Inggris Imbau Warga Siapkan Stok Makanan untuk Tiga Hari, Antisipasi Perang dan Krisis
Ilustrasi perang.(poto/net)
London, Satuju.com – Pemerintah sejumlah negara di Eropa mulai mengeluarkan panduan kesiapsiagaan bagi masyarakat untuk menghadapi berbagai situasi darurat, mulai dari perang, serangan siber, cuaca ekstrem, hingga wabah penyakit. Warga juga diimbau menyiapkan persediaan makanan dan kebutuhan pokok untuk mengantisipasi kondisi terburuk.
Inggris menjadi salah satu negara yang mengampanyekan kesiapsiagaan masyarakat melalui program “Be Ready”. Pemerintah meminta warga menyiapkan persediaan makanan, air minum, dan kebutuhan dasar yang cukup untuk memenuhi kebutuhan selama tiga hari.
Imbauan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya perhatian terhadap risiko bencana alam, konflik bersenjata, dan berbagai keadaan darurat lainnya yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat.
Dalam panduan itu, pemerintah Inggris mengumumkan sejumlah perlengkapan yang perlu tersedia di rumah. Persediaan tersebut meliputi makanan tahan lama untuk tiga hari, air minum kemasan sebanyak sembilan liter per orang, produk kebersihan, perlengkapan mandi, pakaian hangat, kantong tidur, selimut, serta kotak pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).
Panduan ini ditujukan agar masyarakat memiliki persediaan dasar ketika terjadi keadaan darurat yang menghambat akses terhadap kebutuhan sehari-hari.
Inggris Soroti Ancaman Keamanan Menjelang 2030
Selain menggalakkan kesiapsiagaan masyarakat, pemerintah Inggris juga menyoroti potensi ancaman keamanan di Eropa dalam beberapa tahun mendatang.
Dalam tulisannya yang dimuat The Telegraph pada Sabtu (24/10/2026), Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting memperingatkan bahwa negara-negara Eropa perlu memperkuat persiapan menghadapi kemungkinan konflik bersenjata.
Streeting menyebut Inggris dan sekutu-sekutunya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) memiliki waktu yang terbatas untuk meningkatkan kesiapan pertahanan menjelang tahun 2030.
Ia menilai, perkembangan kapasitas militer dan ekonomi perang negara-negara yang dianggap sebagai lawan dapat meningkatkan risiko serangan terhadap Inggris.
"Keinginan pihak lawan untuk mencelakai kita bukanlah hal baru. Hal yang telah berubah adalah kapasitas mereka," tulis Streeting sebagaimana dikutip Anadolu Agency dari The Telegraph.
Ia menambahkan, menjelang tahun 2030, peningkatan kekuatan militer dan kemampuan ekonomi perang pihak lawan dapat menempatkan mereka pada posisi untuk melancarkan serangan.
Streeting menyebut Inggris bersama negara-negara sekutu memiliki waktu sedikit lebih dari 1.000 hari untuk menyelesaikan persiapan pertahanan.
Peringatan tersebut mengenai pentingnya kesiapsiagaan, baik pada tingkat perlindungan negara maupun masyarakat. Meski demikian, imbauan untuk menyiapkan kebutuhan dasar tidak dengan sendirinya berarti perang akan segera terjadi, melainkan merupakan bagian dari upaya mengantisipasi berbagai kemungkinan keadaan darurat.
