Allen Dulles dan Paradoks Kekuasaan di Amerika Serikat
Ilustrasi. (poto Ai)
Oleh: Lhynaa Marlinaa
Satuju.com - Ini adalah sebuah bedah kasus mendalam tentang anomali kekuasaan Allen Dulles—seorang pria yang secara teknis dipecat oleh Presiden Amerika Serikat, namun secara praktis tetap menjadi “Raja Intelijen” di balik layar hingga kematian John F. Kennedy (JFK), bahkan sesudahnya.
Washington D.C., November 1961 Presiden John F. Kennedy melakukan langkah berani yang nyaris tak pernah diambil presiden Amerika mana pun: ia mencoba memenggal kepala “Hydra”.
Pasca kegagalan memalukan Invasi Teluk Babi (Bay of Pigs), JFK memaksa Direktur CIA Allen Dulles mengundurkan diri. Di hadapan publik, karier Dulles tampak tamat. JFK bahkan melontarkan sumpah terkenal bahwa ia ingin “menghancurkan CIA menjadi serpihan kecil dan menebarkannya ke angin.”
Namun sejarah mencatat ironi yang gelap: Allen Dulles tidak pernah benar-benar pergi. Justru setelah keluar dari Gedung Putih, ia menjadi lebih berbahaya—karena kini bekerja tanpa sorotan.
BABAK I: Kesalahan Fatal JFK di Teluk Babi
JFK memecat Allen Dulles karena merasa dijebak.
Pertama, jebakan intelijen.
Dulles menyajikan rencana invasi Kuba seolah-olah pasti berhasil, dengan asumsi bahwa rakyat Kuba akan bangkit melawan Fidel Castro. Kenyataannya, pemberontakan itu tidak pernah terjadi. Brigade 2506—pasukan buangan Kuba—terjebak dan dihancurkan di pantai, terutama karena JFK menolak memberikan dukungan udara penuh (air support).
Kedua, pengalihan tanggung jawab.
Dulles membiarkan JFK menanggung malu di panggung dunia. Presiden muda itu tampil sebagai pihak yang gagal, sementara arsitek kebijakan tetap bersembunyi di balik layar. Pemecatan Dulles adalah bentuk retribusi politik JFK.
Namun di sinilah kesalahan fatal JFK terjadi: ia memenggal kepala, tetapi membiarkan tubuhnya tetap hidup.
JFK menunjuk John McCone orang luar CIA sebagai direktur baru. Tetapi para deputi kunci, para anak didik setia Dulles, tetap bercokol di posisi strategis. Struktur kekuasaan lama tidak dibongkar; hanya puncaknya yang diganti.
BABAK II: Pemerintahan Bayangan di Georgetown
Allen Dulles tidak menghabiskan masa “pensiunnya” dengan bermain golf. Ia justru membangun apa yang bisa disebut sebagai “CIA Bayangan” dari ruang tamu rumahnya di Georgetown.
1. Loyalitas The Prætorians
Di dalam markas CIA di Langley, kendali operasional tetap berada di tangan loyalis Dulles, antara lain:
Richard Helms, Kepala Operasi Klandestin, yang kelak menjadi Direktur CIA.
James Jesus Angleton, Kepala Kontra-Intelijen, figur legendaris yang paranoid, tertutup, dan sangat berkuasa.
Mereka secara rutin mengunjungi Dulles untuk “minum teh”—sebuah eufemisme bagi briefing intelijen tidak resmi. Dokumen sensitif tetap mengalir ke tangan Dulles, sering kali tanpa pernah melewati meja Presiden JFK.
2. Jaringan The Establishment
Allen Dulles bukan sekadar birokrat. Ia adalah aristokrat Wall Street—mantan pengacara firma hukum raksasa Sullivan & Cromwell—yang merepresentasikan kepentingan korporasi besar Amerika.
Ia memiliki relasi erat dengan elit bisnis dan media, termasuk Henry Luce, pemilik majalah Time/Life. Kepentingan yang ia lindungi kerap bertabrakan dengan pemimpin-pemimpin nasionalis dunia ketiga, seperti Fidel Castro di Kuba atau Sukarno di Indonesia, yang berani menasionalisasi aset asing.
Jaringan inilah yang membuat Dulles nyaris kebal dari isolasi politik.
BABAK III: Kudeta Lewat Komisi Warren
Bukti paling mencolok dari kekuasaan abadi Allen Dulles justru muncul setelah JFK terbunuh.
Ketika Presiden Lyndon B. Johnson membentuk Komisi Warren untuk menyelidiki pembunuhan JFK, satu nama dalam daftar anggota komisi mengejutkan dunia: Allen Dulles.
Ini adalah konflik kepentingan yang nyaris tak tertandingi dalam sejarah Amerika:
1. Terdakwa menjadi hakim.
Pria yang dipecat oleh JFK dan secara politik memiliki motif kebencian kini ditugaskan menyelidiki kematian sang presiden.
2. Penjaga gerbang kebenaran.
Di dalam Komisi Warren, Dulles bertindak bukan sebagai penyelidik, melainkan sebagai pelindung institusi CIA. Ia memastikan komisi tidak mengakses dokumen sensitif tentang operasi pembunuhan CIA terhadap Fidel Castro (Operation Mongoose) atau hubungan CIA dengan Mafia.
3. Penyetir narasi resmi
Dulles aktif mengarahkan komisi untuk mengunci kesimpulan pada satu skenario: Lee Harvey Oswald sebagai pelaku tunggal, sembari menutup rapat semua celah yang mengarah pada kemungkinan konspirasi intelijen.
KESIMPULAN: Siapa Bos Sebenarnya?
Allen Dulles tetap berkuasa karena ia membangun sistem yang tidak bergantung pada pemilu. Ia memahami satu hal mendasar: presiden datang dan pergi setiap empat atau delapan tahun, tetapi birokrasi intelijen bersifat abadi.
JFK mencoba melawan apa yang kini disebut sebagai deep state, tanpa menyadari bahwa ia sedang berhadapan langsung dengan arsiteknya sendiri.
Ketika JFK tewas, Allen Dulles, pria yang duduk santai di Komisi Warren, seolah tersenyum terakhir. Ia telah membuktikan tesis tak tertulisnya:
Negara ini dijalankan oleh para profesional kekuasaan, bukan oleh politisi pilihan rakyat.

