Kiai Jejen, Perintis yang Menanam Sejarah dari Gontor

Poto Ai hanya ilustrasi: Kiai Jejen mengabdikan hidupnya untuk pendidikan pesantren. Dari perintisan TMI Al-Amien Prenduan hingga membina generasi, jejaknya tetap hidup.(poto/ist/Ahmadie Thaha)

Dari Gontor ke Prenduan

Catatan Cak AT

Kiai Jejen meninggalkan jejak penting dalam sejarah pendidikan pesantren. Sebelum dikenal sebagai pengasuh pesantren, KH. Moh. Zaeni Zaenuddin merupakan salah satu santri yang bersedia meninggalkan Gontor untuk membantu KH. Muhammad Idris Jauhari merintis lembaga pendidikan Islam modern di Prenduan, Sumenep, Madura.

Kabar wafatnya Kiai Jejen pada Kamis, 29 Oktober 2026, menghidupkan kembali kenangan tentang pengabdian yang dimulainya sekitar 1970. Saat itu, KH. Imam Zarkasyi, pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor yang akrab disapa Pak Zar, menawarkan kepada para santri dan asatidz kesempatan mengabdi untuk membantu Idris Jauhari.

Tanpa banyak pertimbangan, Moh. Zaeni Zaenuddin menyatakan kesediaannya. Bersama empat santri lainnya, ia berangkat menuju Prenduan untuk ikut mewujudkan cita-cita pendidikan pesantren modern.

Keberangkatan mereka diiringi seruan takbir dari Pak Zar melalui pengeras suara masjid.

“Siapa di antara kalian yang bersedia mengabdi beberapa tahun untuk membantu Idris Jauhari?”

Pak Zar kemudian menyerukan doa dan penyemangat bagi para santri yang akan berangkat.

“Allahu Akbar, selamat jalan anak-anakku,” seru Pak Zar. “Allahu Akbar, selamat berjuang anak-anakku.”

Doa itu menjadi bekal bagi lima santri muda yang meninggalkan lingkungan pendidikan mereka untuk menghadapi tantangan baru di Madura.

Merintis Pesantren dari Rumah Kontrakan

Sekitar enam bulan setelah berada di Prenduan, perintisan Tarbiyatul Muallimin al-Islamiyah (TMI) mulai berjalan. Pada awal 1971, kegiatan pendidikan berlangsung dengan sekitar 40 murid. Mereka menggunakan rumah kontrakan milik Pak Parto sebagai tempat belajar sekaligus tempat tinggal santri.

Fasilitas terbatas tidak menghentikan langkah para perintis. Mereka memulai pendidikan dengan apa yang tersedia, sembari membangun fondasi bagi lembaga yang kelak berkembang menjadi Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.

Perjuangan itu berawal dari cita-cita KH. Ahmad Djauhari Chotib, ulama yang mengasuh Pondok Tegal di Prenduan sekaligus mursyid Tarekat Tijaniyah. Ia ingin putra-putranya mengembangkan sistem pendidikan modern sebagaimana yang diterapkan Gontor.

Karena itu, ia mengirim ketiga putranya untuk belajar di Gontor. Setelah KH. Muhammad Tijani Djauhari dan KH. Muhammad Idris Jauhari kembali, sang ayah memberikan amanah untuk mendirikan pesantren modern.

Lahan seluas lebih dari tiga hektare telah disiapkan. Namun, cita-cita itu membutuhkan orang-orang yang bersedia bekerja, mengajar, dan membangun lembaga dari keadaan yang serba terbatas.

Ajakan Pak Zar menjadi bagian penting dari ikhtiar tersebut. Lima santri bersedia berangkat, meninggalkan tempat yang telah akrab bagi mereka, demi membantu menanam fondasi pendidikan di Prenduan.

Perjalanan dari Ponorogo menuju ujung timur Madura pada masa itu bukan perkara ringan. Mereka harus menempuh perjalanan darat, menyeberangi laut, kemudian melanjutkan perjalanan menuju tempat pengabdian. Kemudahan komunikasi seperti sekarang belum tersedia.

Mereka berangkat tanpa jaminan kenyamanan. Yang mereka bawa adalah amanah, keyakinan, dan kesediaan bekerja.

Ketika Pengabdian Lebih Penting daripada Kemegahan

Kiai Jejen memahami bahwa pesantren tidak lahir hanya dari bangunan, papan nama, atau seremoni peresmian. Sebuah lembaga pendidikan tumbuh melalui pengorbanan orang-orang yang bersedia memberikan tenaga, pikiran, waktu, dan sebagian besar hidupnya.

Seorang perintis tidak bisa selalu menunggu fasilitas lengkap. Ia harus bekerja dengan apa yang tersedia, bertahan menghadapi kekurangan, dan menjaga cita-cita ketika hasil perjuangan belum terlihat.

Rumah kontrakan yang sederhana dapat menjadi ruang pembibitan generasi. Puluhan murid dapat menjadi awal sebuah komunitas pendidikan. Dari langkah kecil yang dijalankan secara konsisten, sebuah lembaga dapat berkembang melampaui keadaan awalnya.

Al-Amien Prenduan kini memiliki perjalanan pendidikan yang panjang dengan berbagai jenjang pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Perkembangan itu tentu merupakan hasil kerja kolektif banyak orang dan generasi.

Namun, sejarah juga perlu mengingat mereka yang bekerja pada masa awal, ketika fasilitas belum memadai dan hasil perjuangan belum terlihat.

