Rajin Lihat Story tapi Jarang Posting? Ini 8 Ciri Kepribadiannya Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang cek saat cek hp(Poto/net)

Jakarta, Satuju.com - Pernah punya teman yang hampir selalu muncul dalam daftar penonton story, tetapi nyaris tidak pernah terlihat mengunggah apa pun di media sosial? Kebiasaan tersebut ternyata cukup umum dan tidak serta-merta menunjukkan seseorang memiliki sifat kepo atau gemar mengintip kehidupan orang lain.

Dalam psikologi digital, perilaku pengguna yang lebih banyak mengamati konten dibandingkan membuat atau membagikannya dikenal sebagai lurking. Pelakunya kerap disebut lurker atau silent reader.

Konsep tersebut berkaitan dengan participation inequality yang dipopulerkan pakar usability Jakob Nielsen. Dalam komunitas daring, Nielsen memperkirakan sekitar 90 persen pengguna lebih banyak mengamati, 9 persen sesekali berkontribusi, sedangkan sekitar 1 persen menjadi pengguna yang sangat aktif menciptakan konten.

Dengan demikian, jarang mengunggah konten bukan berarti seseorang tidak aktif menggunakan media sosial. Mereka tetap memperoleh informasi, hiburan, maupun manfaat sosial dari platform yang digunakan, hanya saja memilih tidak terlalu banyak meninggalkan jejak.

Sejumlah kajian psikologi juga menunjukkan bahwa kebiasaan memproduksi konten secara intensif, khususnya unggahan yang berpusat pada diri sendiri seperti selfie, dapat berkaitan dengan karakteristik narsisme. Namun, hal tersebut tidak berarti setiap orang yang sering memposting memiliki sifat narsistik.

Sebaliknya, orang yang lebih sering menjadi penonton juga memiliki beragam alasan dan karakter. Berikut sejumlah kecenderungan yang kerap dikaitkan dengan pengguna yang rajin melihat story tetapi jarang mengunggah konten.

1. Tidak terlalu bergantung pada validasi

Pengguna yang jarang posting dapat memiliki kecenderungan untuk tidak menjadikan jumlah like, komentar, atau respons pengguna lain sebagai ukuran utama harga dirinya.

Media sosial digunakan sesuai kebutuhan, misalnya untuk memperoleh informasi, mengikuti kabar teman, atau mencari hiburan, tanpa merasa harus terus menunjukkan keberadaan diri.

2. Cenderung reflektif

Alih-alih langsung memberikan komentar atau bereaksi terhadap setiap unggahan, sebagian pengguna lebih memilih mengamati dan mencerna informasi terlebih dahulu.

Kebiasaan tersebut dapat membuat mereka terlihat pasif, padahal mereka mungkin tetap memperhatikan berbagai hal yang muncul di linimasa.

3. Memiliki kesadaran diri yang tinggi

Sebagian pengguna yang jarang mengunggah konten sangat mempertimbangkan bagaimana dirinya akan dipersepsikan orang lain.

Dalam psikologi, kesadaran terhadap perilaku dan cara seseorang menampilkan diri dalam situasi sosial berkaitan dengan konsep self-monitoring. Pengguna dengan kecenderungan ini dapat lebih selektif sebelum mengunggah sesuatu.

4. Lebih nyaman menjadi pengamat

Bagi sebagian orang, media sosial lebih berfungsi sebagai tempat mencari informasi dan hiburan daripada ruang untuk menampilkan kehidupan pribadi.

Kecenderungan mengamati juga dapat ditemukan pada individu yang lebih introvert. Namun, jarang posting tidak bisa dijadikan patokan tunggal untuk menyimpulkan seseorang memiliki kepribadian introvert.

5. Memiliki batasan privasi yang kuat

Tidak semua orang merasa perlu membagikan aktivitas sehari-hari kepada publik. Sebagian justru menganggap kehidupan pribadi sebagai sesuatu yang perlu dibatasi dari konsumsi media sosial.

Mereka tetap dapat mengikuti aktivitas orang lain, tetapi memilih tidak membuka terlalu banyak informasi tentang kehidupannya sendiri.

6. Lebih tertarik mencari informasi daripada perhatian

Ada pengguna yang membuka media sosial terutama untuk mendapatkan informasi baru. Mereka mungkin tertarik membaca pengalaman orang lain, mengikuti perkembangan tertentu, atau menemukan pengetahuan baru tanpa merasa perlu ikut membuat konten.

Dalam pola seperti ini, manfaat yang diperoleh dari informasi menjadi lebih penting dibandingkan mendapatkan respons dari pengguna lain.

7. Lebih nyaman berkomunikasi secara personal

Bagi sebagian orang, memberikan tanda suka atau komentar di unggahan publik terasa berbeda dengan berbicara langsung melalui pesan pribadi.

Karena itu, seseorang yang jarang meninggalkan komentar bukan berarti tidak peduli. Ia bisa saja lebih nyaman menyampaikan perhatian secara personal dan tidak terbuka di ruang publik.

8. Bisa menjadi pendukung tanpa banyak terlihat

Penonton story yang jarang berinteraksi secara terbuka juga tidak selalu berarti tidak memperhatikan. Mereka mungkin mengikuti perkembangan orang-orang terdekat, ikut senang ketika melihat pencapaian, atau sekadar mengetahui kabar tanpa merasa perlu memberikan respons.

Dengan kata lain, keberadaan mereka di daftar penonton tidak otomatis dapat digunakan untuk membaca niat atau perasaan seseorang.

Mengapa Betah Menonton tetapi Enggan Posting?

Ada banyak alasan yang mungkin menjelaskan perilaku tersebut. Salah satunya adalah kelelahan dalam mengelola citra diri atau impression management fatigue.

Mengunggah sesuatu ke media sosial terkadang membutuhkan pertimbangan panjang, mulai dari memilih foto, menulis keterangan, memikirkan tanggapan orang lain hingga menghadapi kemungkinan komentar negatif. Bagi sebagian orang, proses tersebut justru terasa melelahkan.

Faktor lainnya adalah rasa takut terhadap penilaian sosial. Seseorang mungkin merasa lebih aman menjadi pengamat karena tidak harus berhadapan langsung dengan respons publik.

Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan spotlight effect, yakni kecenderungan seseorang merasa dirinya lebih diperhatikan orang lain daripada kenyataannya.

Namun, tidak semua pengguna yang jarang posting sedang mengalami kecemasan atau memiliki masalah tertentu. Bisa saja mereka memang merasa tidak membutuhkan eksistensi digital yang tinggi.

Psikolog klinis Leslie Becker-Phelps, seperti dikutip AARP, mengingatkan bahwa seseorang tidak bisa mengetahui secara pasti apa yang ada dalam pikiran orang lain hanya berdasarkan perilaku mereka di media sosial.

Karena itu, melihat seseorang rajin menonton story tetapi jarang mengunggah konten sebaiknya tidak langsung diterjemahkan sebagai perilaku kepo, pendiam, atau bahkan stalker.

Media sosial hanya memperlihatkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Di balik akun yang terlihat aktif maupun akun yang hampir tidak pernah mengunggah konten, setiap orang memiliki alasan dan batasan yang berbeda dalam menggunakan ruang digital.


BERITA TERKAIT