Rilis 33 Lagu dalam Tiga Tahun, Vanya Wijaya bersama GSI Records Kenalkan Kekayaan Malang Raya

Vanya Wijaya bersama GSI Records Kenalkan Kekayaan Malang Raya

Malang, Satuju.com — Bagi Vanya Wijaya, sebuah lagu bukan sekedar rangkaian nada dan lirik, melainkan jembatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya kepada dunia. Gagasan tersebut diwujudkan melalui album Bumi Kanjuruhan, yang mengangkat sejarah, alam, dan budaya Malang Raya sebagai sumber inspirasi musik sekaligus identitas daerah yang patut dibanggakan, seperti disampaikan Vanya Wijaya kepada awak media pada Rabu (4/11/2026).

Penyanyi muda tersebut meluncurkan album Bumi Kanjuruhan dalam konser JIWANTARA KANJURUHAN 2026 yang digelar GSI Records, bagian dari Senada Music Group, pada 25 Oktober 2026 di Malang. Peluncuran ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang memadukan pertunjukan musik, kompetisi menyanyi, dan pengembangan talenta baru.

“Aku merasa senang karena lewat lagu, aku bisa ikutkan Malang kepada lebih banyak orang,” kata Vanya.

Album Bumi Kanjuruhan memuat komposisi karya Rulli Aryanto dan Tety Widiastuti. Melalui album tersebut, Vanya membawakan lagu-lagu yang mengangkat berbagai aspek kekayaan daerah Malang Raya, sekaligus memperkenalkan cerita dan karakter lokal melalui interpretasi musikalnya.

Dalam tiga tahun terakhir, Vanya telah merilis 33 single, termasuk dua mini album. Pengalaman tersebut membentuk pemahamannya bahwa membawakan lagu tidak hanya membutuhkan kemampuan teknik vokal, tetapi juga penghayatan terhadap cerita dan latar belakang karya.

Untuk mendalami materi album Bumi Kanjuruhan, Vanya mempelajari foto dan video yang berkaitan dengan tempat serta kebudayaan yang menjadi inspirasi lagu. Proses tersebut membantunya memahami konteks setiap karya dan membangun interpretasi yang lebih mendalam.

“Aku ingin setiap lagu yang aku nyanyikan bisa membuat orang ikut merasakan ceritanya, bukan hanya mendengarkan musiknya,” ujarnya.

Dalam penggarapan album, Vanya mendapatkan bimbingan dari Rulli Aryanto, Tety Widiastuti, pelatih vokalnya, Farugh, serta tim produksi. Materi lagu memberikan kesempatan baginya untuk mengeksplorasi karakter vokal dan mengembangkan interpretasi terhadap komposisi yang dibawakannya.

Konser JIWANTARA KANJURUHAN 2026 juga menjadi panggung bagi sembilan finalis kompetisi Jagoan Nyanyi Jiwantara Kanjuruhan. Mereka merupakan peserta yang terpilih sebagai juara dari tiga sesi kompetisi yang berlangsung selama lima bulan.

Dalam konser tersebut, para finalis membawakan lagu-lagu dari album Bumi Kanjuruhan. Penampilan mereka menjadi bagian dari upaya memperluas kesempatan bagi penyanyi lain untuk mengenal, membawakan, dan menginterpretasikan karya yang sebelumnya diperkenalkan melalui suara Vanya.

Vanya menyambut penampilan para finalis sebagai pengalaman yang membahagiakan. Menurut dia, setiap penyanyi memiliki karakter vokal dan cara penyampaian yang berbeda sehingga dapat menghadirkan interpretasi tersendiri terhadap sebuah lagu.

“Awalnya lagu-lagu itu hanya aku yang menyanyikan, tetapi sekarang teman-teman juga bisa membawakannya dengan gaya dan karakter mereka masing-masing,” tuturnya.

Ia berpesan kepada para finalis agar terus berlatih dan mengembangkan kemampuan setelah kompetisi berakhir. Vanya juga menekankan pentingnya menghargai sesama penyanyi, menghormati pencipta lagu, serta membangun karakter musikal tanpa harus meniru orang lain.

