Cak AT Bongkar Makna Puji dan Syukur: Jabatan Harus Dibuktikan dengan Tindakan

Poto Ai hanya ilustrasi: Cak AT mengulas perbedaan puji dan syukur dalam Al-Quran serta mengingatkan bahwa jabatan, ilmu, dan kekayaan harus dibuktikan dengan tindakan.(poto/ist/Ahmadie Thaha)

Cak AT mengulas perbedaan puji dan syukur dalam Al-Qur'an serta mengingatkan bahwa jabatan, ilmu, dan kekayaan harus dibuktikan dengan tindakan.

MAKNA puji dan syukur sering terdengar dalam pidato pejabat, mulai dari presiden hingga kepala daerah. Namun, dibalik ungkapan “pujian dan syukur” yang seolah menjadi kalimat wajib pembuka acara, terdapat perbedaan makna yang penting dipahami: pujian dapat diucapkan melalui lisan, sedangkan syukur menuntut keterlibatan hati dan tindakan nyata.

Hal itu menjadi pokok pembahasan Cak AT atau Ahmadie Thaha dalam catatan bertajuk Puji Syukur, yang ditulis pada 9 Oktober 2026. Melalui kajian bahasa Al-Qur'an, ia mengajak pembaca melihat kembali makna ungkapan yang selama ini kerap diucapkan tanpa direnungkan lebih jauh.

Menurut Cak AT, kata hamd dan syukr memang memiliki hubungan makna, namun keduanya tidak sepenuhnya sama. Perbedaan itu dijelaskan dalam kitab Al-Mu'jam al-Furuq al-Dalaliyyah fi al-Qur'an al-Karim karya Dr. Muhammad Muhammad Dawud.

Pujian Tidak Selalu Bergantung pada Nikmat

Cak AT menjelaskan, hamd atau pujian dapat diberikan karena seseorang menerima kenikmatan, tetapi juga karena sifat baik yang melekat pada dirinya. Seseorang, misalnya, dapat memuji keberanian, ilmu, atau kemurahan hati orang lain meskipun tidak pernah menerima pemberian darinya.

Artinya, pujian memiliki cakupan yang lebih luas. Seseorang dapat memuji Allah SWT karena nikmat yang diterimanya maupun karena kebaikan yang diberikan kepada orang lain.

Dalam tafsir Al-Kasysyaf, Al-Zamakhsyari juga menjelaskan kedekatan makna hamd dan madḥ, yakni pujian terhadap sesuatu yang baik, baik berupa nikmat maupun sifat terpuji.

Sementara itu, syukr memiliki cakupan lebih khusus karena berkaitan dengan nikmat yang diterima.

“Syukur hanya berkaitan dengan nikmat dan pemberian.”

Dengan demikian, seseorang dapat mengucapkan alhamdulillah ketika melihat orang lain memperoleh rezeki. Namun, syukur dalam pengertian yang lebih khusus berkaitan dengan pengakuan atas nikmat yang sampai kepada dirinya.

Syukur Tidak Cukup Berhenti di Lisan

Perbedaan mendasar lainnya terletak pada cara keduanya diwujudkan. Cak AT menjelaskan bahwa hamd terutama diungkapkan melalui lisan, sedangkan syukr melibatkan tiga unsur sekaligus, yakni hati, lisan, dan anggota badan.

Hati mengakui nikmat, lisan menyampaikan pujian, sedangkan anggota badan menunjukkan respons melalui perbuatan. Karena itu, syukur tidak cukup diwujudkan lewat ucapan.

Al-Zamakhsyari menyebut hamd sebagai salah satu bagian penting dari syukur melalui ungkapan:

الحمد رأس الشكر

“Hamd adalah kepala syukur.”

Perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa pujian melalui lisan menjadi bagian penting dalam pengungkapan syukur. Namun, kepala tidak dapat menggantikan seluruh tubuh. Demikian pula ucapan syukur tidak dapat menggantikan tindakan yang semestinya menyertainya.

Cak AT juga menekankan unsur cinta dan pengagungan dalam hamd. Ketika seseorang mengucapkan alhamdulillah, ia bukan sekadar menyampaikan kalimat pembuka, melainkan mengakui dan memuliakan Allah sebagai pemilik segala sifat terpuji.

Al-Qur'an Mengaitkan Syukur dengan Perbuatan

Menurut Cak AT, Al-Qur'an memberikan penekanan kuat pada syukur yang diwujudkan melalui tindakan. Salah satu contohnya terdapat dalam Surah Saba' ayat 13, ketika Allah memerintahkan keluarga Nabi Dawud AS untuk bekerja sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan.

