Pilkada 2024: Peluang Koalisi PDIP-PKS dan Kerja Sama dengan Anies

Ilustrasi

Jakarta, Satuju.com - Bagi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk berkoalisi dalam pemilihan kepala daerah atau pilkada tersebut Pengamat politik Ray Rangkuti tidak ada ganjalan. PDIP dan PKS dinilai sulit berkoalisi karena ideologi dan basis massa keduanya dianggap saling bertentangan satu sama lain.

Namun Ray mengatakan, perbedaan ideologi keduanya bukanlah hambatan untuk berkoalisi dalam pilkada. Ia juga mengatakan mustahil PDIP dan PKS akan ditinggalkan konstituennya apabila berkoalisi.

“Ini mungkin dua partai yang ideologinya paling kuat di Indonesia dan mayoritas pemilih mereka solid. Artinya pemilih akan mendukung apapun keputusan partai,” kata Ray saat dihubungi Tempo, Sabtu, 15 Juni 2025.

Direktur Lingkar Madani ini mengatakan benturan ideologi di antara kedua partai ini tidak akan memberikan pengaruh pada pemilih mereka yang solid. Apalagi, kata Ray, keduanya memiliki “musuh” bersama, yakni dinasti politik Joko Widodo, terutama dalam Pilkada Jakarta. Putra Jokowi, Kaesang Pangarep, digadang bakal maju menjadi calon gubernur di Jakarta.

Ray mengatakan majunya Kaesang tidak akan menggerus basis pemilih di Jakarta yang saat ini dominan terbagi dua antara PKS dan PDIP. Hal ini terbukti dengan PKS menduduki partai tertinggi di Pileg DPRD 2024. Sedangkan PDIP menempati urutan kedua. 

Menurutnya, koalisi PDIP dengan PKS lebih mungkin dilakukan daripada kerja sama dengan Anies Baswedan. Ray menjelaskan, pengalaman Pilgub DKI 2017 membuat pemilih PDIP masih sulit menerima Anies. Ray mengungkapkan justru kerenggangan dua partai ini hanya terjadi pada Pilgub Jakarta 2017.

PKS dan PDIP, kata dia, berkoalisi dalam beberapa Pilkada. “Kan mereka mengusung Pak Jokowi di Solo dulu. Yang mengusung Pak Jokowi itu PDIP, PKS, dan beberapa partai lain dan tidak ada masalah. Ini kan kita terbentur karena kasus Jakarta kan,” tutur Ray. 

Senior Politikus PDIP Andreas Hugo Pareira mengatakan, integrasi PDIP dengan PKS dalam pemilihan kepala darerah tidak akan membuat konstituen berubah dari partai. Ketua Direktorat Strategi, Visi-Misi dan Narasi Debat PDIP di Pilkada 2024 ini mengatakan justru konstituen lebih cair dan saling memahami. 

“Siapa yang bilang ditinggal konstituen? Konstituen di akar rumput saat ini malah lebih cair. Bisa saling memahami,” kata Andreas membalas pesan Tempo, Sabtu, 15 Juni 2024.

Kendati demikian, Andreas belum memastikan sejauh mana peluang PDIP berkoalisi dengan PKS dalam Pilkada Serentak 2024. “Kita melihat perkembangan ke depan,” kata politikus PDIP kelahiran Maumere ini.