Mereka menanam ketika orang lain belum bisa berteduh di bawah pohon yang kelak tumbuh besar.

Belajar Kepemimpinan dari Kiai Idris

Dalam kesaksiannya, Kiai Jejen pernah mengenang kedekatannya dengan KH. Muhammad Idris Jauhari, sahabat seperjuangan yang memimpin perintisan TMI.

Ia mengingat bagaimana Kiai Idris terlibat langsung dalam kehidupan santri. Perhatian terhadap bahasa, kedisiplinan, dan berbagai urusan pendidikan menjadi bagian dari keseharian sang pengasuh.

Teladan itu membekas dalam ingatan Kiai Jejen.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan pesantren tidak berhenti di ruang kelas. Seorang pengasuh juga mendidik melalui kebiasaan, pengawasan, kedisiplinan, dan contoh yang ia berikan setiap hari.

Ilmu mengisi pikiran, sedangkan keteladanan membentuk watak. Keduanya membutuhkan kehadiran pendidik yang bersedia terlibat langsung dalam kehidupan murid-muridnya.

Nilai-nilai itulah yang turut mewarnai perjalanan pengabdian Kiai Jejen setelah masa perintisan di Madura.

Ia kemudian dikenal sebagai pimpinan Pondok Pesantren Daaruttaqwa serta pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al-Madinah di Melati, Bogor.

Di tempat yang berbeda, ia melanjutkan ikhtiar membina generasi melalui pendidikan pesantren.

Puluhan tahun mengasuh lembaga pendidikan tentu menghadirkan beragam tanggung jawab. Pengasuh harus memikirkan santri, guru, kurikulum, kedisiplinan, pembiayaan, fasilitas, dan masa depan lembaga.

Di balik kehidupan pesantren yang tampak tenang, ada banyak persoalan yang menuntut perhatian dan keputusan. Pengasuh harus menyelesaikan urusan sehari-hari tanpa kehilangan arah dari cita-cita pendidikan.

Kiai Jejen menjalani pengabdian tersebut hingga usia 83 tahun.

Suara yang Berhenti, Perjuangan yang Berlanjut

Dalam foto-foto pertemuan terakhir yang beredar, Kiai Jejen terlihat mengenakan kopiah hitam, jas hitam, dan baju putih, dengan selendang bermotif melingkar di lehernya.

Tubuhnya telah menua. Tongkat menopang langkahnya. Namun, orang-orang yang mengenalnya mengetahui bahwa keteguhan dan semangatnya tidak serta-merta surut bersama usia.

Suaranya tetap tegas. Ketika berbicara, ia dapat menggebu-gebu, menyampaikan keyakinan dengan energi seorang pejuang yang belum selesai menjalankan amanahnya.

Kini, suara itu telah berhenti. Orang-orang yang pernah mendengar nasihatnya tidak lagi dapat menyaksikan langsung gerak tangannya atau merasakan energi yang mengiringi perkataannya.

Namun, kematian tidak serta-merta mengakhiri pengaruh seorang pendidik.

Para santri yang pernah belajar darinya dapat membawa nilai-nilai pendidikan ke tempat masing-masing. Para guru dapat meneruskan tradisi keteladanan. Pengelola pesantren dapat menjaga lembaga dengan integritas, sementara generasi muda dapat mempelajari kembali sejarah perjuangan para pendahulu.

Di sinilah amanah setelah kepergian seorang ulama menemukan maknanya.

Pesantren harus tetap menjadi tempat pembentukan manusia, bukan sekadar lembaga yang mengejar jumlah penerimaan santri, luas bangunan, atau banyaknya program.

Semua itu dapat mendukung kemajuan, tetapi tujuan pendidikan jauh lebih besar: melahirkan manusia berilmu, berakhlak, mandiri, dan mampu memberi manfaat bagi masyarakat.

Kiai Jejen telah menyerahkan sebagian besar hidupnya untuk cita-cita tersebut. Kita mungkin tidak mengetahui seluruh pengorbanannya. Kita juga tidak dapat menghitung berapa banyak orang yang kelak meneruskan kebaikan melalui ilmu yang mereka peroleh darinya.

Justru di situlah nilai pengabdian seorang pendidik. Hasil terbaiknya sering tumbuh jauh dari pandangannya, bahkan setelah ia tiada.

Mewariskan Semangat Para Perintis

Kisah Kiai Jejen mengingatkan kita bahwa lembaga pendidikan besar tidak selalu bermula dari fasilitas yang megah. Ia dapat tumbuh dari keputusan sederhana yang menuntut keberanian: bersedia berangkat, mengabdi, dan bekerja ketika keadaan belum menjanjikan kenyamanan.

Dari Gontor ke Prenduan, Kiai Jejen memilih jalan pengabdian. Pengalaman merintis TMI menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam dunia pendidikan pesantren.

Kini, tanggung jawab melanjutkan perjuangan itu berada di tangan generasi berikutnya. Mereka perlu menjaga bukan hanya bangunan dan sistem pendidikan, melainkan juga semangat yang menghidupkannya.

Selamat jalan, Kiai Jejen. Perjalanan pengabdian Anda di dunia telah berakhir, tetapi jejaknya tetap berjalan bersama para santri, guru, sahabat, dan keluarga besar pesantren.

Semoga Allah menerima seluruh amal saleh almarhum, mengampuni segala kekhilafannya, melapangkan alam kuburnya, dan menempatkannya di tempat yang mulia di sisi-Nya.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

Cak AT – Ahmadie Thaha
Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 30 Oktober 2026


BERITA TERKAIT