MASJID RUMAH ALLAH, BUKAN TEMPAT JAGAL 

Tuanku Muhammad Desak Polisi Usut Tuntas Tragedi di Masjid Sibolga

Ketua Pengurus Wilayah Himpunan Dai Muda Indonesia Provinsi Aceh (PW HDMI), Tuanku Muhammad.(Poto/ist).

Banda Aceh, satuju.com - Tragedi kematian Arjuna Tamaraya (21), mahasiswa asal Simeulue, Aceh, di halaman Masjid Agung Kota Sibolga, Sumatera Utara, Jumat (31/10/2025) dini hari, mengguncang nurani masyarakat. Korban tewas setelah dianiaya sejumlah orang ketika hendak beristirahat di masjid tersebut.

Ketua Pengurus Wilayah Himpunan Dai Muda Indonesia Provinsi Aceh (PW HDMI), Tuanku Muhammad, menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus mendesak pihak kepolisian agar menindak tegas para pelaku pengeroyokan. Ia menilai peristiwa itu bukan sekadar tindak kriminal, tetapi tamparan moral bagi umat yang telah melupakan makna sejati masjid.

“Kita tidak bisa membiarkan kekerasan terjadi di rumah Allah. Saya mendesak Polres Sibolga dan Polda Sumut untuk mengusut tuntas kasus ini. Tidak boleh ada kompromi bagi pelaku kejahatan di tempat suci,” ujar Tuanku Muhammad kepada satuju.com, senin (3/11/2025).

Menurutnya, masjid semestinya menjadi tempat perlindungan bagi siapa pun — tempat umat beristirahat, beribadah, dan menemukan ketenangan. Kekerasan yang terjadi di lingkungan masjid, tegasnya, bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga menodai kesucian rumah ibadah.

“Nyawa manusia tidak bisa ditebus dengan kata maaf. Penegakan hukum harus adil, transparan, dan memberi efek jera. Ini soal marwah agama dan kemanusiaan,” katanya menegaskan.

Selain menyoroti penegakan hukum, Tuanku Muhammad juga mengingatkan perlunya mengembalikan fungsi sosial masjid sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

“Di masa Nabi, masjid menjadi tempat pendidikan, musyawarah, bahkan perlindungan bagi musafir dan orang miskin. Sekarang justru ada orang kehilangan nyawa karena hanya ingin beristirahat. Ini tanda kita sedang jauh dari nilai Islam,” ujarnya.

Ia mengajak para pengurus masjid di seluruh Indonesia untuk lebih terbuka dan peduli pada masyarakat, khususnya mereka yang datang dengan niat baik atau dalam kesulitan.

“Masjid harus kembali menjadi rumah bagi semua. Jangan sampai rumah Allah berubah menjadi tempat yang menakutkan,” serunya.

Sebagai penutup, Tuanku Muhammad mengingatkan kembali makna spiritual dari keberadaan masjid di tengah masyarakat.

“Saat tsunami melanda Aceh, masjid menjadi tempat berlindung dan menyelamatkan banyak jiwa. Kini, jangan biarkan rumah Allah justru menjadi tempat hilangnya nyawa manusia,” tutup Tuanku Muhammad dengan nada tegas.+M.R)