Satu Abad Gontor: Dari Ponorogo, Jejak Pendidikan Mengalir ke Penjuru Negeri

Satu abad Gontor menandai perjalanan pendidikan pesantren dari Ponorogo yang melahirkan alumni, pesantren, dan jaringan pengabdian di berbagai daerah.(poto/ist/Ahmadie Thaha)

PONOROGO, Satuju.com -  Satu abad Gontor menandai perjalanan panjang sebuah pesantren yang tidak hanya bertahan melewati pergantian zaman, tetapi juga membangun model pendidikan yang jejaknya menyebar melalui alumni dan pesantren-pesantren yang mereka dirikan.

Pondok Modern Darussalam Gontor memasuki usia 100 tahun pada 20 September 2026. Puncak peringatan berlangsung pada 18–20 September dengan resepsi kesyukuran dan reuni akbar. Presiden Prabowo Subianto turut diundang dalam agenda puncak tersebut.

Persiapan peringatan satu abad berlangsung jauh sebelum acara utama. Berbagai kegiatan digelar, mulai dari Mahrajan Al-Qur'an, Olimpiade Kader Ulama Intelek, kompetisi marching band, olahraga, festival film dan musik santri, kejuaraan bahasa, turnamen alumni, tabligh akbar, pameran hingga sarasehan kiai pesantren nasional.

Rangkaian kegiatan itu memperlihatkan luasnya jaringan Gontor. Alumni yang tersebar di berbagai daerah ikut mengambil bagian melalui reuni dan kegiatan pendidikan maupun sosial.

Jejak tersebut tidak berhenti pada alumni. Sebagian lulusan Gontor mendirikan pesantren dan lembaga pendidikan baru. Dari pesantren alumni itu lahir generasi berikutnya yang kembali mendirikan lembaga pendidikan.

Pola tersebut membentuk jaringan pendidikan yang tumbuh melalui hubungan guru dan murid, metode pembelajaran, tradisi, kurikulum, organisasi serta keteladanan.

Nama lembaganya bisa berbeda, tetapi pengaruh sistem pendidikan Gontor tetap dapat ditemukan melalui pola asrama, disiplin bahasa, organisasi santri dan tata kelola pendidikan.

Berawal dari Gontor Lama

Secara resmi, Pondok Modern Darussalam Gontor berdiri pada 20 September 1926 atau bertepatan dengan 12 Rabiulawal 1345 dalam peringatan Maulid Nabi.

Akar sejarahnya bermula dari Gontor Lama yang didirikan Raden Muhammad Hadikusumo Sulaiman Jamaluddin. Tokoh yang dikenal sebagai Kyai Sulaiman itu merupakan santri Pondok Tegalsari sebelum kemudian mendirikan pesantren di kawasan hutan Desa Gontor.

Pesantren tersebut sempat mengalami kemunduran. Namun, generasi berikutnya menghidupkannya kembali.

Tiga cucu Kyai Sulaiman, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi, kemudian dikenal sebagai Trimurti. Ketiganya menjadi tokoh penting dalam membangun kembali Gontor dengan konsep pendidikan yang lebih terstruktur.

Para pendiri memandang pembaruan pesantren perlu dilakukan dari dalam tanpa menghilangkan karakter pesantren.

Mereka kemudian membuka Tarbiyatul Athfal. Sepuluh tahun berikutnya, pada 1936, mereka mendirikan Kulliyatu-l-Mu'allimin al-Islamiyah (KMI), lembaga pendidikan guru dengan masa belajar enam tahun.

Dari sistem tersebut, Gontor mengembangkan pendidikan berasrama, sistem klasikal, perpaduan ilmu agama dan pengetahuan umum serta penggunaan bahasa Arab dan Inggris dalam pembelajaran dan komunikasi sehari-hari.

Modernitas Gontor Bukan Sekadar Teknologi

Istilah "modern" dalam Pondok Modern Darussalam Gontor tidak semata-mata berkaitan dengan bangunan, pakaian atau teknologi. Modernitas Gontor lebih kuat terlihat pada sistem dan tata kelola pendidikannya.

Santri tidak hanya mengikuti pembelajaran di kelas. Mereka hidup dalam asrama, menjalankan organisasi, menjaga kebersihan, mengelola kegiatan dan belajar membangun kehidupan bersama.

Sistem tersebut membuat pendidikan berlangsung sepanjang aktivitas santri. Kurikulum tidak hanya hadir di ruang kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Gontor juga menempatkan ilmu agama dan pengetahuan umum dalam satu sistem pendidikan. Santri mempelajari agama sekaligus matematika, ilmu alam, ilmu sosial, bahasa dan berbagai pengetahuan umum.

