Kasus ISPA Akibat Karhutla Tembus 333.470, Kemenkes Siagakan Ribuan Fasilitas Kesehatan
Ilustrasi kesehatan jantung.(poto/net)
Jakarta, Satuju.com – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah mencapai 333.470 kasus selama periode 18 Agustus hingga 21 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, lebih dari 75 ribu kasus dialami anak berusia di bawah lima tahun.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Then Suyanti, mengatakan data tersebut merupakan akumulasi kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla berdasarkan pencatatan hingga 21 Oktober 2026.
“Berdasarkan data Kemenkes per 21 Oktober 2026, akumulasi kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla telah menembus angka 333.470 kasus,” kata Then Suyanti, dikutip dari rilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis (22/10/2026).
Dari total kasus tersebut, sebanyak 258.298 kasus dialami warga berusia di atas lima tahun. Sementara itu, 75.172 kasus lainnya terjadi pada anak berusia nol hingga lima tahun atau balita.
Menurut Suyanti, kasus ISPA tersebut tersebar di 68 kabupaten/kota di tujuh provinsi. Peningkatan jumlah penderita sejalan dengan kondisi kabut asap yang semakin pekat akibat karhutla.
Kualitas Udara Sejumlah Daerah Masuk Kategori Berbahaya
Suyanti menjelaskan, pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) oleh Kemenkes pada 22 Oktober 2026 pukul 08.40 WIB menunjukkan sejumlah daerah berada dalam kategori hitam atau berbahaya, dengan konsentrasi PM2.5 di atas 300.
Partikel halus PM2.5 yang terkandung dalam asap karhutla dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.
Paparan asap dapat menyebabkan iritasi mata, gangguan pernapasan, hingga mengganggu kondisi orang yang memiliki penyakit paru-paru. Oleh karena itu, anak-anak dan usia lanjut (lansia) menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus karena lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara.
Kemenkes Siagakan 1.691 Puskesmas dan 360 Rumah Sakit
Untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat karhutla, Kemenkes menyiagakan 1.691 puskesmas dan menyiapkan 360 rumah sakit rujukan di wilayah terdampak.
Selain itu, sebanyak 87 laboratorium kesehatan masyarakat juga disiapkan untuk mendukung penanganan dampak kesehatan akibat kabut asap.
Pemerintah daerah juga telah menyediakan 491 rumah oksigen yang tersebar di masing-masing wilayah untuk membantu masyarakat yang membutuhkan layanan terkait gangguan pernapasan.
“Pemerintah daerah juga telah menyiapkan rumah oksigen sebanyak 491 rumah oksigen yang sudah tersedia di masing-masing wilayah,” ujar Suyanti.
Kemenkes juga mencatat ketersediaan 18.547 tenaga dokter umum dan dokter spesialis. Tenaga medis tersebut meliputi dokter spesialis mata, paru, telinga, hidung dan tenggorokan (THT), serta dermatologi dan venereologi (DVE).
Masyarakat Diminta Batasi Aktivitas di Luar Ruangan
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk memantau kualitas udara secara berkala melalui ISPUnet yang telah terintegrasi dengan aplikasi SATUSEHAT.
Warga yang berada di wilayah terdampak karhutla juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker, serta memperbanyak konsumsi udara putih.
Masyarakat diimbau segera mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami sesak napas atau batuk yang semakin memburuk.
“Kita harus melindungi kelompok rentan karena lebih mudah terkena penyakit dan kurangi asap yang masuk ke dalam rumah, termasuk kenali gangguan kesehatan,” tandas Suyanti.
Kemenkes mengingatkan kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan selama kabut asap masih mencemari udara, terutama untuk melindungi anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan.
