Cak AT: Jangan Biarkan Anak Tertinggal karena Gangguan Mata

Poto Ai hanya ilustrasi: Kesehatan mata anak kerap terabaikan. Data skrining Kemenkes menunjukkan ribuan siswa mengalami gangguan penglihatan yang perlu ditindaklanjuti.(poto/ist/Ahmadie Thaha)

JAKARTA, Satuju.com – Kesehatan mata anak masih sering luput dari perhatian orang tua, padahal gangguan penglihatan dapat menghambat proses belajar dan membuat siswa tertinggal di kelas. Pemeriksaan mata sejak dini menjadi langkah penting untuk mendeteksi masalah yang sering tidak disadari anak maupun keluarganya.

Catatan Cak AT berjudul * Tak Peduli Mata * menyertakan kebiasaan orangtua yang lebih cepat menyalahkan anak ketika nilai pelajaran menurun atau konsentrasi terganggu, tanpa memastikan apakah mereka dapat melihat tulisan di papan tulis dengan jelas.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, pemeriksaan dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sekolah pada 1 Januari hingga 2 September 2026 menemukan 288.408 dari 9.241.377 peserta memiliki hasil pemeriksaan ketajaman penglihatan di bawah 6/9. Angka tersebut setara dengan 3,12 persen dari peserta yang diperiksa.

Hasil skrining itu belum menjadi diagnosis pasti. Anak yang menunjukkan gangguan penglihatan tetap memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisi dan penanganan yang sesuai.

Gangguan Mata Bisa Menghambat Anak Belajar

Cak AT menggambarkan anak yang duduk di bangku belakang, membukakan mata, dan berusaha membaca tulisan guru yang tampak kabur. Alih-alih memeriksa penglihatannya, orang tua justru mengira anak kurang belajar atau terlalu banyak bermain gawai.

Padahal, rabun jauh dan astigmatisme atau mata silinder dapat membuat anak kesulitan mengikuti pelajaran. Anak juga belum tentu memahami bahwa kesulitan tersebut berasal dari gangguan penglihatan.

Karena itu, orangtua dan guru perlu memperhatikan sejumlah tanda, seperti kebiasaan menyipitkan mata, mendekatkan buku ke wajah, menggosok mata berulang kali, atau kesulitan membaca tulisan dari kejauhan.

Pemeriksaan yang tepat dapat membantu mengidentifikasi gangguan tersebut. Jika anak membutuhkan kacamata, penggunaan lensa dengan ukuran sesuai hasil pemeriksaan dapat membantunya melihat lebih jelas dan mengikuti kegiatan belajar dengan lebih baik.

Gangguan Penglihatan Juga Mengancam Orang Dewasa

Persoalan kesehatan mata tidak hanya menyangkut anak sekolah. Orang dewasa juga kerap menunda pemeriksaan ketika mulai kesulitan membaca tulisan kecil, harus menjauhkan ponsel, atau merasa silau saat berkendara malam hari.

Data CKG pada periode yang sama mencatat 353.186 peserta berusia 40 tahun ke atas masuk kategori curiga katarak dari 13.618.207 orang yang menjalani skrining. Jumlah tersebut setara dengan 2,59 persen.

Hasil itu menunjukkan kecurigaan yang masih perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan medis, bukan diagnosis pasti.

Katarak merupakan kondisi ketika lensa mata mengalami kekeruhan sehingga penglihatan berangsur kabur. Gangguan ini dapat menghambat aktivitas sehari-hari, mulai dari membaca dan mengenali wajah hingga berjalan dengan aman.

Dalam banyak kasus, operasi katarak dapat memperbaiki penglihatan secara bermakna. Karena itu, pemeriksaan dan penanganan medis penting agar penderita tidak terus mengalami keterbatasan yang sebenarnya dapat ditangani.

Skrining Harus Berujung pada Penanganan

Dalam catatannya, Cak AT menekankan bahwa kepedulian terhadap kesehatan mata tidak cukup diwujudkan melalui kampanye dan kegiatan pemeriksaan sesaat. Hasil skrining harus ditindaklanjuti dengan layanan kesehatan yang sesuai.

Sekolah dapat bekerja sama dengan puskesmas untuk mengenali siswa yang mengalami kesulitan melihat. Pemerintah daerah perlu memastikan proses rujukan berjalan, sedangkan organisasi masyarakat dapat membantu keluarga yang kesulitan mengakses pemeriksaan atau membeli kacamata.

Program CKG menjadi salah satu upaya untuk menemukan masalah kesehatan sejak dini. Namun, manfaatnya bergantung pada tindak lanjut bagi peserta yang terindikasi mengalami gangguan.

Kampanye *Love Your Eyes* yang didorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan International Agency for the Prevention of Blindness juga mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mata.

Keberhasilan upaya tersebut tidak semestinya hanya diukur dari jumlah peserta pemeriksaan atau kacamata yang dibagikan. Hal yang lebih penting ialah memastikan orang yang membutuhkan memperoleh pemeriksaan lanjutan dan penanganan yang tepat.

Kepedulian Dimulai dari Keluarga

Cak AT mengingatkan bahwa keluarga dapat mengambil langkah sederhana untuk menjaga kesehatan mata. Orangtua perlu bertanya kepada anak apakah tulisan di papan tulis terlihat jelas, memperhatikan perubahan perilaku, dan membawa anak menjalani pemeriksaan jika muncul tanda-tanda gangguan penglihatan.

Penggunaan layar secara wajar, pencahayaan yang memadai, serta aktivitas luar ruangan juga menjadi bagian dari kebiasaan yang mendukung kesehatan mata. Orang dewasa pun perlu memeriksakan penglihatannya sesuai kebutuhan dan anjuran tenaga kesehatan.

Jika seseorang mengalami kehilangan penglihatan secara mendadak, nyeri mata hebat, atau kilatan cahaya yang muncul tiba-tiba disertai banyak bintik melayang, ia perlu segera mencari pertolongan medis.

Dalam catatan bertanggal 15 Oktober 2026 itu, Cak AT menegaskan bahwa kepedulian terhadap mata tidak boleh berhenti setelah peringatan Hari Penglihatan Sedunia pada 8 Oktober.

Sebelum memastikan anak mencapai prestasi, mereka perlu anak dapat melihat pelajaran dengan jelas. Sebab, pendidikan bukan hanya tentang buku, guru, dan ruang kelas, melainkan juga kemampuan anak menyerap apa yang diajarkan.

Cak AT – Ahmadie Thaha
Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 15 Oktober 2026


BERITA TERKAIT