Khutbah Jumat Ingatkan Umat: Setetes Air Dapat Menghidupi Seribu Kehidupan
Ilustrasi embun pagi.(poto/net)
Jakarta, Satuju.com — Umat Islam diajak meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta mensyukuri berbagai nikmat yang diberikan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu nikmat yang kerap dianggap biasa, namun memiliki peran sangat besar bagi keberlangsungan kehidupan, adalah air.
Pesan tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat yang mengangkat pentingnya menjaga dan menggunakan air secara bijaksana, terutama di tengah kondisi kemarau dan ancaman kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.
Dalam khutbah tersebut disampaikan bahwa manusia sering kali baru menyadari betapa berharganya air ketika ketersediaannya mulai terbatas. Ketika tanah mengering, hujan tidak kunjung turun, sumur menyusut, tanaman kekurangan air, dan masyarakat harus menempuh jarak lebih jauh untuk mendapatkan air bersih, nilai air kembali terasa begitu penting.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Anbiya ayat 30 bahwa segala sesuatu yang hidup dijadikan dari air.
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa air bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan bagian fundamental dari kehidupan. Manusia, hewan, tumbuhan hingga tanah bergantung pada keberadaan air.
"Karena itulah, setetes air dapat menghidupi seribu kehidupan," demikian pesan yang disampaikan dalam khutbah.
Perhatian terhadap kelestarian air dinilai semakin penting menyusul kondisi cuaca yang terjadi di Indonesia. Dalam khutbah disebutkan bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 22 September 2026 menyatakan fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat sedang terjadi.
Kondisi tersebut, bersama dinamika atmosfer lainnya, disebut berkontribusi terhadap periode kering yang lebih panjang di sejumlah wilayah serta potensi mundurnya awal musim hujan.
Kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan cuaca, tetapi juga menyentuh kehidupan masyarakat. Sawah membutuhkan air, petani menunggu hujan, keluarga memerlukan air bersih, sementara hewan dan tumbuhan juga bergantung pada ketersediaan sumber air.
Karena itu, umat diajak tidak hanya menyadari pentingnya air ketika kekeringan terjadi, tetapi juga menghargai dan menjaganya selama masih tersedia.
Air dalam Perspektif Fikih
Khutbah tersebut juga mengangkat pandangan Muhammadiyah melalui Fikih Air yang dihasilkan dalam Musyawarah Nasional Tarjih 2014.
Dalam perspektif tersebut, pembahasan mengenai air tidak hanya berkaitan dengan status kesucian air dan penggunaannya untuk berwudu. Persoalan air juga mencakup cara penggunaan, distribusi, kelestarian, hingga keadilan dalam memperoleh air bersih.
Fikih Air menempatkan nilai tauhid, rasa syukur, keadilan, keseimbangan, kepedulian terhadap lingkungan, serta larangan pemborosan sebagai bagian penting dalam hubungan manusia dengan air.
Dengan demikian, menjaga air tidak hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan iman dan akhlak.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-A'raf ayat 31:
"Makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan."
Pesan tersebut dinilai relevan dalam kehidupan sehari-hari. Membiarkan keran terbuka setelah digunakan, mengabaikan kebocoran atau menggunakan air secara berlebihan mungkin terlihat sebagai persoalan kecil. Namun, apabila dilakukan secara terus-menerus oleh banyak orang, jumlah air yang terbuang dapat menjadi sangat besar.
Menghemat air karena itu tidak semata-mata berkaitan dengan penghematan biaya, tetapi juga menjadi bagian dari akhlak dalam memperlakukan nikmat Allah SWT.
Bahkan dalam menjalankan ibadah, umat Islam diajarkan untuk tidak menggunakan air secara berlebihan. Kesalehan dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, termasuk menutup keran setelah berwudu dan menggunakan air secukupnya.
Menjaga Air Adalah Menjaga Kehidupan
Khutbah tersebut juga mengingatkan bahwa persoalan air memiliki dimensi sosial. Ketika sebagian masyarakat dapat memperoleh air dengan mudah, sebagian lainnya masih harus berjuang mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Karena itu, pengelolaan air yang adil dan berkelanjutan menjadi bagian penting dari tanggung jawab bersama.
Menjaga mata air, tidak mencemari sungai, memperbaiki kebocoran, menyediakan tempat penampungan air, menjaga daerah resapan, menanam pohon, serta menghemat penggunaan air merupakan sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga keberlangsungan sumber daya air.
Air yang tersedia saat ini juga bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang. Ketersediaannya berkaitan dengan kebutuhan masyarakat di masa mendatang dan keberlangsungan makhluk hidup lainnya.
"Menjaga air adalah bagian dari menjaga kehidupan," menjadi salah satu pesan utama khutbah tersebut.
Di tengah kemajuan teknologi, manusia memang mampu membangun bendungan, membuat sumur dalam, mengolah air laut, hingga memprediksi kondisi cuaca. Namun, kemampuan tersebut tidak berarti manusia dapat menciptakan air dari ketiadaan.
Allah SWT mengingatkan dalam QS Al-Mulk ayat 30:
"Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu surut ke dalam tanah, siapa yang akan memberimu air yang mengalir?"
Ayat tersebut menjadi pengingat tentang keterbatasan manusia sekaligus pentingnya bersyukur atas nikmat air.
Kemarau panjang, menurut pesan khutbah tersebut, semestinya tidak hanya membuat manusia menunggu datangnya hujan. Kondisi itu juga harus menjadi momentum untuk mengevaluasi cara manusia memperlakukan air.
Mulai dari rumah, masjid, sekolah, kantor hingga lingkungan masyarakat, penggunaan air perlu dilakukan secara bijaksana dan tidak berlebihan. Sumber-sumber air juga harus dijaga dari sampah dan pencemaran.
"Jangan sampai kita baru menyadari harga setetes air ketika sumber air telah mengering," demikian pesan penutup khutbah tersebut.
