Ketika Dunia Tanpa Wasit: Purbaya dan Kematian Keadilan Global

Ilustrasi. (poto Ai)

Oleh: Lhynaa Marlinaa

Satuju.com – Di bawah terik matahari Jakarta yang menyengat, di tengah kerumunan jurnalis yang menanti angka-angka inflasi atau defisit anggaran, Purbaya Yudhi Sadewa justru melempar "bom" narasi yang jauh lebih eksplosif. Wajahnya serius, tatapannya menembus lensa kamera, menyuarakan kepahitan yang dirasakan banyak negara berkembang namun seringkali tertahan di tenggorokan diplomatik: Keadilan global sedang sekarat.

Pemicunya adalah serangan Amerika Serikat ke Venezuela. Namun, bagi Purbaya, ini bukan sekadar soal dua negara yang berseteru. Ini adalah cermin retaknya peradaban modern.

Eulogi untuk Sang Wasit Dunia

"Hukum dunia agak aneh sekarang," ucapnya lirih namun menohok. Kalimat itu sederhana, tapi memukul tepat di ulu hati tatanan internasional.
Di mata sang ekonom, dunia telah kembali ke hukum rimba. Sebuah era di mana kedaulatan hanyalah tulisan di atas kertas yang bisa dirobek kapan saja oleh mereka yang memegang senjata lebih besar.

"Negara bisa menyerang negara lain yang berdaulat," lanjutnya, melukiskan ketidakberdayaan sistem yang ada, "Dan seperti bisa get away dari pengawasan PBB."
Pernyataan ini terdengar seperti sebuah vonis mati bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Lembaga yang didirikan di atas puing Perang Dunia II untuk menjamin perdamaian itu, di mata Purbaya, kini hanyalah penonton bisu. "Jadi PBB-nya amat lemah sekarang," tegasnya. Tidak ada sanksi, tidak ada konsekuensi. Si kuat beraksi, si lemah mati, dan wasit hanya diam.

Sisi Manusia di Balik Angka

Di tengah wawancara yang berat itu, sisi autentik Purbaya menyeruak. Ia sempat berhenti sejenak, melepaskan jubah birokrasinya.
"Gue ekonom boleh ngomong gini? Boleh ya?" tanyanya retoris, seolah menyadari bahwa ia baru saja melangkahi garis tipis antara analisis ekonomi dan protes politik. Itu adalah momen kejujuran yang langka—seorang pejabat yang muak melihat kemunafikan global, berbicara bukan sebagai teknokrat, tapi sebagai manusia yang merindukan keadilan.

Logika Dingin dan Pesan Bertahan Hidup

Meski hatinya panas melihat ketidakadilan, logika ekonominya tetap sedingin es. Saat ditanya dampaknya bagi Indonesia, Purbaya tidak menjual ketakutan.
Venezuela, negara yang dulu bergelimang petrodolar itu, kini dianggapnya tak lagi relevan dalam peta energi global. Kapasitas produksinya hancur, pasarnya terbatas. "Nggak berdampak," ujarnya datar, memutus spekulasi krisis ekonomi yang mungkin menjalar ke Tanah Air.

Namun, wawancara singkat itu ditutup dengan sebuah pesan tersirat yang mendalam. Sebuah filosofi bertahan hidup bagi bangsa seperti Indonesia di tengah dunia yang "aneh" dan tanpa wasit yang adil.

Jika PBB lemah dan hukum internasional bisa diakali, siapa yang akan melindungi kita? Jawabannya, menurut Purbaya, ada di cermin.

"Artinya kita mesti selalu memelihara kekuatan kita. Itu saja," pungkasnya.
Sebuah peringatan sunyi dari trotoar Jakarta: Di dunia yang semakin kacau ini, menjadi lemah adalah dosa terbesar. Kita harus kuat, karena tidak ada orang lain yang akan datang menyelamatkan.