The Fed Naikkan Bunga, Bitcoin Malah Melawan Arus

Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian: The Fed menaikkan suku bunga ke 3,75%-4%. Bitcoin justru menguat ke US$76.000. INDODAX menyebut ekspektasi pasar jadi faktor penting.(poto/ist/satuju.com)

Jakarta, Satuju.comBitcoin tidak serta-merta tersungkur ketika The Fed menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat. Alih-alih melemah, harga aset kripto terbesar itu justru bergerak naik dari sekitar US$75.400 menuju US$76.000 setelah keputusan bank sentral AS diumumkan pada Kamis, 17 September 2026.

The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00% dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026. Keputusan tersebut menjadi kenaikan suku bunga pertama sejak 2023.

Respons Bitcoin itu memperlihatkan satu hal: kebijakan moneter tidak selalu diterjemahkan pasar kripto secara sederhana.

Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, mengatakan suku bunga memang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi aset kripto. Namun, harga Bitcoin juga bergerak mengikuti ekspektasi pasar, arus dana, sentimen, serta perkembangan khusus dalam industri kripto.

“Kebijakan suku bunga tetap menjadi faktor penting, tetapi bukan satu-satunya penggerak pasar kripto. Reaksi harga juga dipengaruhi oleh ekspektasi yang sudah terbentuk sebelumnya, arus dana, sentimen, serta perkembangan spesifik di industri kripto. Dalam kondisi ini, kenaikan suku bunga sudah banyak diantisipasi, sehingga sebagian dampaknya kemungkinan telah tercermin pada harga sebelum keputusan diumumkan,” jelasnya.

Pasar sebelumnya memang telah memperkirakan kenaikan suku bunga. Ketika keputusan akhirnya sesuai dengan perkiraan tersebut, tekanan tambahan terhadap harga tidak otomatis muncul.

Dengan kata lain, pasar bisa saja telah lebih dulu merespons kabar sebelum keputusan resmi keluar. Ketika ekspektasi menjadi kenyataan, pergerakan harga justru dapat bergerak berbeda dari anggapan awal.

Namun, kenaikan Bitcoin belum menghapus seluruh perhatian terhadap kebijakan moneter AS. Proyeksi terbaru menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir 2026.

Di sisi lain, The Fed menaikkan proyeksi inflasi 2026 menjadi 3,7% dari sebelumnya 3,6%. Proyeksi pertumbuhan ekonomi juga naik menjadi 2,3%.

Artinya, pertarungan pasar belum selesai pada satu keputusan FOMC. Inflasi, likuiditas, arus modal dan kebijakan berikutnya masih dapat mengubah arah pergerakan aset kripto.

Aloysia mengatakan investor perlu membaca penguatan Bitcoin pasca-FOMC secara lebih hati-hati. Kenaikan harga tidak otomatis berarti risiko pasar telah berakhir.

“Penguatan Bitcoin setelah FOMC perlu dilihat sebagai dinamika pasar yang lebih luas, bukan sebagai tanda bahwa seluruh risiko telah mereda. Investor tetap perlu mencermati arah inflasi, kebijakan The Fed berikutnya, arus dana institusional, dan kondisi likuiditas global,” tambahnya.

Selain faktor makroekonomi, pasar kripto memiliki sejumlah pemicu tersendiri. Arus dana ETF Bitcoin, perkembangan regulasi aset digital, perubahan sentimen dan posisi leverage dapat ikut menentukan arah harga.

Karena itu, respons Bitcoin terhadap keputusan The Fed kali ini menjadi pengingat bahwa pasar kripto tidak bergerak hanya berdasarkan satu indikator ekonomi.

INDODAX mengingatkan investor agar tidak menjadikan reaksi harga sesaat sebagai satu-satunya dasar transaksi. Profil risiko, disiplin pengelolaan posisi dan riset mandiri tetap menjadi bagian penting sebelum mengambil keputusan investasi.

Bagi pasar, satu pertanyaan kini masih terbuka: apakah penguatan Bitcoin setelah keputusan The Fed hanya respons terhadap kebijakan yang sudah diantisipasi, atau menjadi bagian dari dinamika pasar yang lebih panjang? Jawabannya akan bergantung pada data ekonomi dan kebijakan bank sentral AS berikutnya.


BERITA TERKAIT