Empat Nasihat Ali bin Abi Thalib tentang Kekuatan Akhlak
Ali bin Abi Thalib. (poto/net)
Satuju.com - Ali bin Abi Thalib adalah sepupu sekaligus menantu dari nabi Islam Muhammad dan penerusnya, sebagai Khalifah keempat yang memerintah negara Islam pertama Kekhalifahan Rasyidin dari tahun 656 hingga kematiannya pada tahun 661 M.
Ali bin Abi Thalib RA dikenal sebagai figur yang ucapannya ringkas namun sarat makna. Nasihat-nasihat beliau tidak hanya menuntun spiritualitas, tetapi juga membentuk disiplin akhlak dan kendali diri. Empat nasihat berikut merefleksikan fondasi etika Islam yang relevan lintas zaman.
Pertama, memaafkan saat marah.
Ali bin Abi Thalib menegaskan bahwa puncak kekuatan bukan pada kemampuan membalas, tetapi menahan diri ketika emosi memuncak. Dalam Nahj al-Balaghah beliau berkata:
وَأَوَّلُ عِوَضِ الْحَلِيمِ مِنْ حِلْمِهِ أَنَّ النَّاسَ أَعْوَانُهُ عَلَى الْجَاهِلِ
“Balasan pertama bagi orang yang penyantun atas kesantunannya adalah manusia akan membantunya menghadapi orang bodoh.” (Nahj al-Balaghah, Hikmah no. 6).
إِذَا قَدَرْتَ عَلَى عَدُوِّكَ فَاجْعَلِ الْعَفْوَ عَنْهُ شُكْرًا لِلْقُدْرَةِ عَلَيْهِ
“Apabila engkau berkuasa atas musuhmu, maka jadikanlah pemaafan sebagai wujud syukur atas kemampuanmu menguasainya.” (Nahj al-Balaghah, Hikmah no. 11).
Prinsip ini sejalan dengan Al-Qur’an: وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ
“Orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 134).
Rasulullah ﷺ bersabda: لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Kedua, bersedekah dalam keadaan sulit.
Imam Ali RA menekankan bahwa nilai amal terletak pada pengorbanannya. Allah berfirman:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ
“Mereka yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit.” (QS. Ali ‘Imran: 134).
Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa sedekah di saat sempit menunjukkan kejujuran iman, karena dorongan nafsu untuk menahan harta jauh lebih besar. (Jami‘ al-‘Ulum wa al-Hikam).
Ketiga, takut kepada Allah saat sendirian.
Imam Ali RA memandang takwa sejati tampak ketika tidak ada pengawasan manusia. Rasulullah ﷺ bersabda:
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.” (HR. at-Tirmidzi)
Al-Ghazali menjelaskan bahwa dosa yang dilakukan saat sendirian lebih berbahaya karena menunjukkan lemahnya muraqabah kepada Allah (Ihya’ ‘Ulum ad-Din).
Keempat, menasihati orang yang dihormati dengan hikmah.
Imam Ali RA mengingatkan bahwa kebenaran harus disampaikan dengan adab agar diterima. Al-Qur’an menegaskan:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.” (QS. an-Nahl: 125).
Empat nasihat ini menunjukkan bahwa Islam tidak sekadar mengatur ibadah lahiriah, tetapi membangun kekuatan batin: menahan marah, ikhlas beramal, jujur dalam kesendirian, dan bijak menyampaikan kebenaran. Di sanalah letak kematangan iman dan akhlak.

