Eggi Sudjana dan Politik Adaptasi Iklim

Ilustrasi. (poto Ai)

Oleh: Lhynaa Marlinaa

Satuju.com - Di panggung sandiwara politik Indonesia, ada satu "plot twist" yang sebenarnya paling tidak mengejutkan bagi mereka yang memahami naskah aslinya: Eggi Sudjana memuja Jokowi.

Bagi penonton awam, ini mungkin terlihat sebagai pengkhianatan. Namun, bagi pengamat perilaku elit, label "pengkhianat" terlalu emosional dan bermuatan moral. Dalam kamus Eggi Sudjana, manuver 180 derajat ini memiliki definisi yang lebih teknis dan dingin: Adaptasi Iklim.

Mengapa sosok yang dulu menjadi "Penyerang Utama" dalam isu ijazah palsu kini berbalik menjadi "Pemuja"? Mari kita bedah anatomi manuver ini.

1. Doktrin Dagang: Ideologi Adalah Komoditas

Dalam politik praktis, tidak ada musuh abadi, yang ada hanyalah pasar yang berganti. Ia menjual narasi perlawanan.
Namun, kita kini berada di tahun 2026. Dengan Prabowo Subianto di kursi Presiden dan Jokowi yang telah lengser namun tetap memegang kartu sebagai Kingmaker, menyerang Jokowi bukan lagi bisnis yang menguntungkan (bagi Eggi sudjana) "Pasar" telah berubah.

Logika Eggi sederhana: Untuk tetap relevan dan aman di lingkaran kekuasaan baru yang beraliansi dengan rezim lama, ia harus mengganti etalase tokonya. Dari hate speech menjadi praise speech. Ini bukan tentang hati nurani, ini tentang membaca tren pasar.

2. Sinyal SOS: "Saya Butuh Perahu"

Pujian mendadak dari seorang mantan oposan keras biasanya membawa satu pesan tersembunyi: Kebutuhan akan Logistik atau Perlindungan.
Transformasi Eggi mengirimkan sinyal "jinak" yang nyaring ke telinga kekuasaan. Ada dua kemungkinan motif di balik layar:
 * Payung Perlindungan: Eggi mungkin sedang tersangkut masalah hukum baru atau sengketa kepentingan, dan ia membutuhkan akses "kekebalan" yang hanya bisa diberikan oleh lingkar dalam kekuasaan.
 * Kursi Kosong: Ia sedang melamar pekerjaan. Entah itu posisi komisaris atau jabatan strategis di ormas afiliasi pemerintah.
Memuja Jokowi hari ini adalah cara termudah untuk mengatakan: "Saya sudah tidak menggigit. Pakai tenaga saya."

3. Tumbal Bensin: Nasib Tragis Bambang Tri

Ironi terbesar dari manuver ini terletak pada nasib rekan seperjuangannya, Bambang Tri Mulyono.
Bambang Tri adalah "bensin" yang disiramkan ke api konflik ijazah palsu. Ia kini telah hangus terbakar di penjara, reputasinya hancur, dan hidupnya berantakan. Sementara itu, Eggi si "Pemantik Api" kini duduk manis, necis, dan memuji orang yang dulu ia tuduh memalsukan ijazah.

Ini mengonfirmasi diagnosis brutal kita:
 Eggi tidak pernah peduli pada substansi (Kebenaran Ijazah). Ia hanya peduli pada panggung.

Saat panggung menuntut dia menjadi Singa, dia mengaum. Saat panggung menuntut dia menjadi Kucing, dia mengeong.

Diagnosis Akhir: The Ultimate Mercenary

Menyebut Eggi Sudjana sebagai pejuang yang tersesat adalah sebuah kesalahan. Sejak awal, tidak ada perjuangan ideologis. Yang ada hanyalah Proyek.
Anda baru saja menyaksikan Eggi Sudjana dalam bentuk murninya: Kalis Malu. Seorang mercenary (tentara bayaran) politik yang bergerak semata-mata berdasarkan arus keuntungan, meninggalkan kawan yang terbakar demi kursi yang nyaman.