Di Panggung Politik, Prinsip Diuji Ketika Berhadapan dengan Kekuasaan

Romi: Di Panggung Politik, Prinsip Diuji Ketika Berhadapan dengan Kekuasaan.(poto/satuju.com)

Rocky Gerung masuk Istana dan bergabung dalam lingkar kekuasaan. Perubahan posisi itu membuka pertanyaan tentang kritik, prinsip, dan konsistensi.

Satuju.com — Rocky Gerung masuk Istana dan berada di lingkar kekuasaan menjadi titik baru dalam perjalanan politiknya. Sosok yang selama ini dikenal lantang mengkritik pemerintah kini menghadapi ruang politik yang berbeda: menyampaikan gagasan dari dekat pusat kekuasaan.

Perubahan posisi itu menarik perhatian bukan semata karena jabatan atau tempatnya, tetapi karena publik memiliki rekam jejak panjang pernyataan Rocky tentang kekuasaan, kritik, intelektualitas, dan kebebasan berpikir.

Kehadiran Rocky di lingkungan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pun membuka pertanyaan yang lebih besar. Apakah kritik akan berubah ketika seorang pengkritik berada di dalam kekuasaan, atau justru menjadi kesempatan untuk menguji gagasan secara langsung?

Dari Pengkritik ke Lingkar Kekuasaan

Perubahan posisi politik tidak dengan sendirinya membuktikan seseorang meninggalkan prinsip. Begitu pula keberadaan seseorang di dalam pemerintahan tidak otomatis menunjukkan bahwa seluruh sikap kritisnya telah berubah.

Namun, publik memiliki alasan untuk menguji konsistensi itu melalui tindakan.

Pernyataan masa lalu dapat dibandingkan dengan sikap yang diambil hari ini. Kritik yang pernah disampaikan dapat dilihat kembali ketika orang yang sama memperoleh akses lebih dekat terhadap pengambilan keputusan.

Dalam politik, hubungan antarfaktor juga tidak selalu berjalan lurus. Lawan politik dapat menjadi mitra, pengkritik dapat berada di lingkar kekuasaan, sementara gagasan yang sebelumnya berseberangan dapat menemukan ruang baru dalam pemerintahan.

Karena itu, perubahan posisi perlu dibaca secara hati-hati. Yang lebih penting bukan sekadar siapa yang berada di dalam Istana, melainkan apa yang dilakukan setelah memperoleh ruang tersebut.

Prabowo dan Ruang bagi Kritik

Masuknya Rocky ke lingkungan kekuasaan juga dapat dibaca dari sisi lain. Pemerintahan membutuhkan pandangan yang beragam, termasuk suara yang tidak selalu sejalan dengan pemerintah.

Dalam konteks itu, kritik tidak harus ditempatkan sebagai ancaman. Kritik dapat menjadi bagian dari proses menguji kebijakan sebelum keputusan diambil.

Rocky sendiri selama bertahun-tahun membangun identitas publik sebagai intelektual yang kerap menyampaikan kritik terhadap kekuasaan. Ia pernah mengatakan:

"Tugas seorang intelektual itu memang harus skeptis, harus memarahi kekuasaan, harus mengkritik kekuasaan. Itu tugas original, itu otentiknya para intelektual."

Ia juga menyatakan:

"Fungsi kampus tempat mengolah alur berpikir mengedarkan akal sehat."

Pernyataan tersebut menjadi relevan ketika seorang pengkritik memperoleh ruang di sekitar kekuasaan. Sebab, posisi baru akan mempertemukan gagasan dengan praktik.

Prinsip atau Kepentingan?

Dunia politik memang memungkinkan perubahan sikap dan posisi. Namun, perubahan itu tidak cukup dijelaskan hanya dengan tuduhan kepentingan.

Publik tetap perlu melihat bukti yang lebih konkret: bagaimana seseorang menggunakan pengaruhnya, gagasan apa yang disampaikan, kritik apa yang tetap dipertahankan, dan keputusan apa yang diambil ketika berhadapan dengan kepentingan pemerintah.

Di titik itulah rekam jejak menjadi penting.

Rocky pernah mengatakan:

"Kebebasan itu melampaui netralitas."

Ia juga pernah menyampaikan:

"Saya tidak punya hasrat pada kekuasaan, saya ingin agar supaya negeri ini dihidupkan dengan akal pikiran."

Kini, pernyataan-pernyataan tersebut berhadapan dengan konteks politik yang berbeda. Bukan lagi sekadar kritik dari luar, melainkan gagasan yang diuji ketika berhadapan langsung dengan kekuasaan.

Kritik Tidak Berakhir di Pintu Istana

Perubahan posisi tidak seharusnya membuat publik berhenti bertanya. Sebaliknya, kedekatan dengan kekuasaan dapat menjadi ruang untuk menguji apakah kritik benar-benar berdiri di atas prinsip atau hanya menjadi sikap ketika berada di luar pemerintahan.

Pertanyaan publik pun sederhana: apakah kekuasaan mengubah prinsip, atau justru menyediakan ruang untuk membuktikannya?

Jawabannya tidak ditentukan oleh label masa lalu ataupun jabatan hari ini. Jawabannya akan terlihat dari sikap, gagasan, dan tindakan setelah seseorang berada lebih dekat dengan pusat kekuasaan.

Pada akhirnya, ukuran seorang pengkritik bukan seberapa keras ia berbicara ketika berada di luar kekuasaan. Ukurannya juga terletak pada keberaniannya mempertahankan akal kritis ketika berada di dalamnya.

Oleh: Pemimpin Redaksi (Pemred) Satuju.com