Dua Super-Tanker Minyak Terbakar di Selat Hormuz, Iran Sebut Hantam Ranjau Laut

Dua Super-Tanker Minyak Terbakar di Selat Hormuz

Jakarta, Satuju.com – Garda Revolusi Iran kapal (IRGC) menyatakan dua super-tanker minyak yang masing-masing mengangkut sekitar dua juta barel minyak mentah terbakar setelah menghantam laut di Selat Hormuz. Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang mengganggu lalu lintas pelayaran di jalur strategis perdagangan minyak dunia tersebut.

IRGC menyebut kapal tanker pertama mengalami ledakan yang memicu kebakaran hebat setelah menghantam laut pada hari Sabtu. Sementara itu, kapal tanker kedua dilaporkan mengalami kebakaran besar setelah mengalami kejadian serupa.

Kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan bahwa kedua kapal tersebut mematikan sistem navigasi dan radar mereka. Otoritas Iran juga menuduh kapal-kapal itu berupaya melintasi jalur perairan menggunakan rute yang tidak mendapat izin dari Teheran.

Menurut klaim IRGC, salah satu kapal tanker berusaha melewati Selat Hormuz dengan dukungan AS, sedangkan kapal lainnya dilaporkan tidak dapat bergerak. Hingga kini, informasi mengenai identitas kedua kapal maupun negara asal minyak yang diangkut belum tersedia.

Iran mengambil kendali atas Selat Hormuz setelah perang AS-Israel terhadap negara tersebut dimulai pada akhir Februari 2026. Sejak itu, Teheran mewajibkan kapal-kapal yang hendak melintas untuk meminta izin terlebih dahulu.

Sebelum perang pecah, sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz. Posisi strategis ini membuat setiap gangguan pelayaran di kawasan tersebut berpotensi mempengaruhi pasokan energi dan harga minyak global.

Komandan Angkatan Laut IRGC, Laksamana Muda Ali Azmaei, pekan ini memperingatkan bahwa kapal yang mematikan sistem navigasinya akan dianggap sebagai pihak yang mengancam. Di sisi lain, AS dikenakan blokade laut terhadap ekspor minyak Iran sebagai langkah balasan.

Serangan Kapal Meningkat, Pasokan Minyak Terganggu

Militer Iran sebelumnya melaporkan dua kapal tanker terbakar pada Kamis dan Jumat di wilayah yang disebut Teheran sebagai zona terlarang di Teluk Oman. Pemantau maritim juga melaporkan dua kapal tanker diserang di wilayah Teluk, lepas pantai Arab Saudi, pada hari Jumat.

Perusahaan keamanan maritim Vanguard, Organisasi Maritim Internasional (IMO), dan badan maritim Inggris, UKMTO, melaporkan enam kapal diserang di dalam atau di sekitar Selat Hormuz pada pekan sebelumnya. Jumlah tersebut menjadi yang terbanyak dalam satu hari sejak perang dimulai.

Serangan di sekitar jalur pelayaran itu dilaporkan meningkat tajam selama dua pekan terakhir. Iran menyatakan peningkatan serangan tersebut merupakan respons terhadap blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta sanksi sanksi yang diberlakukan bulan sebelumnya.

Dampak gangguan pelayaran terlihat pada penurunan volume minyak yang disalurkan. Berdasarkan data Kpler, volume minyak yang disalurkan tercatat hampir 20,8 juta barel pada 8 Oktober, kemudian turun menjadi sekitar 2,9 juta barel pada 11 Oktober.

Penurunan tersebut menambah tekanan terhadap pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga energi serta inflasi.

Trump Bantah Akan Menggunakan Senjata Nuklir

Di tengah konflik yang terus berlangsung, Presiden AS Donald Trump mengungkap kemungkinan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran. Dalam wawancara dengan situs berita Newsmax pada Kamis, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak akan menggunakan senjata tersebut.

Trump juga mengatakan tidak mempertimbangkan pengerahan pasukan darat ke Iran. Ia menyatakan tidak melihat kemungkinan langkah tersebut dilakukan.

Selain itu, Trump mengungkapkan keyakinannya bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang dapat tercapai setelah pemilihan umum AS yang diselenggarakan berlangsung pada 3 November 2026.

Perkembangan di Selat Hormuz masih menjadi perhatian karena eskalasi konflik dan kelanjutan pelayaran yang berpotensi memperpanjang gangguan pasokan minyak dunia.