Piala Palsu dan Operasi Psikologis Negara
Ilustrasi. (poto Ai)
Penulis: Lhynaa Marlinaa
(Operasi Psikologis: Mengapa Mereka Butuh Piala Itu?)
Satuju.com - Jika di bagian sebelumnya kita telah menelanjangi dapur pacu produksi piala palsu, kini kita harus menjawab pertanyaan yang jauh lebih berbahaya: UNTUK APA?
Mengapa sebuah lembaga yang pelayanannya compang-camping, rela menghamburkan miliaran rupiah uang rakyat hanya demi plakat, sertifikat, atau piala yang mereka tahu persis tidak mencerminkan realitas?
Jawabannya bukan sekadar gengsi. Bukan pula sekadar narsisme birokrat. Ini adalah operasi psikologis terencana. Targetnya bukan dunia internasional—melainkan rakyatnya sendiri.
1. REPUTATION LAUNDERING (Pencucian Dosa Kinerja)
Mekanismenya serupa dengan money laundering (pencucian uang). Uang haram harus "dicuci" agar tampak legal. Begitu pula dengan kegagalan birokrasi.
Membenahi sistem pelayanan publik itu mahal, melelahkan, dan berisiko secara politik. Ia menuntut reformasi struktural, pemangkasan rente, dan keberanian membenturkan kepentingan internal. Sebaliknya, membeli citra itu murah dan instan.
Cukup satu seremoni. Satu konferensi pers. Dan satu headline media bayaran. Maka, piala-piala itu berfungsi layaknya "dempul tebal"—kosmetik mahal untuk menutupi bopeng korupsi, inefisiensi, dan pelayanan yang memalukan.
Bukan untuk memperbaiki wajah yang rusak. Tapi memanipulasi mata kita agar wajah busuk itu tidak lagi dipertanyakan.
2. INSTITUTIONAL GASLIGHTING (Senjata Pembungkam Kritik)
Di sinilah letak motif yang paling jahat. Piala bukan sekadar pajangan di lemari kaca; ia adalah tameng kekuasaan. Ketika rakyat menjerit: Pelayanan lambat, banyak pungli, dan hukum tidak adil!
Birokrat tidak perlu lagi menjawab dengan kerja nyata. Cukup dengan satu tunjukan jari ke arah lemari piala: Lihat, kami lembaga terbaik dunia. Kinerja kami sudah diakui internasional.
Pesan tersiratnya brutal:
Jika Anda menderita, berarti persepsi Anda yang salah. Jika Anda marah, berarti Anda yang bermasalah. Inilah gaslighting institusional—upaya sistematis membuat rakyat meragukan pengalaman pahit yang mereka alami sendiri.
Kilau emas palsu itu dipakai untuk: Mematikan nalar kritis, mendelegitimasi keluhan warga. Dan menggiring kritik sebagai ujaran kebencian. Bukan lagi dialog publik yang terjadi, melainkan perang psikologis satu arah.
KESIMPULAN
Jangan mau dikelabui kilau semu. Kualitas lembaga publik tidak diukur dari deretan piala di lobi ber-AC, melainkan dari kehadirannya di jalanan panas saat rakyat membutuhkan. Selama predikat "Terbaik Dunia" hanya tercetak di atas kertas, sementara pungli masih mencekik di loket pelayanan, dan keadilan masih berbelit bagi orang kecil...
Maka semua piala itu hanyalah SAMPAH VISUAL. Sampah yang dibayar dengan uang pajak rakyat, Hanya untuk menipu rakyatnya sendiri.

