Rupiah Tertekan ke Rp18.021 per Dolar AS, IHSG Anjlok ke Level 5.206

Ilustrasi Dolar dan Rupiah.(Poto/net)

Jakarta, Satuju.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Jumat (16/10/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada pukul 09.04 WIB terkoreksi 83 poin atau 0,46 persen ke posisi Rp18.021 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi seiring dengan penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang di kawasan Asia. Ringgit Malaysia tercatat melemah 0,06 persen, baht Thailand turun 0,08 persen, yuan China terkoreksi 0,02 persen, dolar Singapura melemah 0,05 persen, dan yen Jepang turun 0,02 persen.

Bagi rupiah, tekanan pada awal perdagangan ini menjadi pelemahan ketiga dalam tiga hari perdagangan terakhir. Salah satu faktor yang disinyalir memengaruhi pergerakan mata uang domestik tersebut adalah rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk September 2026.

Muhammad Amru Syifa dari Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) menjelaskan bahwa inflasi CPI AS pada September mencapai 3,7 persen, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 3,6 persen.

Dalam keterangannya kepada Antara pada Kamis, Amru menyebut kenaikan inflasi tersebut memperkuat perkiraan bahwa Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter ketat. Ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan juga masih tinggi.

“Kondisi ini berpotensi mendorong aliran modal menuju aset berdenominasi dolar AS dan membatasi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” katanya.

Selain tekanan dari faktor eksternal, pasar keuangan Indonesia juga menghadapi perhatian terkait evaluasi klasifikasi pasar saham oleh penyedia indeks global, MSCI.

MSCI mengumumkan bahwa pasar saham Indonesia berpotensi dikeluarkan dari kategori Emerging Market dan dipindahkan ke klasifikasi Standalone Market. Opsi tersebut masih dalam tahap peninjauan, dengan keputusan akhir dijadwalkan pada Juni 2027.

Dalam keterangannya, MSCI menyoroti kekhawatiran pelaku pasar mengenai kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham serta dugaan praktik perdagangan terkoordinasi. Perkembangan ini menjadi salah satu isu yang dicermati investor terhadap pasar modal Indonesia.

IHSG Dibuka Melemah, 663 Saham Berada di Zona Merah

Tekanan juga terlihat di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan sesi pagi Jumat (16/10/2026) dan bergerak di zona merah.

Mengacu pada data RTI Business, IHSG memulai perdagangan di level 5.393,924. Pelemahan berlanjut hingga pukul 09.33 WIB, ketika indeks turun ke posisi 5.206,337.

Sepanjang perdagangan awal tersebut, IHSG bergerak dalam rentang 5.193,222 hingga 5.404,508. Mayoritas saham mengalami tekanan, dengan hanya 19 saham menguat, sementara 663 saham melemah dan 32 saham bergerak stagnan.

Aktivitas transaksi pasar saham hingga waktu tersebut tercatat mencapai Rp2,53 triliun. Nilai transaksi itu berasal dari perdagangan sebanyak 7,1 miliar saham dalam 197.946 kali transaksi.

Pergerakan rupiah dan IHSG pada awal perdagangan ini menunjukkan tekanan yang terjadi di pasar keuangan domestik. Investor masih mencermati arah kebijakan moneter AS, perkembangan arus modal global, serta evaluasi MSCI terhadap status pasar saham Indonesia.


BERITA TERKAIT