Nasionalisme, Sumber Daya Alam dan Ilusi Kemajuan Indonesia
Ilustrasi. (poto Ai)
Oleh: Lhynaa Marlinaa
Satuju.com — Pernyataan Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyentak kesadaran kolektif kita. Dalam sebuah forum, sang Jenderal menunjuk ke utara—ke Jepang dan Korea Selatan—sebagai kiblat moralitas bernegara.
"Jepang dan Korea tidak punya sumber daya sekaya Indonesia, tetapi bisa menjadi negara kuat karena nasionalismenya yang kuat," ujar Prabowo.
Di permukaan, ini terdengar sebagai seruan patriotik standar. Namun, jika dibedah di bawah mikroskop realitas geopolitik dan sosiologis, pernyataan ini menyingkap sebuah ironi besar yang menghantui Indonesia selama tujuh dekade: Kutukan Sumber Daya Alam (The Resource Curse).
Lapar vs. Kenyang: Asal Muasal Mentalitas
Narasi bahwa "Nasionalisme" adalah satu-satunya kunci sukses Jepang dan Korea adalah penyederhanaan yang berbahaya. Kita melupakan satu faktor pendorong utama yang tidak dimiliki Indonesia: Ketakutan akan Kepunahan.
Jepang, negara kepulauan miskin mineral yang rawan bencana, dan Korea Selatan, semenanjung yang hancur lebur pasca-perang dan miskin sumber daya alam, tidak memiliki pilihan lain selain "menjual otak". Bagi mereka, inovasi adalah soal hidup dan mati. Nasionalisme mereka adalah mekanisme pertahanan diri (survival mechanism).
Sebaliknya, Indonesia terlena oleh dongeng "Tanah Surga". Tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman. Kelimpahan nikel, batu bara, dan sawit menciptakan mentalitas comfort zone. Elit kita terbiasa kaya dengan cara mudah: mengeruk tanah dan menjualnya mentah-mentah. Tidak perlu inovasi rumit, tidak perlu teknologi tinggi.
Nasionalisme di Jepang melahirkan Toyota dan Sony. Nasionalisme di Korea melahirkan Samsung dan Hyundai. Sementara di sini, nasionalisme seringkali berhenti pada spanduk "NKRI Harga Mati" dan kewajiban membeli seragam baru, tanpa diiringi etos kerja untuk menciptakan produk yang mampu bersaing di pasar global.
Nasionalisme Kosmetik vs. Fungsional
Apa yang disebut Prabowo sebagai "Nasionalisme Kuat" di Asia Timur sejatinya adalah Budaya Malu yang ekstrem.
Di Jepang, pejabat mundur atau bunuh diri jika gagal mengemban tugas. Di Korea, mantan presiden bisa dipenjara tanpa pandang bulu jika terbukti korup. Itu adalah manifestasi nasionalisme—menjaga kehormatan negara dengan menjaga integritas pribadi.
Bagaimana dengan Indonesia? Kita melihat pejabat korup yang tersenyum di depan kamera, mantan narapidana korupsi yang kembali mencalonkan diri, dan proyek mangkrak yang tidak pernah ada yang bertanggung jawab.
Jika Presiden ingin kita mencontoh Jepang dan Korea, pertanyaannya bukan pada rakyat, melainkan pada elit: Siapkah para pejabat kita memiliki "rasa malu" setinggi pejabat Jepang?
Oligarki: Gajah di Pelupuk Mata
Ada satu "rahasia dapur" keberhasilan Korea Selatan yang jarang dibahas: Hubungan pemerintah dengan konglomerat (Chaebol).
Pemerintah Korea memang membesarkan Samsung dan LG, tetapi dengan cambuk yang keras. Pemerintah memberi subsidi dengan syarat mutlak: "Kalian harus ekspor dan menang lawan Barat. Jika gagal, kalian kami matikan." Ada meritokrasi brutal di sana.
Bandingkan dengan struktur oligarki di Indonesia. Pengusaha mendekat ke kekuasaan bukan untuk didorong berkompetisi di luar negeri, melainkan untuk mendapatkan proteksi, izin tambang, dan kuota impor di dalam negeri. Selama "nasionalisme" hanya dijadikan tameng untuk memproteksi bisnis kroni yang tidak efisien, mimpi menjadi Macan Asia hanya akan menjadi halusinasi.
Kesimpulan: Menolak Romantisme Kosong
Mengajak Indonesia meniru Jepang dan Korea adalah langkah tepat, namun alasannya bukan sekadar karena mereka "cinta tanah air". Mereka maju karena mereka disiplin, mereka terobsesi pada kualitas, dan mereka tidak memberi ampun pada inkompetensi.
Prabowo benar, kita kaya raya. Tapi kekayaan itulah yang menjadi racun jika tidak dikelola dengan manajemen modern. Tanpa revolusi mental yang nyata—bukan sekadar slogan—dan penegakan hukum yang tanpa pandang bulu, Indonesia akan tetap menjadi raksasa yang tertidur di atas tumpukan emas, sementara negara-negara miskin sumber daya terus berlari meninggalkan kita.
Nasionalisme tanpa kompetensi hanyalah fanatisme. Dan fanatisme tidak bisa membuat microchip atau membangun peradaban.

