Rahmadi Wibowo: Kebahagiaan dalam Islam Berakar pada Ketenangan Hati dan Kedekatan kepada Allah
Ilustrasi seseorang dengan ketenangan hati.(poto/net)
Yogyakarta, Satuju.com — Kebahagiaan dalam perspektif Islam tidak semata-mata diukur dari banyaknya kenikmatan duniawi yang dapat dirasakan. Kebahagiaan yang hakiki justru tercakup pada ketenangan jiwa, ketenteraman hati, kelapangan dada, serta kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT.
Hal tersebut disampaikan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo, dalam kajian di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ahad (13/9/2026).
Dalam kajian tersebut, Rahmadi mengajak jamaah memahami konsep kebahagiaan yang dalam bahasa Arab yang dikenal dengan istilah sa'adah. Ia menjelaskan, Nabi Muhammad SAW dalam sejumlah hadis menyebut beberapa hal yang menjadi tanda kebahagiaan seseorang, di antaranya memiliki tetangga yang baik, kendaraan yang nyaman, rumah yang luas, serta dalam riwayat lain disebutkan pasangan yang saleh atau salihah.
Menurut Rahmadi, hal-hal tersebut memang dapat menjadi bagian dari kebahagiaan dalam kehidupan dunia. Namun, masyarakat perlu membedakan antara kebahagiaan dan kenikmatan.
“Kebahagiaan itu tempatnya di dalam hati,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kenikmatan lebih berkaitan dengan sesuatu yang diterima dan dirasakan melalui pancaindra. Mata dapat menikmati keindahan, lidah merasakan makanan, hidung menikmati aroma, sedangkan kulit merasakan sentuhan.
Berbeda dengan kenikmatan fisik yang cenderung berlangsung sementara, kebahagiaan berada di wilayah batin dan dapat bertahan lebih lama.
“Kalau kebahagiaan pada umumnya dirasakan di dalam diri batin itu panjang lama,” jelasnya.
Ketenangan Jiwa dan Kedekatan kepada Allah
Rahmadi kemudian menjelaskan bahwa sa’adah dapat dimaknai sebagai ketenangan jiwa, ketenteraman hati, dan kelapangan dada.
“Assa’adah hiya sakinatun nafsi. Ketenangan jiwa itu bahagia,” katanya.
Ia melanjutkan, kebahagiaan juga berkaitan dengan tuma’ninah al-qalbi atau ketenteraman hati serta syirah al-shadr, yakni kelapangan dada.
Menurut Rahmadi, kondisi tersebut tidak hadir begitu saja. Kebahagiaan lahir dari konsistensi dalam berbuat baik atau istiqamah al-suluk serta kedekatan kepada Allah.
“Jadi berbuat baik. Dan adanya kedekatan kepada Allah,” tuturnya.
Rahmadi juga mengaitkan kebahagiaan dengan sikap optimistis dalam menjalani kehidupan. Ia mengutip firman Allah tentang orang-orang yang tidak merasa takut dan tidak bersedih, yang menunjukkan pentingnya membangun harapan kepada Allah.
Menurutnya, rasa takut umumnya berkaitan dengan sesuatu yang belum terjadi, sementara kesedihan berkaitan dengan sesuatu yang telah berlalu. Karena itu, seorang Muslim perlu menjadikan iman sebagai pijakan untuk menghadapi masa depan.
“Orang kalau bahagia masa depannya itu ndak perlu dirisaukan. Karena agama Islam itu agama yang menuntunkan untuk terus memiliki harapan baik,” ungkapnya.
Rahmadi menyebut harapan terbesar seorang Muslim adalah memperoleh ampunan dan surga Allah. Keyakinan tersebut menjadi salah satu alasan untuk terus menjalani kehidupan dengan optimistis dan tidak terjebak dalam keputusasaan.
“Kalau sudah diampuni, sudah dimaafkan semua kesalahan-kesalahan, ndak perlu takut,” katanya.
