Karhutla Melanda Lima Gunung di Pulau Jawa, Ribuan Hektare Lahan Terbakar dan Enam Orang Tewas
Karhutla Melanda Lima Gunung di Pulau Jawa
Jakarta, Satuju.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah kawasan pegunungan di Pulau Jawa sepanjang pekan ini. Hingga Jumat (23/10/2026), beberapa titik kebakaran masih dalam penanganan petugas, dengan luas lahan terdampak mencapai ratusan hektar di sejumlah gunung.
Lima kawasan gunung yang dilaporkan terdampak karhutla meliputi Gunung Ciremai di Jawa Barat, Gunung Lawu dan Gunung Sumbing di Jawa Tengah, serta Gunung Arjuno-Welirang dan Gunung Bromo di Jawa Timur.
Kebakaran tersebut menghadirkan tantangan besar bagi tim gabungan di lapangan. Medan terjal, lokasi titik api di kawasan punggungan gunung, serta perubahan arah dan kecepatan angin membuat proses pemadaman tidak mudah dilakukan.
Di sejumlah kawasan, api bahkan telah meluas hingga mendekati wilayah hutan yang memiliki fungsi penting bagi ekosistem pegunungan.
1. Gunung Ciremai : Pemadaman Terkendala Medan Terjal
Kebakaran di kawasan Gunung Ciremai, Jawa Barat, mulai terdeteksi pada Rabu (21/10/2026) malam sekitar pukul 20.44 WIB.
Mengutip laporan detikJabar, Humas Masyarakat Peduli Api (MPA) Silihwangi Majakuning, Asep, mengatakan kebakaran awalnya terdeteksi di kawasan perbatasan hutan Desa Seda. Namun menjelang subuh, api mulai merambat ke sejumlah area lainnya.
"Sekarang api belum tertangani masih besar menuju sebelah Barat ke area atas, di situ kan ada zona rimba. Pertama titiknya itu katanya di Seda, sekarang sudah di Blok Yanggo Desa Cibuntu dari jam 4 pagi itu," ujar Asep, Kamis (22/10/2026).
Hingga Jumat (23/10/2026), upaya pemadaman masih berlangsung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan juga menyiapkan operasi water bombing untuk membantu mengendalikan kebakaran dari udara.
Sementara itu, tim gabungan yang terdiri atas unsur TNI, Polri, relawan, pemadam kebakaran, dan BPBD melakukan pemadaman melalui jalur darat.
Petugas dibagi ke sejumlah titik berdasarkan koordinat kebakaran, yakni Blok Bintangot, Panyusupan, Batu Arca, Karang Dinding, dan kawasan Bukit 1.000 Bintang.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu, menjelaskan bahwa medan yang terjal serta perubahan arah dan kecepatan angin menjadi kendala utama dalam upaya pemadaman.
"Selain medan terjal, perubahan arah dan kecepatan angin turut memengaruhi strategi pemadaman serta pembuatan sekat bakar untuk menghambat perambatan api," ungkap Indra Bayu, Jumat (23/10/2026), dikutip dari Antara.
2. Gunung Lawu: Kebakaran Meluas hingga 490 Hektare
Karhutla juga melanda lereng Gunung Lawu sejak Kamis (15/10/2026). Kebakaran yang awalnya terjadi di petak 28, 32, dan 62c Desa Gondosuli dilaporkan meluas ke wilayah Kecamatan Ngargoyoso dan kawasan puncak Hargo Dalem pada Rabu (21/10/2026).
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menyebut luas lahan terdampak kebakaran di Gunung Lawu telah mencapai sekitar 490 hektare.
Ia juga mengungkapkan adanya dugaan aktivitas manusia sebagai penyebab kebakaran, termasuk kemungkinan kegiatan pembuatan arang di kawasan gunung tersebut.
"Ada indikasi pembuatan arang yang ada di Gunung Lawu. Lokasinya di mana, itu yang paling paham teman-teman relawan, begitu teman-teman yang ada di atas yang menemukan itu," ungkap Bergas, Kamis (22/10/2026), dikutip dari detikJateng.
Meski demikian, dugaan tersebut masih memerlukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan penyebab kebakaran.
Penanganan karhutla di Gunung Lawu juga telah ditetapkan dalam status tanggap bencana. Petugas terus melakukan upaya pengendalian untuk mencegah api meluas ke kawasan lainnya.
3. Gunung Sumbing: Lahan Terbakar Capai 779,4 Hektare
Kebakaran di kawasan Gunung Sumbing, Jawa Tengah, masih berlangsung hingga Jumat (23/10/2026) pagi.
Berdasarkan laporan Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Kedu Utara, Dimyati, titik api masih ditemukan di petak 20-1 wilayah Kabupaten Temanggung dan petak 23 di Kabupaten Wonosobo.
Luas kawasan terdampak karhutla di Gunung Sumbing dilaporkan mencapai 779,4 hektare. Area yang terdampak meliputi sabana, kawasan yang ditumbuhi pohon kemlandingan gunung, hingga hutan rimba campuran.
Petugas masih memantau perkembangan kebakaran dan melakukan upaya pemadaman. Namun, kondisi cuaca dan angin kencang menjadi tantangan tersendiri.
