Bagnaia Terpuruk di Misano, Dani Pedrosa Beri Saran untuk Bangkit
Francesco Bagnaia.(poto/net)
Jakarta, Satuju.com – Francesco Bagnaia mengalami akhir pekan yang sulit di MotoGP San Marino 2026. Tampil di Misano yang merupakan salah satu lintasan di kandangnya, pembalap Ducati tersebut justru kembali kesulitan menemukan performa terbaiknya.
Hasil di Misano semakin menambah panjang periode sulit yang dialami Bagnaia bersama Ducati. Padahal, sirkuit tersebut seharusnya menjadi salah satu tempat yang memberi peluang untuk kembali ke performa terbaik karena ia memiliki pengalaman dan catatan positif di lintasan itu.
Persoalan Bagnaia dengan motor Ducati bukan hal baru. Sejak beberapa musim terakhir, pembalap bernomor 63 tersebut beberapa kali mengeluhkan karakter motor yang tidak sepenuhnya sesuai dengan gaya balapnya.
Pada musim 2026, persoalan tersebut kembali mencuat setelah Bagnaia kesulitan mendapatkan ritme yang tepat dengan Desmosedici GP25. Ia menilai karakter motor tersebut telah berubah dibandingkan GP24 yang sebelumnya lebih sesuai dengan kebutuhannya.
Situasi Bagnaia semakin berat karena rekan setimnya, Marc Marquez, justru tampil dominan. Sementara itu, Alex Marquez yang membela Gresini Racing dengan menggunakan GP24 juga berhasil berada di atas Bagnaia dalam klasemen sementara.
Bagnaia bahkan secara terbuka mengakui bahwa GP24 merupakan motor yang sangat ia sukai. Motor tersebut dianggap memiliki karakter yang sesuai dengan gaya balapnya dan hingga kini masih menjadi referensi bagi pembalap asal Italia tersebut.
Padahal, awal musim 2026 sempat memberikan harapan. Bagnaia mampu tampil lebih kompetitif dan beberapa kali mendekati barisan depan. Ia juga meraih sejumlah podium secara beruntun dalam periode Austin hingga Brno, termasuk pada balapan sprint.
Di Republik Ceko, Bagnaia bahkan mampu meraih kemenangan pada balapan Sabtu dan kemudian finis di posisi ketiga pada balapan utama Minggu.
Namun, performanya kemudian menurun drastis setelah jeda musim panas. Bagnaia gagal menyelesaikan balapan utama di Silverstone dan Aragon. Dalam balapan sprint, ia hanya finis di posisi ke-17 di Inggris dan posisi ke-11 di MotorLand.
Keterpurukan tersebut berlanjut di Misano. Bagnaia mengatakan tidak ada satu pun aspek yang berjalan sesuai harapan sejak seri Inggris. Ia juga mengaku belum menemukan penyebab pasti dari penurunan performanya meski telah mencoba sejumlah pengaturan dan konfigurasi elektronik yang digunakan Marc Marquez.
Akhir pekan di San Marino pun menjadi salah satu titik terendah Bagnaia. Ia gagal menembus Q2 pada Jumat. Meski sempat menunjukkan perkembangan pada sesi latihan Sabtu, situasinya kembali memburuk ketika memasuki Q1.
Setiap kali mencoba meningkatkan kecepatan, Bagnaia justru mengalami sejumlah momen kritis di atas Desmosedici. Motornya beberapa kali terlihat hampir kehilangan kendali maupun melebar ketika memasuki tikungan.
Juara dunia tiga kali itu akhirnya hanya mampu menempati posisi ke-14 pada grid. Hasil tersebut menjadi salah satu catatan terburuknya ketika tampil di Misano.
Situasi Bagnaia turut mendapat perhatian dari Dani Pedrosa yang bertugas sebagai komentator DAZN. Mantan pembalap MotoGP asal Spanyol tersebut menilai Bagnaia perlu mengubah fokusnya untuk mengembalikan kepercayaan diri.
“Saya tahu apa yang akan saya katakan mungkin terdengar aneh karena kita berada di kejuaraan dunia dan hasil adalah hal yang paling utama, tetapi menurut saya Bagnaia perlu berhenti memikirkan soal hasil,” ujar Pedrosa.
Menurut Pedrosa, Bagnaia sebaiknya terlebih dahulu berkonsentrasi pada proses membalap dan secara bertahap membangun kembali performanya.
“Dia perlu fokus pada cara membalapnya, pada upaya mengembalikan performa balapnya secara bertahap,” katanya.
Pedrosa menjelaskan bahwa kemampuan seorang pembalap dapat kembali ketika rasa percaya diri dan feeling terhadap motor mulai terbentuk.
“Kemampuan membalap akan kembali seiring dengan kembalinya feeling atau rasa menyatu dengan motor. Itu sudah jelas,” ujarnya.
Ia menilai hilangnya kepercayaan diri dapat membuat pembalap semakin sulit tampil nyaman. Terlebih apabila pikiran terus terbebani oleh target hasil seperti posisi start, kegagalan masuk Q2 atau peluang naik podium.
“Saat kepercayaan diri hilang, Anda tidak bisa membalap dengan nyaman. Namun, ketika Anda terus-menerus memikirkan hasil seperti gagal masuk Q2, tidak start dari baris depan, atau tidak naik podium, Anda cenderung menilai segala hal lainnya secara negatif,” kata Pedrosa.
Pedrosa kemudian mendorong Bagnaia untuk melupakan tekanan terhadap hasil sementara waktu dan kembali membangun dasar kinerjanya. Menurutnya, fokus terhadap proses pembalap dapat menjadi langkah untuk mengembalikan rasa percaya diri dan hubungan yang lebih baik dengan motorik.
