Defisit Rp240 Triliun, Utang Baru Pemerintah Tembus Rp506 Triliun

Utang baru pemerintah mencapai Rp506 triliun hingga Agustus 2026, sementara defisit APBN tercatat Rp240,1 triliun.(poto/ist)

JAKARTA, Satuju.comUtang baru pemerintah 2026 mencapai Rp506 triliun hingga 31 Agustus. Angka tersebut setara 60,8 persen dari target pembiayaan utang dalam APBN 2026 sebesar Rp832,2 triliun. Pada periode yang sama, defisit APBN tercatat Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Realisasi pembiayaan utang tersebut terutama berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto sebesar Rp527,4 triliun. Nilainya telah mencapai sekitar 66 persen dari target SBN dalam APBN 2026 sebesar Rp799,5 triliun.

Sementara itu, pembiayaan melalui pinjaman mencatatkan angka negatif Rp21,4 triliun. Kombinasi tersebut menghasilkan pembiayaan utang neto sebesar Rp506 triliun hingga akhir Agustus.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan realisasi pembiayaan utang tersebut masih sesuai dengan rencana APBN.

"Jadi, dengan sudah Agustus, on track, ini on track. Nah, karena itu, sesuai dengan rencana APBN, dia on track, kita perhatikan terus ke depannya dan kita laporkan terus," kata Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Di sisi lain, defisit APBN hingga Agustus mencapai Rp240,1 triliun. Angka tersebut terbentuk dari pendapatan negara sekitar Rp2.055,6 triliun dan belanja negara Rp2.295,7 triliun. Defisit itu setara 0,93 persen dari PDB, masih di bawah target defisit APBN 2026 sebesar 2,68 persen dari PDB.

Pemerintah juga mencatat keseimbangan primer masih surplus Rp154 triliun. Sementara pembiayaan anggaran secara keseluruhan telah mencapai Rp473,5 triliun hingga akhir Agustus.

Namun, besarnya pembiayaan utang tetap menjadi bagian penting dalam membaca arah fiskal pemerintah. Penerbitan SBN berarti pemerintah memperoleh pembiayaan dari pasar dengan konsekuensi kewajiban pembayaran pokok dan imbal hasil sesuai ketentuan instrumennya.

Karena itu, angka Rp506 triliun bukan sekadar soal apakah realisasinya masih berada dalam jalur target APBN. Publik juga perlu melihat penggunaan pembiayaan tersebut, dampaknya terhadap belanja negara, biaya utang, serta kemampuan pemerintah menjaga keberlanjutan fiskal.

Dengan realisasi hingga Agustus yang sudah mencapai 60,8 persen dari target tahunan, perkembangan pembiayaan utang pada sisa tahun anggaran akan menjadi salah satu indikator penting dalam melihat posisi APBN 2026 hingga akhir tahun.


BERITA TERKAIT