Kisah Nyai Sirr: Perempuan yang Dibisiki Langit
Ilustrasi. (Poto/net)
Satuju.com - Di kaki gunung Cakrabuana, tersembunyi sebuah desa kecil yang tak pernah masuk peta. Tapi di desa itulah, langit pernah berbicara di bumi lewat seorang perempuan tua yang dipanggil: Nyai Sirr.
Tak ada yang tahu siapa nama aslinya. Tak ada yang pernah melihat siapa gurunya. Ia bukan ustazah. Ia tak pernah berceramah. Tapi siapa pun yang duduk di sekitarnya, jantungnya menjadi teduh, seperti embun jatuh ke tanah gersang.
Bagian 1: Ia Bukan Ustazah, Tapi Dikenali Langit
Setiap malam, dari rumah kecilnya yang reyot, muncul cahaya samar yang lembut, dan wangi harum yang menembus sampai surau tua di ujung jalan.
Perempuan-perempuan desa sering datang diam-diam. Duduk bersila di tanah. Tidak untuk belajar tafsir atau fikih. Tapi untuk menuangkan resah.
“Nyai,” kata seorang ibu sambil menunduk, “suami saya gelisah terus…”
“Nyai, anakku tak mau shalat...”
Nyai Pak tak pernah menyalahkan. Tak pernah banyak bicara. Ia hanya menyentuh tangan mereka dengan lembut, dan berbisik pelan:
“Zikirlah waktu ngaduk nasi.”
Bagian 2: Ia Bicara Lewat Rasa
Suatu malam, hujan turun deras. Langit gelap. Seorang pemuda yang sedang menempuh jalan suluk merasa nyaman. Hatinya sesak. Ia mengambil tasbih, lalu berjalan keluar, tanpa arah.
Kakinya dibawa ke depan rumah Nyai Sir. Tapi dia ragu untuk mengetuk pintu. Tiba-tiba pintu itu terbuka sendiri—sedikit saja. Dan dari dalam, terdengar suara lembut:
“Yang kau cari bukan di luar... tapi di tempat yang baru saja kau tinggalkan. Kembali. Dan jangan ragukan nur di dadamu.”
Pemuda itu menangis. Ia pulang ke ruang suluk. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, dia melihat cahayanya sendiri.
Bagian 3: Ia Tidak Dikenang, Tapi Didoakan
Saat ajal datang, tak ada pengumuman, tak ada karangan bunga. Ia dikuburkan di belakang rumahnya, dekat pohon jambu yang rimbun. Tapi sejak itu, malam-malam di desa menjadi lain.
Beberapa perempuan mulai mengalami keanehan ruhani.
Ada yang mendengar tasbih berdenting sendiri di malam sepi.
Ada yang bermimpi ayat-ayat Al-Qur'an turun di antara bunga.
Ada anak kecil yang belum bisa bicara, tapi tahu mengucap, “Laa ilaaha illallaah.”
Mereka tahu, Nyai Sirr belum benar-benar pergi.
Ia masih hidup, dalam zikir. Dalam rasa.
Penutup
Tidak semua wali dikenal.
Tidak semua mursyid memakai sorban.
Kadang-kadang mereka hanyalah seorang perempuan tua di pinggir ladang,
yang menanam zikir di air cucian beras,
dan membangun jiwa dari dapur yang sunyi.
Tarekat Syattariyah tak hidup karena bendera.
Ia hidup karena ruh-ruh seperti Nyai Sirr,
yang menjaga pintu rahasia, dalam diam yang suci.

