Pemanasan Global Makin Cepat, Ambang 1,5 Derajat Terancam Terlampaui Sebelum 2030

Poto Ai hanya ilustrasi: Penelitian terbaru mengungkap laju pemanasan global mencapai 0,35 derajat per dekade. Ambang 1,5 derajat Celsius terancam sebelum 2030.(poto/ist)

JAKARTA, Satuju.com – Pemanasan global memasuki fase yang semakin buruk. Penelitian terbaru menunjukkan laju kenaikan suhu rata-rata Bumi meningkat hampir dua kali lipat dalam satu dekade terakhir dibandingkan periode 1970–2015. Jika tren tersebut berlanjut, ambang pemanasan 1,5 derajat Celsius yang menjadi target Perjanjian Paris terancam terlampaui dalam jangka panjang sebelum 2030.

Temuan tersebut berasal dari penelitian ahli statistik Grant Foster dan Stefan Rahmstorf, peneliti Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK), Jerman. Hasil penelitian mereka diterbitkan dalam jurnal *Geophysical Research Letters* pada Maret 2026.

Keduanya menganalisis catatan suhu global selama lebih dari satu abad. Hasilnya menunjukkan laju pemanasan mencapai 0,35 derajat Celcius sekitar sepuluh tahun terakhir. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata pemanasan pada periode 1970–2015 yang sedikit di bawah 0,2 derajat Celsius per dekade.

ScienceDaily kemudian mengangkat temuan tersebut pada 29 Oktober 2026. Penelitian ini menjadi perhatian karena tidak hanya menunjukkan kenaikan suhu bumi, tetapi juga mengungkap percepatan laju pemanasan secara statistik.

Foster dan Rahmstorf tidak serta-merta menyimpulkan bahwa setiap kenaikan suhu disebabkan oleh aktivitas manusia. Mereka terlebih dahulu memperhitungkan sejumlah faktor alamiah yang dapat mempengaruhi perubahan suhu dalam jangka pendek.

Faktor tersebut meliputi El Niño, letusan gunung berapi, dan perubahan aktivitas Matahari. El Niño dapat meningkatkan suhu global sementara melalui pelepasan panas dari Samudra Pasifik tropis. Sebaliknya, partikel dari letusan gunung berapi tertentu dapat memantulkan sebagian sinar Matahari sehingga mendinginkan atmosfer.

Setelah memperhitungkan pengaruh ketiga faktor tersebut, para peneliti membandingkan lima kumpulan data suhu global dari NASA, NOAA, HadCRUT, Berkeley Earth, dan ERA5.

Hasilnya konsisten. Kelima kumpulan data menunjukkan bahwa laju pemanasan global mengalami percepatan. Analisis statistik bahkan menghasilkan tingkat keyakinan lebih dari 98 persen.

Dua pendekatan statistik yang digunakan dalam penelitian tersebut juga memberikan kesimpulan serupa. Artinya, percepatan pemanasan yang teridentifikasi tidak mudah dijelaskan hanya sebagai akibat fluktuasi alamiah biasa.

Ambang 1,5 Derajat Terancam Sebelum 2030

Bagian paling mengkhawatirkan dari penelitian ini berkaitan dengan target Perjanjian Paris 2015. Negara-negara dunia bersepakat mengupayakan pembatasan kenaikan suhu rata-rata global jangka panjang pada 1,5 derajat Celsius dibandingkan tingkat praindustri.

Berdasarkan proyeksi Foster dan Rahmstorf, jika laju pemanasan selama satu dekade terakhir terus berlangsung, ambang tersebut berpotensi terlampaui dalam jangka panjang antara 2026 dan 2029.

Tabel penelitian memperlihatkan perbedaan perkiraan berdasarkan lima sumber data suhu global. NASA dan NOAA memproyeksikan 2028. Berkeley Earth juga menghasilkan perkiraan 2028, sedangkan HadCRUT menunjukkan 2029. Sementara itu, ERA5 menghasilkan proyeksi paling awal, yakni 2026.

Angka tersebut perlu dibaca secara cermat. Tahun-tahun itu bukan kepastian bahwa Bumi akan melewati ambang 1,5 derajat secara permanen pada tanggal atau tahun yang disebutkan.

Peneliti menggunakan pendekatan rata-rata suhu global selama 20 tahun untuk menilai pelampauan ambang Perjanjian Paris. Tahun yang tercantum dalam tabel merupakan titik tengah periode proyeksi tersebut.

Karena itu, kenaikan suhu tahunan di atas 1,5 derajat tidak otomatis berarti dunia telah melewati batas pemanasan jangka panjang yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.

Meski demikian, proyeksi tersebut memperlihatkan semakin sempitnya waktu bagi dunia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan menekan risiko perubahan iklim yang lebih parah.

Emisi Manusia Menjadi Pemicu Utama

Penelitian Foster dan Rahmstorf membuktikan percepatan pemanasan secara statistik. Namun, penelitian tersebut tidak secara khusus dirancang untuk memastikan penyebab fisik percepatan dalam periode terakhir.

Meski begitu, penyebab utama pemanasan global dalam jangka panjang telah memiliki landasan ilmiah yang kuat, yakni peningkatan konsentrasi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia.