Denny Wijaya dari GSI Records mengatakan, JIWANTARA KANJURUHAN 2026 dirancang sebagai kegiatan yang menghubungkan pencipta lagu, penyanyi, dan talenta baru melalui rangkaian proses kreatif. Program ini tidak hanya memberikan ruang bagi penyanyi untuk tampil, tetapi juga membuka kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan melanjutkan perjalanan berkarya.

Menurut Denny, kompetisi Jagoan Nyanyi Jiwantara Kanjuruhan tidak hanya menilai kemampuan vokal. Aspek interpretasi lagu, penghayatan, penguasaan panggung, konsistensi, dan potensi perkembangan juga menjadi pertimbangan dalam proses seleksi.

“Kompetisi bukanlah tujuan akhir,” kata Denny.

Ia menjelaskan, GSI Records bersama Senada Music Group ingin membangun proses pengembangan yang mencakup penciptaan lagu, produksi rekaman, kompetisi, pembinaan penyanyi, kesempatan tampil, hingga distribusi karya. Melalui pendekatan tersebut, para peserta diharapkan memiliki kesempatan untuk berkembang melampaui panggung kompetisi.

Dalam konsep tersebut, karya pencipta lagu menjadi materi yang dapat dibawakan oleh penyanyi dengan karakter berbeda. Denny mengatakan, pendekatan ini diharapkan dapat memperluas apresiasi terhadap pencipta lagu sekaligus memberikan kesempatan bagi penyanyi baru untuk mengembangkan keterampilan.

“Satu karya tidak berhenti pada satu penyanyi atau satu album, tetapi dapat berkembang melalui interpretasi penyanyi lainnya,” ujarnya.

Para pengisi acara dalam JIWANTARA KANJURUHAN 2026 berasal dari sejumlah daerah, antara lain Jakarta, Bandung, Semarang, Malang, Sidoarjo, dan Kepanjen. GSI Records memanfaatkan kompetisi digital untuk menjangkau peserta dari berbagai wilayah, yang kemudian memperoleh kesempatan mengikuti pembelajaran dan tampil secara langsung.

Denny mengatakan, Malang Raya memiliki potensi sebagai sumber inspirasi karya musik melalui sejarah, budaya, kesenian, dan destinasi wisatanya. Melalui Bumi Kanjuruhan, GSI Records ingin menghadirkan karya yang mengangkat identitas daerah sekaligus membuka peluang bagi penyanyi dan pencipta lagu untuk menjangkau pendengar yang lebih luas.

Setelah penyelenggaraan JIWANTARA KANJURUHAN 2026, GSI Records menyiapkan sejumlah rencana pengembangan bagi talenta terpilih. Rencana tersebut meliputi acara produksi rekaman, penguatan distribusi dan promosi melalui platform digital, serta penyelenggaraan panggung lanjutan untuk membuka ruang tampil dan kolaborasi.

Denny mengatakan, keberhasilan program tersebut tidak hanya diukur dari jumlah pemenang kompetisi, tetapi juga dari kesempatan yang dapat dibuka bagi penyanyi dan pencipta lagu untuk melanjutkan proses berkarya.

“Keberhasilan Jiwawantara bukan hanya melahirkan juara, tetapi membuka jalan bagi lahirnya karya dan penyanyi baru yang memiliki peluang untuk berkembang di industri musik Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Vanya menyatakan ingin terus mengeksplorasi berbagai genre musik dan berkolaborasi dengan penyanyi maupun musisi lain. Ia juga berharap dapat membawakan lebih banyak karya yang mengangkat wisata, sejarah, dan budaya Indonesia, termasuk di panggung internasional.

Peluncuran Bumi Kanjuruhan dan konser JIWANTARA KANJURUHAN 2026 menjadi bagian dari upaya GSI Records mempertemukan karya musik, pengembangan penyanyi, dan pengenalan budaya daerah dalam satu rangkaian kegiatan. Melalui album tersebut, Vanya berharap semakin banyak pendengar mengenal Malang dan kekayaan budaya Indonesia.

“Semoga melalui lagu-laguku, semakin banyak orang yang mengenal Indonesia dan semakin bangga dengan budaya negerinya sendiri,” ungkapnya.