Dimyati menjelaskan bahwa angin yang bertiup kencang membuat api bergerak cepat sehingga penyebarannya sulit diimbangi oleh petugas.
"Kondisi angin yang bertiup kencang membuat pergerakan api berlangsung cepat, sehingga upaya pemadaman yang dilakukan petugas belum mampu mengimbangi penyebaran kebakaran," ujar Dimyati, dikutip dari Antara Jateng.
Besarnya kawasan yang terdampak menunjukkan pentingnya pengendalian api secara berkelanjutan, terutama untuk mencegah kebakaran menjalar ke bagian lain dari kawasan pegunungan tersebut.
4. Gunung Arjuno-Welirang: Api Meluas ke Sejumlah Daerah
Karhutla di kawasan Gunung Arjuno-Welirang, Jawa Timur, mulai terdeteksi pada Kamis (15/10/2026).
Kepala UPT Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Agustiningtyas Marini, mengatakan titik awal kebakaran berada di wilayah Pasuruan, kemudian meluas ke sebagian Kabupaten Malang dan Kota Batu. Api juga dilaporkan mulai memasuki wilayah Kabupaten Mojokerto.
Berdasarkan laporan BPBD Jawa Timur pada Rabu (21/10/2026), luas kawasan yang terbakar telah mencapai 736,8 hektare.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, menyebut sekitar 64 personel gabungan dikerahkan untuk melakukan pemadaman melalui jalur darat.
Namun, lokasi titik api yang berada di ketinggian dan punggungan gunung menyulitkan akses petugas. Sebagian lokasi tidak dapat dijangkau kendaraan bermotor sehingga tim harus berjalan kaki untuk mencapai titik kebakaran.
"Lokasi titik api sering kali berada di ketinggian atau punggungan gunung yang tidak dapat dijangkau oleh kendaraan bermotor. Tim gabungan harus berjalan kaki mendaki dan pemadaman hanya bisa dilakukan secara manual," ungkap Satriyo, Rabu (21/10/2026).
Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman membutuhkan tenaga besar dan waktu yang tidak singkat, terutama ketika api berada di kawasan yang sulit dijangkau.
5. Gunung Bromo: Enam Orang Meninggal Dunia
Kebakaran di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, juga menjadi perhatian setelah menimbulkan korban jiwa di kalangan personel yang terlibat dalam penanganan karhutla.
Kebakaran awalnya muncul di kawasan Bukit Kembang, Desa Pucuk Sari, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, pada Kamis (15/10/2026). Api kemudian meluas ke sejumlah area lainnya.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) sempat membatasi akses wisata di kawasan tersebut pada Sabtu (17/10/2026).
Namun, berdasarkan informasi per Jumat (23/10/2026) pukul 01.00 WIB, akses wisata di kawasan Penanjakan kembali dibuka setelah tidak ditemukan titik api yang terpantau di lokasi tersebut.
Meski demikian, kebakaran di kawasan Bromo telah menelan korban jiwa. Jumlah personel tim gabungan yang meninggal dunia dilaporkan mencapai enam orang.
Korban terbaru adalah Suraji (40), sekuriti hotel setempat yang turut menjadi relawan pemadaman. Ia meninggal dunia pada Jumat (23/10/2026) pukul 12.00 WIB setelah menjalani perawatan intensif.
Lima korban lainnya adalah petugas BB TNBTS Sukaris (55) dan Hendra Rony Wagiyanata (33), karyawan hotel Wisnu Yuda Pratama (25) dan Sefriel Ardiansyah (19), serta anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP), Munawi (44).
Peristiwa ini menjadi pengingat besarnya risiko yang dihadapi petugas dan relawan saat terjadi pemadaman kebakaran di kawasan pegunungan.
Karhutla Pegunungan Jadi Perhatian Serius
Kebakaran yang melanda lima kawasan gunung di Pulau Jawa menampilkan tantangan penanganan karhutla di wilayah dengan medan sulit dan kondisi cuaca yang berubah-ubah.
Gunung Sumbing tercatat memiliki luas lahan terdampak sekitar 779,4 hektar, disusul kawasan Arjuno-Welirang seluas 736,8 hektar dan Gunung Lawu sekitar 490 hektar berdasarkan laporan pada tanggal yang disebutkan masing-masing.
Angka tersebut menggambarkan besarnya dampak kebakaran, meskipun waktu pelaporan dan perkembangan kondisi di setiap wilayah berbeda sehingga tidak dapat langsung dianggap sebagai total luas kebakaran terbaru.
Selain mengancam vegetasi dan ekosistem hutan, karhutla juga meningkatkan risiko bagi masyarakat, pendaki, petugas, dan relawan yang berada di sekitar lokasi.
Penanganan kebakaran memerlukan koordinasi lintas instansi, pemantauan titik api, serta langkah pencegahan agar kebakaran tidak kembali meluas. Penyelidikan terhadap dugaan penyebab kebakaran juga penting dilakukan untuk memastikan faktor pemicu dan mencegah kejadian serupa.
Di tengah upaya pemadaman, keselamatan petugas dan lawan tetap menjadi prioritas, mengingat medan terjal, angin kencang, serta perubahan kondisi api dapat menimbulkan risiko serius di lapangan.
