Tak Ada Cara Instan Netralisir Kolesterol Usai Makan Santan dan Seafood
Ilustrasi kolesterol.(poto/net)
Pekanbaru, Satuju.com — Mengonsumsi makanan bersantan dan seafood kerap menjadi bagian dari menu keluarga. Namun, setelah menyantap hidangan tersebut, sebagian orang khawatir kadar kolesterol dalam tubuh ikut meningkat.
Sebenarnya, tidak ada makanan atau minuman tertentu yang bisa menghapus atau menetralkan kolesterol secara instan setelah makan. Upaya menjaga kadar kolesterol lebih berkaitan dengan pola makan dan kebiasaan hidup yang dilakukan secara konsisten.
Santan, misalnya, mengandung lemak jenuh. Jika dikonsumsi terlalu banyak dan terlalu sering, asupan tersebut dapat berkontribusi terhadap peningkatan kadar LDL atau kolesterol jahat.
Sementara itu, seafood memiliki kandungan yang berbeda-beda. Ikan dapat menjadi sumber protein dan lemak tidak jenuh, sedangkan udang dan kepiting mengandung kolesterol makanan. Namun kandungan lemak jenuhnya relatif rendah apabila tidak diolah dengan cara digoreng atau menggunakan banyak tambahan lemak.
Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya jenis makanan, tetapi juga porsi, cara pengolahan, serta pola makan secara keseluruhan. Satu kali makan santan atau seafood tidak otomatis membuat kadar kolesterol darah melonjak dan tidak dapat diatasi hanya dengan satu jenis makanan.
Untuk membantu menjaga kolesterol tetap sehat, ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan setelah menyantap makanan tinggi lemak.
Pertama, tetap penuhi kebutuhan cairan dengan minum air putih. Air putih membantu menjaga hidrasi, tetapi bukan minuman yang dapat melarutkan atau menghilangkan Kolesterol dari pembuluh darah.
Kedua, tetap aktif bergerak. Jalan kaki ringan dapat menjadi pilihan daripada langsung berbaring setelah makan. Meski begitu, aktivitas tersebut tidak berarti dapat langsung membakar atau menetralkan lemak dari makanan yang baru dikonsumsi.
Ketiga, hindari menumpuk makanan tinggi lemak pada waktu makan berikutnya. Jika sebelumnya sudah mengonsumsi makanan bersantan, menu selanjutnya dapat diperbanyak sayuran, protein rendah lemak, dan sumber karbohidrat yang kaya serat.
Keempat, perbanyak makanan berserat. Serat larut yang terdapat dalam oat, kacang-kacangan, buah, dan sejumlah sayuran dapat membantu mengurangi penyerapan kolesterol di saluran pencernaan.
Selain itu, pilih sumber protein yang tidak tinggi lemak jenuh. Ikan yang dikukus, dipanggang atau dibakar, ayam tanpa kulit, tahu, tempe, serta kacang-kacangan dapat menjadi pilihan. Cara pengolahannya juga perlu diperhatikan karena makanan yang digoreng dengan banyak minyak dapat meningkatkan asupan kalori dan lemak.
Konsumsi gorengan dan makanan bersantan juga sebaiknya dibatasi. Jika dalam satu waktu sudah menyantap rendang, opor, gulai atau seafood dengan kuah santan, menu berikutnya dapat dibuat lebih sederhana dengan memperbanyak sayur dan buah.
Pada akhirnya, kadar kolesterol tidak ditentukan oleh satu kali makan. Pola makan sehari-hari, aktivitas fisik, berat badan, faktor genetik, serta kondisi kesehatan tertentu juga turut mempengaruhinya.
Pemeriksaan Kolesterol secara berkala juga penting karena Kolesterol tinggi sering kali tidak menimbulkan gejala khas. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kadar kolesterol tinggi, penanganannya sebaiknya tidak hanya mengandalkan makanan atau minuman yang dianggap mampu menurunkan kolesterol secara cepat.
Oleh karena itu, tidak perlu panik setelah menikmati makanan bersantan atau seafood. Yang lebih penting adalah kembali menerapkan pola makan seimbang, memperbanyak serat, memilih protein rendah lemak, membatasi gorengan dan santan, serta rutin melakukan aktivitas fisik.
Bagi orang yang memiliki kolesterol tinggi atau faktor risiko tertentu, penyesuaian pola makan sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter atau ahli gizi.
