Putri Pejabat Senior Iran Dipecat dari Emory, Kemudian Terdepak dari AS
dokter Fatemeh Ardeshir-Larijan.(Poto/net)
Jakarta, Satuju.com - Nama dokter Fatemeh Ardeshir-Larijani menjadi sorotan di Amerika Serikat setelah latar belakang keluarganya memicu kontroversi di tengah meningkatnya ketegangan Washington dengan Iran.
Fatemeh sebelumnya tercatat sebagai asisten profesor di Departemen Hematologi dan Onkologi Medis, Emory University School of Medicine, Atlanta. Bidang penelitiannya berfokus pada penemuan target baru serta mekanisme resistensi imun pada kanker paru-paru.
Namun, posisi akademiknya di Emory berakhir pada Januari 2026. Kepergian tersebut terjadi setelah muncul tekanan dari anggota parlemen Amerika Serikat dan kelompok warga Iran-Amerika yang menentang pemerintah Iran.
Pada 22 Januari 2026, anggota DPR AS dari Georgia, Earl L. "Buddy" Carter, mengirim surat kepada Emory University dan Georgia Composite Medical Board. Ia mendesak agar Fatemeh dicopot dari posisinya di Emory serta izin praktik medisnya di Georgia dicabut.
Carter menyoroti hubungan keluarga Fatemeh dengan Ali Larijani, ayahnya yang ketika itu menjabat Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran. Carter berpendapat hubungan tersebut menimbulkan persoalan terkait kepercayaan pasien, integritas institusi, dan keamanan nasional.
Tekanan tersebut muncul setelah Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap Ali Larijani pada Januari 2026. Pemerintah AS menuduh Larijani berperan dalam mengoordinasikan respons pemerintah Iran terhadap aksi protes dan mendukung penggunaan kekuatan terhadap demonstran.
Emory Konfirmasi Fatemeh Tak Lagi Bekerja
Emory University kemudian mengonfirmasi bahwa Fatemeh tidak lagi menjadi pegawai universitas.
"A physician who is the daughter of a senior Iranian government official is no longer an employee of Emory," kata pihak universitas dalam pernyataannya.
Emory tidak menjelaskan apakah Fatemeh diberhentikan atau mengundurkan diri. Universitas juga menyatakan tidak dapat memberikan informasi lebih lanjut karena persoalan tersebut merupakan masalah kepegawaian.
Pihak Emory menegaskan bahwa seluruh pegawainya dipekerjakan sesuai dengan hukum federal, hukum negara bagian, dan persyaratan lain yang berlaku.
Laporan Scholars at Risk mencatat berakhirnya posisi Fatemeh di Emory sebagai kehilangan jabatan yang tampaknya berkaitan dengan hubungan keluarganya dengan pejabat tinggi Iran.
Status Tinggal Fatemeh dan Suami Dicabut
Persoalan Fatemeh tidak berhenti setelah ia meninggalkan Emory.
Pada April 2026, Departemen Luar Negeri AS menyatakan Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah menghentikan status hukum tinggal Fatemeh Ardeshir-Larijani dan suaminya, Seyed Kalantar Motamedi.
Keduanya disebut sudah tidak berada di Amerika Serikat dan dilarang kembali ke negara tersebut. Pemerintah AS memasukkan kasus tersebut dalam kebijakan yang lebih luas terhadap individu yang dinilai memiliki keterkaitan dengan pemerintahan Iran.
Langkah itu dilakukan setelah meningkatnya tekanan terhadap keluarga dan orang-orang yang memiliki hubungan dengan elite pemerintahan Iran. Dalam pernyataannya, pemerintah AS menegaskan bahwa negara tersebut tidak akan menjadi tempat tinggal bagi warga asing yang mendukung pemerintahan yang disebut anti-Amerika dan teroris.
Sorotan Meluas ke Anak Pejabat Iran
Kasus Fatemeh kemudian menjadi bagian dari perdebatan yang lebih luas mengenai anak dan kerabat pejabat Iran yang tinggal, belajar, atau bekerja di Amerika Serikat.
Salah satu nama yang ikut menjadi sorotan adalah Leila Khatami, profesor matematika di Union College, New York. Ia merupakan putri Mohammad Khatami, yang pernah menjabat sebagai Presiden Iran pada 1997-2005.
Profil resmi Union College masih mencantumkan Leila Khatami sebagai profesor matematika.
Kelompok yang menentang pemerintah Iran telah mendesak kampus tersebut melakukan peninjauan terhadap latar belakang dan afiliasi Khatami. Namun, tuduhan terhadap dirinya juga menuai kritik karena tidak terdapat bukti dalam sumber yang diperiksa bahwa ia melakukan pelanggaran pribadi.
Nama lain yang turut disebut dalam laporan mengenai keluarga elite Iran di AS adalah Ehsan Nobakht, profesor madya kedokteran di George Washington University. Ia merupakan putra Ali Nobakht, mantan anggota parlemen Iran dan pernah menjabat sebagai wakil menteri kesehatan.
Sementara itu, Eissa Hashemi, putra mantan Wakil Presiden Iran Masoumeh Ebtekar, juga bekerja sebagai akademisi di Amerika Serikat.
Perdebatan soal Hubungan Keluarga dan Tanggung Jawab Individu
Kasus Fatemeh memunculkan perdebatan mengenai sejauh mana hubungan keluarga dengan pejabat sebuah pemerintahan dapat menjadi dasar tindakan terhadap seseorang.
Di satu sisi, kelompok yang menekan pemerintah AS menilai hubungan dekat dengan elite pemerintahan Iran perlu mendapat perhatian, terutama ketika Washington sedang menghadapi konflik dan ketegangan serius dengan Teheran.
Di sisi lain, kasus tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai prinsip tanggung jawab individu, khususnya ketika seseorang tidak terbukti melakukan pelanggaran yang sama dengan anggota keluarganya.
Kasus Fatemeh akhirnya menjadi contoh paling mencolok dari meningkatnya pemeriksaan terhadap warga Iran yang memiliki hubungan keluarga dengan elite pemerintahan Iran dan menjalani kehidupan profesional di Amerika Serikat.
Dari seorang dokter dan akademisi di salah satu universitas terkemuka AS, Fatemeh kini telah kehilangan posisinya di Emory dan tidak lagi berada di Amerika Serikat setelah status hukum tinggalnya dan suaminya dihentikan pemerintah AS.
