BMKG Ungkap Penyebab Kekeringan Panjang, Sejumlah Wilayah Berpotensi Diguyur Hujan Ekstrem

Ilustrasi cuaca hujan.(poto/net)

Pekanbaru, Satuju.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa periode kekeringan yang panjang pada musim kemarau tahun ini dipengaruhi oleh fenomena El Niño yang sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Meski demikian, Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November 2026.

BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami hujan dengan intensitas rendah hingga menengah dalam sepekan ke depan. Berdasarkan prakiraan cuaca Dasarian I November 2026, sekitar 77 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan kategori menengah, yakni 50–150 milimeter per dasarian atau periode sepuluh hari.

Curah hujan kategori menengah diperkirakan mendominasi wilayah Sumatera, Kalimantan, Papua, serta sebagian Jawa dan Sulawesi. Sementara itu, curah hujan kategori rendah berpotensi terjadi di sebagian wilayah Lampung, Banten, DKI Jakarta, pesisir utara Jawa, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Sulawesi dan Maluku.

Meski musim hujan mulai tiba, masyarakat tetap diminta mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi di sejumlah daerah akibat dinamika atmosfer.

Gelombang Suasana Berpotensi Meningkatkan Hujan

Dalam sepekan ke depan, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diprakirakan mempengaruhi sebagian besar wilayah Indonesia bagian barat dan selatan.

Selain MJO, aktivitas gelombang atmosfer juga diperkirakan mempengaruhi kondisi cuaca. Fenomena tersebut meliputi Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Mixed Rossby-Gravity di wilayah barat Indonesia, serta Gelombang Kelvin di bagian utara.

Kombinasi aktivitas MJO dan gelombang atmosfer tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan, terutama di wilayah yang mengalami pemusatan massa udara dan memiliki kondisi atmosfer labil.

BMKG juga mengisyaratkan adanya sirkulasi siklonik yang berpotensi terbentuk di Laut Andaman dan Samudra Pasifik sebelah utara Papua Barat Daya.

Keberadaan sistem tersebut dapat mempengaruhi pola angin regional serta membentuk daerah perlambatan dan pertemuan angin di sekitar pusat sirkulasi. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan konvektif yang dapat memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Daftar Wilayah Berpotensi Hujan Lebat hingga Ekstrem

BMKG mengeluarkan prakiraan potensi hujan dengan berbagai intensitas untuk Rabu (28/10/2026). Sejumlah wilayah perlu mewaspadai kemungkinan hujan lebat hingga sangat lebat, bahkan ekstrem.

Berikut rincian wilayah yang masuk dalam daftar kewaspadaan tersebut:

1. Hujan sangat lebat hingga ekstrem

Jawa Barat.

2. Hujan lebat hingga sangat lebat

Sumatera Utara.

Sumatera Barat.

Kepulauan Bangka Belitung.

Bengkulu.

Jawa Tengah.

Daerah Istimewa Yogyakarta.

Aceh.

3. Hujan sedang hingga lebat

Aceh.

Riau.

Jambi.

Sumatera Selatan.

Lampung.

Banten.

DKI Jakarta.

Jawa Timur.

Bali.

Kalimantan Barat.

Kalimantan Tengah.

Kalimantan Selatan.

Maluku Utara.

Papua Barat Daya.

Papua Barat.

Papua Tengah.

Papua Pegunungan.

Papua.

4. Potensi angin kencang

Papua Pegunungan.

Potensi hujan dengan intensitas tinggi tersebut perlu diantisipasi karena dapat meningkatkan risiko tenggelam, banjir, tanah longsor, serta gangguan aktivitas masyarakat, terutama di wilayah yang rawan bencana hidrometeorologi.

Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terkini dari BMKG, berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan, serta mewaspadai perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Memasuki masa menuju peralihan musim hujan, kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah menjadi penting untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh cuaca ekstrem.