Gadi Eisenkot Ditunjuk Presiden Israel Bentuk Pemerintahan Baru, Netanyahu Terancam Tersingkir

Gadi Eisenkot.(poto/net)

Jakarta, Satuju.com – Presiden Israel Isaac Herzog menugaskan pemimpin Partai Yashar, Gadi Eisenkot, untuk membentuk pemerintahan baru setelah mendapat dukungan mayoritas anggota parlemen. Penyugasan ini menjadi babak baru dalam perebutan kekuasaan politik Israel sekaligus membuka peluang berakhirnya pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Dilaporkan AFP, Minggu (8/11/2026), keputusan tersebut diambil setelah Herzog menggelar serangkaian konsultasi dengan para pemimpin partai politik sepanjang pekan ini.

"Presiden telah menyampaikan kepada pemimpin partai Yashar, Gadi Eisenkot, mengenai niatnya untuk menugaskan dia membentuk pemerintahan," demikian pernyataan kantor kepresidenan Israel.

Penunjukan resmi Eisenkot diselenggarakan melalui upacara formal di kediaman Presiden di Yerusalem pada Minggu.

Eisenkot merupakan mantan kepala militer Israel yang kemudian terjun ke dunia politik. Ia kini memimpin kelompok oposisi yang berupaya menghimpun dukungan dari kelompok masyarakat sekuler dan liberal untuk membentuk pemerintahan baru.

Dalam pemilu yang berlangsung pada 27 Oktober 2026, tidak ada satupun kekuatan politik yang berhasil memperoleh mayoritas mutlak di parlemen. Kondisi tersebut mencerminkan tajamnya perpecahan politik di Israel setelah negara itu melewati tiga tahun konflik dan berada di bawah pemerintahan sayap kanan garis keras Netanyahu.

Berdasarkan hasil konsultasi politik, Eisenkot memperoleh dukungan dari partai-partai yang mewakili 67 anggota parlemen. Sementara itu, blok pendukung Netanyahu hanya mendapat dukungan dari 46 anggota parlemen.

Meski demikian, upaya membangun pemerintahan tidak sepenuhnya berjalan mudah. Dukungan terhadap Eisenkot juga melibatkan partai-partai yang mewakili kelompok minoritas Arab di Israel, perolehan kursinya meningkat dalam pemilu kali ini.

Di sisi lain, terdapat sejumlah elemen sayap kanan dalam blok oposisi yang justru menolak ketergantungan terhadap dukungan politik dari kelompok Arab. Perbedaan tersebut berpotensi menjadi tantangan dalam proses terbentuknya alam.

Untuk memperluas dukungan, oposisi yang dipimpin Eisenkot bahkan membuka peluang terjadinya kebohongan dengan kelompok Yahudi ultra-Ortodoks. Langkah tersebut dinilai sebagai manuver politik yang sebelumnya sulit dibayangkan, tetapi berpotensi memperkuat jumlah kursi yang terkendali.

Setelah menerima mandat dari Presiden Herzog, Eisenkot menyatakan komitmennya untuk berupaya membentuk pemerintahan baru.

Ia berjanji akan "melakukan segalanya" demi mewujudkan pemerintahan yang mendapat dukungan mayoritas parlemen.

Penyugasan tersebut menjadi kesempatan pertama bagi Eisenkot untuk merangkai kekuatan politik pascapemilu. Jika berhasil, terhimpun yang terbentuknya berpotensi berakhirnya kepemimpinan Netanyahu, yang selama ini dikenal sebagai perdana menteri dengan masa jabatan terpanjang dalam sejarah Israel.

Namun, keberhasilan pembentukan pemerintahan baru masih bergantung pada kemampuan Eisenkot menyatukan berbagai kepentingan politik yang memiliki perbedaan ideologi dan pandangan mengenai arah masa depan Israel.


BERITA TERKAIT