Pembakaran batu bara, minyak bumi, dan gas alam melepaskan karbon dioksida dalam jumlah besar. Deforestasi juga memperburuk keadaan karena mengurangi kemampuan hutan menyerap karbon.

Aktivitas industri, transportasi, pertanian, dan peternakan turut menyumbang emisi gas rumah kaca yang menahan panas di atmosfer.

Akibatnya, lautan menyimpan lebih banyak energi, lapisan es mencair, permukaan laut meningkat, dan berbagai ekosistem mengalami tekanan.

Setiap tambahan kenaikan suhu juga memperbesar risiko gelombang panas, kekeringan, hujan ekstrem, banjir, serta pemutihan terumbu karang.

Indonesia Menghadapi Ancaman Nyata

Dampak pemanasan global tidak dirasakan secara merata di setiap wilayah. Namun, Indonesia termasuk negara yang menghadapi risiko besar karena memiliki wilayah kepulauan, garis pantai panjang, serta jutaan penduduk yang menggantungkan kehidupan pada pertanian, perikanan, dan sumber daya alam.

Perubahan pola hujan dapat mengganggu kalender tanam petani. Nelayan juga menghadapi tantangan akibat perubahan musim dan kondisi laut yang semakin sulit diprediksi.

Di kawasan pesisir, kenaikan muka laut, abrasi, dan banjir rob menjadi ancaman yang membutuhkan penanganan serius. Jakarta, Semarang, Demak, dan sejumlah kawasan pesisir lainnya telah menghadapi persoalan tersebut.

Pemerintah tidak cukup hanya bergerak ketika bencana terjadi. Kebijakan pembangunan harus memperhitungkan risiko iklim dalam jangka panjang.

Penguatan drainase, perlindungan kawasan pesisir, rehabilitasi mangrove, sistem peringatan dini, serta informasi musim yang akurat bagi petani dan nelayan perlu menjadi prioritas.

Sekolah, pesantren, rumah sakit, dan fasilitas umum juga membutuhkan kesiapan menghadapi gelombang panas, banjir, maupun kekeringan.

Pemerintah Harus Mengubah Arah Kebijakan

Percepatan pemanasan global menuntut perubahan kebijakan yang lebih mendasar. Pemerintah perlu mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan mempercepat pengembangan energi rendah karbon.

Penghentian pembangkit listrik tenaga batu bara secara bertahap harus disertai perencanaan pasokan energi, perlindungan pekerja, serta pengembangan energi surya, panas bumi, dan angin.

Selain itu, pemerintah harus memperkuat pengawasan terhadap pembukaan lahan, menindak pembakaran hutan, serta memulihkan kawasan gambut dan mangrove.

Hutan tropis Indonesia memiliki peran penting sebagai penyimpan karbon sekaligus penyangga kehidupan masyarakat.

Setiap proyek pembangunan berskala besar juga perlu memperhitungkan jejak karbon, dampak terhadap ekosistem, serta risiko lingkungan yang mungkin muncul.

Pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya mengejar keuntungan jangka pendek dengan meninggalkan beban kerusakan lingkungan bagi generasi berikutnya.

Kerusakan Lingkungan Menjadi Peringatan Moral

Dalam catatan Cak AT, Ahmadie Thaha, persoalan pemanasan global bukan hanya masalah sains dan teknologi. Perubahan iklim juga menyangkut kebijakan politik, kepentingan ekonomi, tanggung jawab moral, dan masa depan peradaban manusia.

Al-Qur'an mengingatkan manusia tentang kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan tangan manusia sebagaimana termaktub dalam QS. Ar-Rum ayat 41.

Peringatan tersebut mengajak manusia merencanakan hubungan antara perilaku dan kerusakan lingkungan. Alam memiliki keseimbangan yang harus dijaga. Ketika manusia terus mengambil tanpa memulihkan, keseimbangan itu terganggu.

Oleh karena itu, membuat perhitungan ilmiah tidak dapat dijadikan alasan untuk mengubah tindakan.

Dunia membutuhkan pengurangan emisi karbon dioksida dari bahan bakar fosil secara cepat hingga mencapai nol bersih. Pemerintah, perusahaan, dan masyarakat memiliki tanggung jawab masing-masing untuk mengurangi sumber pemanasan.

Penelitian Foster dan Rahmstorf memberikan pesan penting: Bumi bukan hanya semakin panas, tetapi laju pemanasannya juga semakin cepat.

Waktu untuk mengendalikan krisis iklim semakin terbatas. Jika manusia terus-menerus menunda perubahan, generasi mendatang akan menanggung konsekuensi dari keputusan yang diambil hari ini.

Bumi tidak memiliki tombol darurat untuk menghentikan pemanasan ketika suhu sudah terlalu tinggi. Mengurangi emisi dan memulihkan daya dukung alam menjadi jalan yang tidak bisa terus ditunda.

Jangan menunggu Bumi berubah menjadi tungku raksasa sebelum manusia menyadari bahwa rumah bersama ini sedang menghadapi ancaman serius.

Sebab, ketika kerusakan sudah meluas, penyesalan tidak akan cukup untuk memulihkan alam yang telah kehilangan keseimbangannya.

Penulis: Cak AT – Ahmadie Thaha

Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 1 November 2026