Belajar Persaudaraan dari JBMI: Catatan Seorang Muslim di Tanah Batak
Jufri, Pengamat Sosial Politik. (poto/ist)
Penuls: Jufri Hutabarat, Pengamat Sosial Politik
Satuju.com - Persentuhan saya dengan Jam’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) terkesan unik dan berkesan. Ia tidak lahir dari perencanaan organisasi yang kaku, melainkan dari perjumpaan-perjumpaan manusiawi yang jujur, setara, dan sarat makna kebudayaan.
Semua bermula pada tahun 2016, ketika saya diamanahi menjadi Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi. Beberapa waktu setelah itu, saya menghadiri kegiatan Lembaga Hikmah dan Majelis Ekonomi Muhammadiyah di Pematang Siantar. Di sanalah saya berkenalan dengan sosok yang sangat saya hormati:
Abangda Sabar Tambunan, seorang Batak Kristen, dulu Loyalis Jokowi melalui Barisan Relawan Jokowi Presiden tahun 2014. Namun sebelum Jokowi dilantik menjadi Presiden tgl 20 Oktober 2024, Abangda Sabar lansung tinggalkan Jokowi dan tinggalkan BARA JP 2014 karena merasa dibohongi oleh Jokowi.
Abangda Sabar Tambunan juga penggagas dan salah satu inisiator utama dari pergerakan Batak Muda Dunia, atau BMD yang dimulai di kota Balige Kab. Toba, Sumut pada tgl 21 Agustus tahun 2016 lalu.
Di saat inilah perjumpaan kami, yaitu di dalam pergerakan Batak Muda Dunia dimulai, yaitu sebuah pergerakan untuk mempersatukan kekuatan budaya yang bersumber dari Kombinasi Marga dan Sistem Kekerabatan dari Batak 6 Suku. Batak yang terdiri dari Suku Mandailing, Toba, Karo, Simalungun, Pakpak dan Suku Angkola.
Dari perjumpaan itu, saya kemudian dimasukkan ke beberapa grup diskusi yang sebagian besar anggotanya adalah kawan-kawan dari etnis Batak. Di ruang-ruang percakapan itulah saya makin memahami bahwa ikatan mereka tidak semata disatukan oleh agama atau afiliasi politik, tetapi oleh falsafah hidup yang telah lama mengakar, yaitu Dalihan Na Tolu.
Dalihan Na Tolu—secara harfiah berarti tungku berkaki tiga—adalah fondasi etika sosial masyarakat Batak. Ia menegaskan bahwa kehidupan hanya akan seimbang bila tiga unsur dijaga sekaligus:
Somba Marhula-hula (menghormati pihak yang memberi dan dituakan),
Elek Marboru (merangkul dengan kasih, melindungi, dan memuliakan), serta
Manat Mardongan Tubu (berhati-hati, adil, dan setara kepada sesama).
Nilai inilah yang saya rasakan hidup dalam relasi-relasi yang terbangun, bahkan ketika perbedaan iman hadir secara nyata. Dalam Dalihan Na Tolu, perbedaan bukan ancaman, melainkan amanah yang harus dirawat dengan adab.
Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang junior kami, Hadi Nainggolan, diamanahi sebagai Ketua Umum Pemuda JBMI Pusat. Kebetulan pula, ia cukup sering berkunjung ke Tebing Tinggi karena istrinya berasal dari kota tersebut. Momentum ini semakin mempertemukan saya dengan JBMI sebagai ruang perjumpaan Islam, kebatakan, dan keindonesiaan.
Sejak saat itu saya semakin sering berjumpa dengan kawan-kawan Muslim di Tapanuli Utara. Relasi yang terbangun tidak hanya bersifat organisatoris, tetapi juga kultural dan persaudaraan. Bahkan Bupati Tapanuli Utara saat itu, Bapak Nikson Nababan, menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap berbagai kegiatan JBMI. Kami pernah melaksanakan kegiatan bersama di Rumah Dinas Bupati di Tarutung, sebuah peristiwa yang bagi saya mencerminkan keterbukaan dan semangat Dalihan Na Tolu dalam praktik pemerintahan dan kehidupan sosial.
Belakangan, semangat itu kembali terasa dalam kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan di Rumah Dinas Bupati Tapanuli Utara, dengan tausiyah yang disampaikan oleh sahabat saya, Tuan Guru Sabban Rajagukguk. Di ruang yang sama, nilai keislaman dan kebudayaan Batak bertemu secara bermartabat—tanpa saling menegasikan.
Pada tahun 2017, bersama JBMI Pusat di bawah kepemimpinan Bapak Albiner Sitompul, kami bahkan sempat melakukan ikhtiar yang lebih mendalam: meneguhkan kembali jejak Islam di Tanah Batak, khususnya di wilayah Pahae. Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan simbolik, melainkan upaya merawat ingatan sejarah bahwa Islam telah lama menjadi bagian dari mozaik peradaban Batak.
Dalam konteks inilah, JBMI saya pahami bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai ruang perjumpaan nilai.
Somba Marhula-hula tercermin dalam penghormatan kepada ulama, tokoh adat, dan pemimpin daerah.
Elek Marboru hidup dalam kepedulian sosial, dakwah yang sejuk, dan keterbukaan terhadap sesama.
Sementara Manat Mardongan Tubu menjadi etika bersama—menjaga persaudaraan internal, merawat dialog, dan menghindari ego sektarian.
Dari JBMI, saya belajar bahwa menjadi Muslim Batak bukanlah identitas yang terpecah, melainkan identitas yang utuh. Islam memberi arah transendensi dan akhlak, sementara Dalihan Na Tolu menanamkan adab sosial yang membumi. Keduanya bertemu dalam satu simpul nilai: memanusiakan manusia dan menjaga martabat sesama.
Di tengah masyarakat yang mudah terbelah oleh politik identitas dan sentimen sempit, pengalaman bersama JBMI memberi keyakinan bahwa budaya lokal yang dirawat dengan hikmah justru dapat menjadi jembatan dakwah, perekat kebangsaan, dan fondasi persaudaraan yang kokoh.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