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Bekerjalah, wahai keluarga Dawud, sebagai bentuk syukur. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang benar-benar bersyukur.”

Kata i'malū dalam ayat tersebut berarti bekerja atau berbuat. Cak AT menyoroti pilihan kata itu sebagai penegasan bahwa syukur tidak berhenti pada pengakuan verbal, tetapi harus terlihat dalam tindakan.

Ilmu, misalnya, menuntut pemanfaatan untuk kebaikan. Kekayaan semestinya melahirkan manfaat, sedangkan jabatan dan kekuasaan harus dijalankan dengan tanggung jawab serta keadilan.

Pesan serupa terdapat dalam Surah An-Nahl ayat 114 yang memerintahkan manusia mengonsumsi rezeki yang halal dan baik serta bersyukur atas nikmat Allah. Surah Al-Baqarah ayat 152 juga mengingatkan manusia agar bersyukur dan tidak mengingkari nikmat-Nya.

Rangkaian ayat tersebut memperlihatkan bahwa syukur berkaitan dengan nikmat konkret dan tanggung jawab manusia dalam menyikapinya.

Pujian dan Syukur Memiliki Lawan Berbeda

Cak AT turut menguraikan perbedaan kedua istilah tersebut melalui lawan katanya.

Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan

“Lawan hamd adalah celaan, sedangkan lawan syukr adalah pengingkaran nikmat.”

Dalam penjelasan itu, hamd dihadapkan dengan dzam atau celaan. Adapun syukr yang dihadapkan pada kufran, yakni pengingkaran terhadap nikmat.

Perbedaan tersebut memperjelas bahwa pujian dan syukur mempunyai fungsi yang saling berkaitan, tetapi tidak identik. Pujian mengungkapkan pengakuan terhadap kebaikan, sedangkan syukur menuntut pengakuan atas sekaligus menikmati respons yang sesuai.

Al-Qur'an membuka Surah Al-Fatihah dengan ayat:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”

Ayat tersebut menunjukkan luasnya mencakup hamd. Pujian kepada Allah tidak hanya berkaitan dengan kenikmatan yang baru diterima seseorang, tetapi juga dengan kedudukan-Nya sebagai Pencipta dan pemilik segala kesempurnaan.

Jabatan Menjadi Ujian Nyata Syukur

Dari perbedaan makna tersebut, Cak AT mengarahkan pembahasan pada kebiasaan pejabat yang membuka pidato dengan ucapan terima kasih. Menurutnya, ungkapan itu tidak bermasalah selama pembicara memahami dan menjalankan maknanya.

Persoalan muncul ketika kalimat syukur hanya menjadi formalitas, sementara tindakan setelah pidato tidak mencerminkan pengakuan atas nikmat dan amanah yang diterima.

Pejabat yang bersyukur atas jabatannya harus menggunakan wewenang secara benar. Orang yang berilmu perlu mengamalkan pengetahuannya, sedangkan orang yang memiliki kekayaan seharusnya memberikan manfaat bagi sesama.

Dalam konteks kekuasaan, syukur juga harus diwujudkan melalui tanggung jawab dan keadilan, bukan sekadar pernyataan dalam Perayaan resmi.

Cak AT mengingatkan bahwa ucapan dapat disampaikan dalam hitungan detik, namun pembuktian melalui perbuatan membutuhkan komitmen yang berkelanjutan.

Oleh karena itu, ungkapan “pujian dan syukur” perlu dimaknai lebih dalam. Hamd menjadi pengakuan melalui pujian, sedangkan syukr menuntut hati, lisan, dan anggota badan bergerak bersama.

Pada akhirnya, ukuran syukur bukanlah seberapa sering seseorang mengucapkan kalimat tersebut, melainkan bagaimana ia menggunakan nikmat yang diterimanya. Bagi pejabat, ujian itu terlihat dari cara menjalankan kekuasaan. Bagi orang berilmu, ukurannya terletak pada pengamalan pengetahuan. Bagi orang berharta, pembuktiannya terlihat dari manfaat yang dihasilkan.

Seperti pesan utama Cak AT, kepala syukur tidak boleh berjalan sendirian tanpa tubuh yang bekerja.

Sumber: Catatan Cak AT (Ahmadie Thaha), Puji Syukur, Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 9 Oktober 2026.


BERITA TERKAIT