Imbas Perang Timur Tengah, Arab Saudi Batalkan Pengiriman Minyak ke Kilang Eropa
Arab Saudi Batalkan Pengiriman Minyak ke Kilang Eropa
Jakarta, Satuju.com - Arab Saudi membatalkan alokasi pengiriman minyak mentah untuk sejumlah pelanggan kilang di Eropa pada Oktober 2026. Keputusan tersebut dilakukan di tengah meningkatkan dampak konflik di Timur Tengah terhadap pasar energi global.
Setidaknya dua pelanggan kilang di Eropa telah mengetahui bahwa mereka tidak akan menerima alokasi minyak mentah Arab Saudi pada bulan depan. Pengiriman tersebut sebelumnya dilakukan berdasarkan kontrak jangka panjang yang menjamin pasokan bulanan.
Dalam kondisi luar biasa, perusahaan energi dapat membatalkan pengiriman berdasarkan ketentuan force majeure. Situasi serupa sebelumnya terjadi di Qatar yang memperpanjang status force majeure untuk pengiriman gas alam cair hingga awal November akibat blokade maritim di Selat Hormuz.
Arab Saudi sebenarnya memiliki jalur alternatif untuk mengekspor minyak melalui East-West Pipeline atau Pipa Timur-Barat. Infrastruktur tersebut menghubungkan wilayah Teluk dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah sehingga memungkinkan Arab Saudi mengurangi ketergantungan terhadap jalur Selat Hormuz.
Pipa tersebut sebelumnya digunakan untuk menyalurkan sekitar dua pertiga volume ekspor minyak Arab Saudi, atau sekitar 4 juta barel per hari. Namun, jalur tersebut ikut menimbulkan konflik setelah sebuah serangan pesawat nirawak melumpuhkan pipa tersebut pada pekan sebelumnya.
Pemerintah Arab Saudi menyebut serangan itu berasal dari Irak, yang menjadi dasar sejumlah kelompok milisi yang memiliki hubungan dengan Iran.
Di sisi lain, kelompok Houthi juga berhak bertanggung jawab atas serangan terhadap Pelabuhan Yanbu dan sejumlah fasilitas minyak milik Saudi Aramco. Konflik tersebut juga memberikan tekanan terhadap harga minyak dunia.
Harga minyak Brent sebagai acuan internasional tercatat berada di sekitar USD103 per barel pada hari Jumat. Namun, sejumlah analis energi menilai harga tersebut belum sepenuhnya mencerminkan tingginya biaya fisik untuk memperoleh minyak mentah.
Harga produk olahan minyak, termasuk solar dan bahan bakar pesawat, bahkan tercatat lebih tinggi. Di Amerika Serikat, harga tenaga surya meningkat 7,7 persen dalam sepekan terakhir meskipun negara tersebut relatif terlindungi dari dampak konflik langsung karena memiliki produksi energi domestik.
Arab Saudi juga mulai mengalihkan sebagian rute pengiriman minyak melalui jalur Suez-Mediterania setelah Houthi menyatakan embargo terhadap pelayaran yang terkait dengan kerajaan tersebut.
Konflik antara Arab Saudi dan Houthi sendiri telah berlangsung selama bertahun-tahun. Arab Saudi sebelumnya memimpin memimpin negara-negara Arab dalam konflik di Yaman setelah Houthi menguasai wilayah luas di bagian barat laut negara tersebut.
Pada tahun 2022, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan Houthi. Setelah itu, Arab Saudi berupaya mengurangi keterlibatannya dalam konflik.
Namun, blokade udara dan laut terhadap sejumlah pelabuhan serta bandara yang dikuasai Houthi masih menjadi persoalan. Houthi menyatakan pencabutan blokade tersebut menjadi salah satu syarat untuk mengakhiri embargo terhadap pelayaran Arab Saudi.
Perkembangan tersebut menunjukkan bagaimana gangguan terhadap jalur transportasi dan fasilitas energi di kawasan Timur Tengah dapat mempengaruhi pasokan minyak serta harga produk energi di berbagai wilayah.
