Anak Sudah Tahu Narkoba Berbahaya, Lalu Apa?
Poto Ai hanya ilustrasi: Edukasi Anti-Narkoba Tak Cukup Hanya Soal Bahaya Narkoba.(poto/ist/Ahmadie Thaha)
Anak sudah tahu narkoba berbahaya. Persoalannya, apakah mereka mampu menolak tekanan, mengelola emosi, dan mencari pertolongan?
JAKARTA, Satuju.com — Edukasi anti-narkoba selama ini kerap berhenti pada satu pesan: narkoba berbahaya, maka jauhi. Masalahnya, anak yang sudah mengetahui bahaya narkoba belum tentu mampu menolaknya ketika berhadapan dengan tekanan teman, rasa ingin diterima, persoalan keluarga, atau kondisi emosional yang sedang rapuh.
Pertanyaan itulah yang muncul dalam catatan Cak AT, Ahmadie Thaha, setelah berdiskusi mengenai materi penyuluhan anti-narkoba yang digelar secara daring dengan tema “Upgrade Your Life, Not Drugs! Jaga Diri, Raih Masa Depan.” Kegiatan tersebut dilaksanakan Institut Agama Islam Jameatkheir bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional.
Menurut Cak AT, persoalan utama pendidikan anti-narkoba bukan lagi sekadar bagaimana membuat anak mengetahui bahwa narkoba merusak kesehatan dan masa depan. Tantangan yang lebih sulit adalah membangun kemampuan anak menghadapi situasi ketika narkoba benar-benar datang menawarkan diri.
Sebab, narkoba hampir tidak pernah datang dengan pengumuman bahwa dirinya akan menghancurkan masa depan.
Tawaran bisa muncul lewat kalimat sederhana: “Coba sedikit.” “Jangan takut.” “Semua juga pakai.” “Kalau kamu teman saya, ikut.”
Pada titik itu, pengetahuan anak sedang berhadapan dengan tekanan sosial.
Anak tidak sedang mengerjakan soal ujian tentang narkoba. Ia sedang mengambil keputusan dalam situasi yang mungkin membuatnya takut ditolak, malu dianggap pengecut, atau ingin mendapatkan pengakuan dari kelompoknya.
Pengetahuan Tidak Selalu Menyelamatkan
Cak AT menilai pendidikan anti-narkoba perlu naik kelas. Anak memang harus mengetahui risiko narkoba. Namun pengetahuan itu perlu dilengkapi keterampilan menghadapi tekanan.
Anak perlu belajar mengenali emosinya, mengelola stres, menghadapi kegagalan, memilih lingkungan pergaulan, mengambil keputusan, serta mencari pertolongan.
Dengan kata lain, pendidikan anti-narkoba tidak cukup mencetak anak yang hafal bahwa narkoba berbahaya. Pendidikan tersebut harus membentuk anak yang mampu bertindak benar ketika berada dalam situasi sulit.
Salah satu caranya melalui simulasi.
Dalam penyuluhan, misalnya, peserta dapat diminta memainkan situasi ketika seorang teman menawarkan narkoba. Peserta belajar mengatakan tidak. Teman tersebut kemudian mendesak, mengejek, atau menawarkan alasan lain. Peserta tetap berlatih mencari cara keluar dari tekanan tersebut.
Metode seperti ini membuat pesan “Say No to Drugs” tidak berhenti menjadi tulisan di poster.
Anak belajar menggunakan keberanian itu dalam situasi yang menyerupai kehidupan nyata.
Anak Hidup di Tengah Tekanan Sosial
Data penyalahgunaan narkotika menunjukkan persoalan tersebut tidak bisa dianggap ringan.
Survei kolaboratif BNN, BRIN, dan BPS periode 2023–2025 mencatat prevalensi penyalahgunaan narkotika sebesar 2,11 persen atau sekitar 4,15 juta orang usia 15–64 tahun. Angka itu meningkat dibandingkan 1,73 persen pada 2023.