Optimisme tersebut, lanjutnya, juga harus diwujudkan melalui ikhtiar. Ketika sakit, misalnya, seorang Muslim tetap dianjurkan berobat dan berusaha mempertahankan kehidupan. Sikap menyerah dan putus asa tidak sejalan dengan semangat untuk terus berharap kepada Allah.
Kelapangan Dada Mendorong Seseorang Berbuat Baik
Selain ketenangan jiwa, kebahagiaan juga tercermin melalui kelapangan dada. Rahmadi menggambarkannya dengan istilah Jawa atine segoro, yakni hati yang luas dan dalam seperti samudra.
“Hati yang seperti samudra satu ya, dia itu menerima kebenaran, mudah memaafkan karena hatinya luas,” ujarnya.
Menurutnya, orang yang memiliki kelapangan dada akan lebih mudah menerima kebenaran sekaligus memaafkan kesalahan orang lain.
Rahmadi mencontohkan keluasan hati Nabi Muhammad SAW ketika menghadapi perlakuan buruk dari orang lain. Meski disakiti, Nabi tetap menunjukkan sikap pemaaf dan bahkan mendoakan orang yang menyakitinya.
Ia juga menceritakan pengalaman seorang gurunya yang memiliki anak dengan latar belakang agama berbeda. Anak tersebut memilih memeluk Islam dan kemudian diusir oleh ayahnya. Namun, meski mendapat perlakuan tersebut, sang anak tetap mendatangi dan membantu ayahnya.
Ketika ditanya mengapa masih datang setelah diusir, anak itu menjelaskan bahwa ajaran Islam tetap memerintahkannya berbuat baik kepada orang tua meskipun terdapat perbedaan agama.
Sikap tersebut kemudian menjadi titik balik bagi sang ayah. Ia akhirnya meminta untuk diajari dan kemudian memeluk Islam.
“Jadi luas dada, ya itu memaafkan, efeknya dahsyat sekali,” tutur Rahmadi.
Perilaku Baik Menjadi Cermin Kebahagiaan
Rahmadi menegaskan, kondisi batin seseorang memiliki hubungan erat dengan perilakunya. Perbuatan baik dapat melahirkan kebahagiaan, sedangkan keburukan justru dapat menimbulkan kegelisahan dan kesempitan dalam hati.
“Jadi perilaku yang baik itu menyebabkan kebahagiaan,” katanya.
Ia juga mengutip hadis yang menggambarkan bahwa orang yang beriman akan merasa senang ketika berbuat baik dan merasa tidak nyaman ketika melakukan keburukan.
“Orang beriman tandanya berbuat baik senang, berbuat jahat susah,” ujarnya.
Oleh karena itu, kebahagiaan tidak cukup dicari melalui berbagai pencapaian duniawi. Salah satu jalan utama untuk memperoleh kebahagiaan adalah attaqarrub ilallah, yakni mendekatkan diri kepada Allah.
“Supaya bahagia itu dekat Allah,” kata Rahmadi.
Ia mengingatkan jamaah bahwa berbagai hal yang dekat dengan kehidupan dunia pada akhirnya akan berpisah dengan manusia. Rumah, kendaraan, harta, pasangan, anak, dan berbagai kenikmatan dunia lainnya akan ditinggalkan ketika seseorang meninggal dunia.
Sebaliknya, kedekatan kepada Allah menjadi orientasi yang mengantarkan manusia kepada kehidupan akhirat. Oleh karena itu, Rahmadi mengajak jamaah memperbanyak istigfar sebagai bagian dari ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memohon ampunan-Nya.
Menurutnya, ampunan Allah merupakan salah satu puncak harapan seorang muslim. Dengan harapan tersebut, seseorang dapat menjalani kehidupan dengan hati yang lebih tenang, optimistis, dan terus terdorong untuk berbuat baik.
