari proses belajar memahami diri, orang lain dan lingkungan.
Alam akhirnya tidak ditempatkan hanya sebagai tujuan perjalanan. Ia menjadi guru yang tidak banyak berbicara, tetapi memaksa manusia belajar melalui pengalaman.
Kontributor: Lasman Simanjuntak