BNN juga menyebut kelompok usia 15–24 tahun sebagai kelompok rentan dengan prevalensi 2,53 persen.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa pencegahan tidak cukup dilakukan melalui kampanye sesaat. Anak dan remaja membutuhkan lingkungan yang mendukung mereka mengambil keputusan sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Lingkungan sosial menjadi bagian penting. Anak tidak tumbuh dalam ruang kosong. Mereka berada di tengah keluarga, sekolah, teman sebaya, komunitas, dan ruang digital.
Mereka bisa mengalami tekanan akademik, konflik keluarga, kegagalan, kesepian, hingga kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan.
Dalam kondisi tertentu, narkoba dapat ditawarkan sebagai jalan keluar semu.
Karena itu, benteng pertama bukan hanya spanduk bertuliskan “Jauhi Narkoba”. Benteng pertama adalah hubungan manusia yang membuat seorang anak merasa aman untuk bercerita.
Jangan Tunggu Anak Bermasalah
Keluarga memiliki posisi penting dalam pencegahan. Orang tua tidak cukup hanya memastikan anak belajar dan pulang tepat waktu.
Pertanyaan sederhana seperti “Hari ini ada masalah apa?” atau “Ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?” dapat menjadi pintu komunikasi.
Anak yang memiliki ruang untuk bercerita akan lebih mungkin mencari pertolongan ketika menghadapi persoalan.
Sekolah juga perlu mengubah pendekatan. Pendidikan tentang narkoba seharusnya tidak hanya menjelaskan kerusakan otak atau bahaya kesehatan.
Sekolah perlu mengajarkan keterampilan menghadapi kehidupan: mengenali emosi, mengelola tekanan, mengambil keputusan, memilih pergaulan, menghadapi kegagalan, dan meminta bantuan.
Pendidikan agama dan karakter pun tidak cukup jika hanya berubah menjadi daftar larangan.
Nilai moral harus menjadi kekuatan pengendalian diri ketika seseorang berada sendirian dan tidak ada yang mengawasi.
Sebab ukuran keberhasilan pendidikan bukan ketika anak berdiri di depan spanduk anti-narkoba dan mengatakan, “Narkoba itu berbahaya.”
Ukuran yang sesungguhnya adalah ketika tawaran datang dan ia mampu mengatakan tidak.
Mereka yang Terjerumus Tetap Butuh Jalan Pulang
Pencegahan juga harus berjalan bersama pemulihan.
Orang yang sudah terjerumus tidak selalu cukup diberi nasihat. Mereka mungkin membutuhkan asesmen, konseling, layanan kesehatan, rehabilitasi, dukungan keluarga, dan lingkungan yang tidak menghakimi.
Stigma justru dapat memperburuk keadaan.
Ketika seseorang takut dicap, ia bisa memilih diam. Ketika keluarga takut malu, masalah bisa disembunyikan. Akibatnya, bantuan datang ketika persoalan sudah semakin berat.
Karena itu, pendekatan anti-narkoba harus memiliki empat lapis: mencegah, mengenali risiko sejak dini, menolong ketika masalah muncul, dan memulihkan mereka yang sudah terjerumus.
Pesannya sederhana, tetapi pelaksanaannya tidak mudah.
Anak memang harus tahu narkoba berbahaya. Namun berhenti pada pengetahuan berarti pendidikan belum selesai.
Anak harus tahu mengapa ia harus menolak. Ia harus tahu bagaimana cara menolak. Dan yang tidak kalah penting, ia harus tahu kepada siapa harus meminta pertolongan.
Di situlah makna “Upgrade Your Life, Not Drugs!” menjadi lebih dari sekadar slogan.
Yang perlu di-upgrade bukan hanya pengetahuan tentang narkoba. Yang harus diperkuat adalah daya tahan anak, kualitas keluarga, lingkungan sekolah, serta keberanian masyarakat membuka pintu pertolongan.
Sebab narkoba tidak selalu dikalahkan oleh pengetahuan.
Sering kali, ia harus dilawan dengan ketahanan diri, lingkungan yang sehat, dan keberanian untuk meminta pertolongan.
Cak AT – Ahmadie Thaha
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 4 Oktober 2026
