Puisi Darma Firdaus, Merajut Rindu dari Cebu hingga Bengkalis
Puisi Darma Firdaus merekam kesunyian, rindu, dan relasi manusia dengan alam dalam sajak dari Cebu hingga Bengkalis.(poto/ist/satuju.com)
Satuju.com - Puisi Darma Firdaus merekam kesunyian, rindu, dan pergulatan batin melalui lanskap Cebu hingga Bengkalis. Dalam sejumlah sajaknya, penyair memadukan manusia, alam, benda, serta peristiwa sehari-hari sebagai cara untuk mengungkap pengalaman personal.
Sajak “Cebu” membuka ruang kesunyian yang kuat. Hotel yang sunyi, malam, pulau-pulau, debu, hingga orang-orang mati menjadi bagian dari lanskap batin penyair.
Hotel mayo yang sunyi
Saat subuh tak berbunyi
Tiada arti
Dalam sajak yang bertitimangsa Cebu, Filipina, 2 Mei 2021 itu, penyair menulis tentang kesepian dari kejauhan.
Dari cebu dimalam hari
Kuteriakkan sepi
Dan pulau-pulau abadi menyatu dalam hati
Mencari getir yang mencoba lari
Dari cebu di malam hari tertutupi debu orang-orang mati
Sementara itu, “Sajak Purba” membawa suasana yang lebih reflektif. Penyair menggunakan rimba, kata-kata, sumpah, tanah, dan jejak sebagai simbol pencarian terhadap sesuatu yang tersembunyi.
Wahai jenggala raya
Di mana tertitip kata-kata
Dari sembunyi yang tak hilang
Sajak tersebut kemudian bergerak menuju pengalaman personal tentang tuduhan, kerinduan, dan keterasingan.
Aku tertuduh sumpah
Oleh ucapan di tanah ini
Sedang rindu kautoreh pada jejakmu
Aku terbiar
Di bait puisi purba
Tak terbaca
Pada puisi “Persimpangan”, Darma Firdaus kembali mempertemukan manusia dengan ruang di sekitarnya. Jalan berbatu, selokan tersumbat, pohon mati, gema, dan burung-burung mati menjadi representasi hubungan antara “aku” dan “kamu”.
Jalan-jalan berbatu
Selokan-selokan sumbat
Dan pohon-pohon mati
Adalah aku
Kontras muncul ketika penyair menghadirkan sosok “kamu” melalui lanskap yang sama.
Gema tertebing
Suara samar-samar
Burung-burung mati
Adalah kamu
Pertemuan keduanya kemudian mengarah pada sebuah persimpangan yang kehilangan arah.
Aku adalah kamu
Dipersimpangan sepi
Menanti abadi
Mejelang pagi
Di bagian akhir, penyair memperluas pengalaman personal menjadi gambaran tentang luka dan sisa konflik.
Aku, kamu dan semua tangis
Adalah sisa-sisa pertempuran
Sebelum hujan
Puisi-puisi tersebut memperlihatkan kecenderungan Darma Firdaus menggunakan alam dan benda sebagai medium untuk menyampaikan keadaan batin. Relasi manusia tidak berdiri sendiri, tetapi berkelindan dengan ruang, waktu, kesunyian, dan peristiwa.
Dalam pembacaan terhadap antologi Darma Firdaus disebutkan:
” Puisi-puisi dalam antologi Darma Firdaus ini tidak hanya sarat dengan personifikasi. serupa tampak pada kutipan puisi di atas, depersonifikasi pun banyak digunakan untuk melukiskan situasi ke-batinan dalam hubungan antarpribadi. Hubungan rindu antara “aku” dan “kau” banyak digambarkan melalui deskripsi yang dirangkai dari berbagai benda dan peristiwa sehari-hari. Deskripsi semacam itu menunjukkan adanya persenyawaan antara manusia, alam, dan peristiwa ” .
Dari Cebu hingga Bengkalis, sajak-sajak tersebut memperlihatkan perjalanan batin yang tidak selalu disampaikan secara langsung. Kesunyian, rindu, kehilangan, dan penantian justru hadir melalui benda, lanskap, serta peristiwa yang dekat dengan kehidupan.