Nilai kehidupan pondok dirangkum melalui Pancajiwa: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah dan kebebasan.

Sementara itu, istilah Trimurti digunakan untuk menyebut tiga tokoh pendiri Gontor, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi.

Belajar dari Banyak Tradisi Pendidikan

Sistem Gontor juga tidak dibangun dari satu sumber. Para pendirinya mempelajari berbagai lembaga pendidikan yang dinilai memiliki keunggulan dan relevan dengan cita-cita mereka.

Dalam penjelasan resmi Gontor, sintesis tersebut merujuk pada empat sumber, yakni Al-Azhar di Mesir, Aligarh di India, Syanggit di Mauritania dan Santiniketan di India.

Dari Al-Azhar, mereka melihat kesinambungan tradisi keilmuan Islam. Aligarh memberikan inspirasi mengenai perpaduan ilmu agama dan pengetahuan umum serta pembaruan umat.

Dari Syanggit, para pendiri mengambil teladan mengenai keikhlasan, kedermawanan dan pengabdian. Sementara Santiniketan yang didirikan Rabindranath Tagore memberikan inspirasi mengenai kesederhanaan, kedamaian dan suasana pendidikan yang dekat dengan kehidupan.

Gontor tidak sekadar menyalin sistem tersebut. Para pendirinya mengolah berbagai unsur itu dan memadukannya dengan tradisi pesantren Indonesia.

Hasilnya menjadi model pendidikan yang memiliki identitas sendiri.

Dari Sistem Pesantren ke Pengakuan Negara

Perjalanan panjang Gontor kemudian bersinggungan dengan perkembangan sistem pendidikan nasional.

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren memasukkan Pendidikan Muadalah sebagai salah satu bentuk pendidikan formal pesantren.

Regulasi tersebut juga mengenal Dirasah Islamiah dengan Pola Pendidikan Muallimin. Kurikulum Pendidikan Muadalah mencakup kurikulum pesantren dan kurikulum pendidikan umum.

Gontor bukan satu-satunya lembaga yang membentuk perkembangan pendidikan pesantren di Indonesia. Pesantren memiliki sejarah panjang dengan sistem dan karakter yang beragam.

Namun, Gontor menjadi salah satu contoh model pendidikan muallimin yang terstruktur, berjenjang dan berbasis asrama, sekaligus memadukan ilmu agama dengan pengetahuan umum.

Perjalanan itu menunjukkan bagaimana gagasan pendidikan yang berkembang di lingkungan pesantren akhirnya mendapatkan ruang dalam sistem hukum pendidikan nasional.

Satu Abad dan Tantangan Masa Depan

Peringatan satu abad Gontor tidak hanya menjadi momentum untuk melihat perjalanan masa lalu. Usia 100 tahun juga menghadirkan pertanyaan mengenai masa depan pendidikan pesantren.

Jaringan alumni yang luas menghadapi tantangan baru, mulai dari kecerdasan buatan, perubahan dunia kerja, krisis lingkungan, ketimpangan sosial hingga perubahan perilaku masyarakat di era digital.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana tradisi keilmuan Islam terus berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan kedalaman nilai dan karakter pendidikan pesantren.

Selama satu abad, Gontor telah melewati perubahan negara, pergolakan zaman, pergantian rezim hingga revolusi teknologi.

Jika dihitung sejak 20 September 1926 hingga 20 September 2026, perjalanan itu mencapai 36.525 hari atau 876.600 jam.

Namun, perjalanan pendidikan tentu tidak cukup diukur melalui waktu. Di dalamnya terdapat pengabdian guru, perjuangan santri, dukungan masyarakat, pengorbanan keluarga dan kontribusi alumni.

Dari satu titik di Ponorogo, jaringan pendidikan Gontor berkembang melalui alumni yang menjadi ulama, guru, dosen, profesor, birokrat, pengusaha, politisi, wartawan, diplomat, pengasuh pesantren dan pemimpin masyarakat.

Karena itu, satu abad Gontor bukan sekadar perayaan angka. Momentum tersebut menjadi penanda perjalanan sebuah model pendidikan yang terus mencari bentuk untuk menjawab perubahan zaman.

Dari Ponorogo, gagasan pendidikan itu telah mengalir ke berbagai daerah. Tantangan berikutnya adalah memastikan aliran tersebut tetap memberi manfaat bagi generasi yang akan datang.

Cak AT – Ahmadie Thaha
Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 19 September 2026.


BERITA TERKAIT