Pahala Salat Dhuha Senilai Haji dan Umrah, Ini Waktu Pelaksanaan yang Tepat Menurut Ustaz Adi Hidayat

Ustaz Adi Hidayat

Jakarta, Satuju.com - Ustaz Adi Hidayat menyebut Shalat dhuha di awal waktu ternyata bernilai pahala haji dan umrah. Namun, ia mengingatkan bahwa hal tersebut tidak dapat dipahami dengan kalimat bahwa jika shalat dhuha di awal artinya sudah haji dan umrah.

“Ini bernilai pahala haji dan umrah tapi belum tentu dapat kemuliaan shalat di masjidil haram masjid nabawi,” kata Ustaz Adi Hidayat, dikutip dari kanal YouTube Adi Hidayat Official pada Senin (16/10/2023) melansir tvonenews.

Waktu shalat dhuha terbentang sejak matahari terbit hingga sesaat sebelum dzuhur. Dari rentang waktu itulah, ada tiga waktu pembagian shalat dhuha. 

Ustaz Adi Hidayat kemudian menjelaskan, setiap waktu shalat dhuha itu memiliki fadhilah yang berbeda-beda. Berikut penjelasan Ustaz Adi Hidayat mengenai pembagian tiga waktu dhuha.

Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa waktu shalat dhuha yang pertama adalah sejak syuruq. “Shalat dhuha itu waktunya dimulai sejak waktu syuruq, saat perjalanan matahari yang bergerak dari terbit sampai berada di posisi tempat terbitnya sampai bergeser lagi sekira bayangan itu 1 tombak,” ujar Ustaz Adi Hidayat. 

Waktunya bernama syuruq, pergerakan mataharinya bernama isyraq, matahari berada di porosnya disebut masyriq.

“Saat bayangan matahari 1 tombak inilah waktu syuruq atau awal dhuha,” kata Ustaz Adi Hidayat. “Awal dhuha, tarik 1 jam setelah shalat subuh, kurang lebih 1 jam paling cepat, awal syuruq 6.30 boleh nambah 15 menit tak ada masalah,” jelas Ustaz Adi Hidayat.

Adapun kemuliaan yang ada di awal dhuha ini antara lain disampaikan oleh Ustaz Adi Hidayat tercantum dalam hadits At-Tirmidzi. “Siapa yang menunaikan shalat subuh dengan jamaah atau di hadits lain dikatakan di masjid, lalu dia tidak langsung beranjak, dia berdzikir dulu hingga sampai tiba awal dhuha, kemudian dia shalat di awal dhuha itu, maka dia dapat pahala senilai haji dan umrah,” jelas Ustaz Adi Hidayat. 

Meski bukan berarti sudah haji dan umrah, namun mendapatkan pahala dan berpotensi mengubah perilaku. “Berpeluang dapat surga dan rahmat Allah SWT, berpeluang mengubah perilaku menjadi lebih baik,” kata Ustaz Adi Hidayat.

Hal ini karena makna dari kata Al Birru adalah perubahan dari sifat kurang baik menjadi baik. “Ketika melekat pada pelakunya haji mabrur, nah orang yang belum bisa haji dan umrah konsisten shalat syuruq awal dhuha, karena dapat berubah menjadi lebih baik,” kata Ustaz Adi Hidayat.

Waktu kedua untuk shalat dhuha yakni saat matahari terbit sekitar pukul 07.30 Wib. “Sekitar setengah delapan sampai jam 8. Itu sudah pertengahan dhuha, jika konversi sekarang sampai 10.30 itu pertengahan dhuha,” kata Ustaz Adi Hidayat. 

Jika awal dhuha jumlahnya 2 rakaat, kata Ustaz Adi Hidayat pertengahan dhuha bisa sampai 4 rakaat. “Bisa sampai empat, manfaat banyak, itu maksudnya pengganti dzikir dari seluruh tubuh. Tubuh kita kan harusnya dzikir, itu ditutup dengan shalat dhuha 2 rakaat di tengah,” jelas Ustaz Adi Hidayat. 

Keutamaan shalat dhuha di tengah ini kata Ustaz Adi Hidayat jika dilanjutkan sampai empat rakaat, maka dapat menjaga kita dari musibah umum yang mungkin terjadi. “Misal di komplek kita banjir, rumah kita tidak kena, atau macet tapi kita tidak macet, misal ada yang arahkan atau kita dikasih kemudahan, dan lain sebagainya,” ujar Ustaz Adi Hidayat.


Waktu terakhir untuk shalat dhuha adalah sejak pukul 10.30 hingga adzan dzuhur. “Sampai menjelang dzuhur dari jam 10.30 sampai adzan dzuhur, bisa sampai 8 rakaat,” kata Ustaz Adi Hidayat.

Kemudian Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa shalat dhuha di akhir ini dapat dilakukan hingga 8 rakaat. “Kerjakan dua dua, kerjakan sampai jam 8, atau mau empat-empat juga bisa,” tandas Ustaz Adi Hidayat. 

Adapun fadillah dari shalat dhuha di akhir waktu ini kata Ustaz Adi Hidayat dapat memudahkan limpahan rezeki. “Tapi tidak menarik untuk menyampaikan rezeki sebagai modus shalat dhuha ya,” kata Ustaz Adi Hidayat.

Jika tujuannya hal itu, kata Ustaz Adi Hidayat biasanya kalau rezekinya berkahnya akan hilang. “Saya saran kerjakan lillah izinkan Allah yang memberikan,” kata Ustaz Adi Hidayat.

Namun setiap muslim dianjurkan untuk selalu mengingat bahwa rezeki bukan hanya berupa uang. “Dhuha yang ditunaikan bisa mempercepat datangnya rezeki tapi jangan tafsirkan dengan uang atau proyek saja,” jelas Ustaz Adi Hidayat. 

“Rezeki bisa kesehatan, bisa ketenangan, yang kalau gelisah bisa ke psikologi, tenang itu mahal,” tandas Ustaz Adi Hidayat. 


BERITA TERKAIT