Bitcoin Tembus US$87.000, Dana Institusional Mulai Menguat

Harga Bitcoin hari ini sempat menembus US$87.000. Arus dana institusional dan sentimen pasar menjadi pendorong penguatan BTC.(poto/ist/satuju.cim)

JAKARTA, Satuju.com — Harga Bitcoin hari ini kembali mencuri perhatian setelah aset kripto terbesar tersebut sempat menembus US$87.000 pada perdagangan awal pekan. Data CoinMarketCap mencatat Bitcoin mencapai sekitar US$87.200 sebelum bergerak di kisaran US$85.000–US$86.000 pada Selasa (22/9).

Penguatan tersebut terjadi ketika arus dana institusional kembali masuk ke pasar kripto. Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, menyebut pergerakan Bitcoin kali ini terbentuk dari sejumlah sentimen yang bergerak bersamaan.

“Pergerakan Bitcoin kali ini tidak hanya didorong oleh satu faktor. Minat investor institusional kembali menguat, serta sentimen terhadap aset digital juga membaik. Selain itu, perkembangan regulasi di Amerika Serikat turut memperbaiki sentimen terhadap ekosistem aset digital secara lebih luas dan turut mendorong harga Bitcoin,” ujarnya.

Dana Institusional Mengalir ke Bitcoin

Data SoSoValue menunjukkan ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat net inflow sekitar US$1,591 miliar sepanjang 17–21 September.

Arus tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya minat investor institusional terhadap Bitcoin. Sentimen serupa terlihat dari Strategy yang membeli 950 BTC senilai sekitar US$75,7 juta pada periode 14–20 September.

Dengan pembelian itu, total kepemilikan Bitcoin Strategy mencapai sekitar 846.000 BTC dengan nilai sekitar US$63,8 miliar.

Regulasi AS Ikut Menopang Sentimen

Selain aliran modal, perkembangan kebijakan aset digital di Amerika Serikat turut menjadi perhatian pasar.

Securities and Exchange Commission (SEC) menerbitkan kebijakan sementara yang memberikan ruang lebih luas bagi perdagangan saham yang ditokenisasi melalui teknologi blockchain.

Kebijakan tersebut tidak secara langsung berkaitan dengan Bitcoin. Namun, perkembangan itu memperkuat persepsi bahwa teknologi blockchain semakin mendapat ruang dalam sistem keuangan tradisional.

Dari sisi makroekonomi, penurunan harga minyak juga berpotensi meredakan tekanan inflasi. Kondisi tersebut dapat mendukung selera risiko investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.

Investor Diminta Tak Terjebak FOMO

Meski harga bergerak menguat, investor tetap menghadapi risiko volatilitas pasar kripto yang tinggi. Dinamika ekonomi global dan arah kebijakan suku bunga masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi pergerakan aset digital.

Aloysia mengatakan kenaikan harga Bitcoin seharusnya menjadi momentum bagi investor untuk memahami kondisi pasar, bukan sekadar mengejar kenaikan harga.

“Saat harga Bitcoin bergerak positif, investor sebaiknya tidak hanya melihat momentumnya, tetapi juga memahami konteks di balik pergerakan tersebut. Tetap lakukan riset mandiri dan tidak mengambil keputusan hanya karena harga sedang naik atau karena Fear of Missing Out (FOMO),” tambahnya.

INDODAX juga mengingatkan investor dan trader agar tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan pergerakan harga jangka pendek.

Penguatan yang tajam tetap dapat disertai volatilitas tinggi. Karena itu, investor perlu memahami manajemen risiko, mengelola posisi secara disiplin, serta melakukan Do Your Own Research (DYOR) sebelum bertransaksi.


BERITA TERKAIT