Iran Ancam Sasar Pusat Data dan Kabel Bawah Laut AS di UEA jika Perang Kembali Pecah
Ilustrasi Bendera AS dan Iran.(poto/net)
Teheran, Satuju.com – Pejabat keamanan Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan bahwa Teheran dapat menargetkan infrastruktur teknologi yang terkait dengan Amerika Serikat (AS) di Uni Emirat Arab (UEA) dan sekitar Selat Hormuz jika senjata konflik antara kedua negara kembali pecah.
Peringatan tersebut mencakup sejumlah infrastruktur strategi digital, mulai dari kabel bawah laut, pusat data, fasilitas kecerdasan buatan (AI), hingga lokasi lain yang dinilai memiliki nilai strategi bagi kepentingan AS di kawasan Teluk.
Dalam wawancara berdurasi 30 menit yang dipublikasikan secara berani oleh media pemerintah Iran, Press TV, Rezaei menyebut aset teknologi tersebut sebagai bagian penting dari kepentingan ekonomi Amerika Serikat di kawasan.
“Amerika Serikat memiliki aset yang sangat bernilai tinggi di UEA dan di sekitar Selat Hormuz,” ujar Rezaei.
Ia mengatakan, aset-aset tersebut belum dimasukkan ke dalam daftar target Iran. Namun, masalah dapat berubah jika perang kembali terjadi.
“Kami belum memasukkan aset-aset ini ke dalam daftar target kami. Namun, jika perang pecah, banyak dari kabel, pusat data, fasilitas kecerdasan buatan, dan berbagai lokasi lainnya itu akan hancur,” katanya.
Rezaei menggambarkan infrastruktur teknologi tersebut sebagai “nadi ekonomi Amerika di kawasan ini”. Ia juga mengklaim nilai aset-aset tersebut mencapai lebih dari 2 triliun dolar AS.
Meski demikian, Rezaei tidak menjelaskan metode penghitungan nilai tersebut ataupun memberikan rincian mengenai fasilitas yang berpotensi menjadi sasaran. Pernyataannya juga tidak berarti bahwa lokasi tertentu telah ditetapkan secara resmi sebagai target serangan.
Infrastruktur Digital Teluk Berpotensi Terdampak
Ancaman terhadap infrastruktur teknologi memunculkan kekhawatiran mengenai potensi dampak konflik terhadap jaringan digital di kawasan Teluk.
Kabel komunikasi bawah laut menjadi salah satu komponen penting yang menghubungkan jaringan internet antarnegara dan menopang pertukaran data internasional. Sementara itu, pusat data menyediakan infrastruktur bagi penyimpanan informasi, komputasi awan, layanan digital, dan berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan.
Gangguan terhadap fasilitas-fasilitas tersebut berpotensi memengaruhi layanan telekomunikasi dan aktivitas ekonomi digital, bergantung pada lokasi, skala kerusakan, serta ketersediaan jalur dan fasilitas alternatif.
UEA sendiri merupakan salah satu kawasan penting bagi pengembangan teknologi dan layanan digital di Timur Tengah. Karena itu, ancaman terhadap aset teknologi yang dikaitkan dengan kepentingan AS menambah dimensi baru dalam risiko keamanan regional apabila ketegangan militer kembali meningkat.
Selat Hormuz juga memiliki posisi strategis dalam perdagangan energi dunia. Perluasan konflik di sekitar kawasan tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran, aktivitas ekonomi, dan infrastruktur penting lainnya.
Iran Klaim Siapkan Strategi Militer Lebih Luas
Selain menyinggung infrastruktur teknologi, Rezaei menyatakan Iran siap mengerahkan kemampuan militer tambahan apabila Amerika Serikat kembali melancarkan serangan.
Ia mengklaim bahwa Teheran tidak menggunakan seluruh kemampuan militernya pada pekan pertama konfrontasi sebelumnya. Menurutnya, keputusan tersebut merupakan bagian dari pertimbangan strategis agar Iran masih memiliki kapasitas untuk menghadapi perkembangan konflik berikutnya.
“Kami tidak bertindak dengan cara yang akan mengungkap seluruh kemampuan kami pada minggu pertama. Jika kami melakukannya, hanya sedikit yang tersisa untuk digunakan setelahnya,” ujarnya.
Rezaei menambahkan bahwa Iran akan menghadapi kemungkinan konfrontasi baru dengan persiapan yang lebih menyeluruh.
“Hari ini, jika konfrontasi kembali terjadi, kami pasti akan menghadapi musuh dengan rencana yang jauh lebih luas dan menyeluruh,” katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ancaman yang disampaikan Teheran tidak hanya berkaitan dengan sasaran militer konvensional, tetapi juga mencakup infrastruktur teknologi dan komunikasi yang dianggap memiliki nilai strategis bagi Amerika Serikat.
Meski demikian, pernyataan Rezaei masih berupa peringatan mengenai kemungkinan tindakan Iran jika perang kembali pecah. Belum ada perincian mengenai sasaran spesifik maupun konfirmasi bahwa serangan terhadap infrastruktur digital di UEA dan sekitar Selat Hormuz telah diputuskan.
Perkembangan ini menegaskan bahwa eskalasi konflik di kawasan Teluk berpotensi membawa konsekuensi yang lebih luas terhadap keamanan infrastruktur digital, hubungan ekonomi internasional, dan stabilitas regional.
