Kejujuran: Barang Langka yang Sering Dipidatokan dengan Tidak Jujur, Ironi Ibu Pertiwi

Jufri  (Pegiat Sosial Politik dan Dakwah Kebangsaan) (poto/ist).

Oleh: Jufri 

(Pegiat Sosial Politik dan Dakwah Kebangsaan) 

Satuju.com - Kejujuran hari ini seperti barang antik: sering dipamerkan dalam pidato, tetapi jarang dipakai dalam kehidupan nyata. Semua orang memujanya. Semua mengaku menjaganya. Namun dalam praktik, justru kejujuran sering menjadi korban pertama dari ambisi, kepentingan, dan kekuasaan.

Sementara itu, kebohongan menjadi barang obral yang justru laris dan dihargai. Ia diproduksi massal, dikemas rapi, dan dijual murah demi keuntungan sesaat. Bahkan lebih dari itu, kebohongan kini telah menjadi menu sehari-hari di ruang publik. Anehnya, banyak orang lebih percaya pada kebohongan yang sering diulang, daripada kebenaran yang disampaikan dengan jujur tapi sunyi.

Di negeri yang kita sebut Ibu Pertiwi, kejujuran hampir selalu hadir dalam seremoni. Ia hidup di spanduk, baliho, dan slogan. Ia lantang diucapkan saat kampanye, pelantikan, dan peringatan hari besar. Tetapi setelah mikrofon dimatikan, kejujuran sering ditinggal sendirian di panggung, sementara para aktornya sibuk memainkan drama kepentingan.

Ironinya, kejujuran justru sering dipidatokan oleh mereka yang paling lihai menyembunyikan kebenaran. Kata “transparansi” diucapkan dengan wajah yakin, sementara praktiknya penuh manipulasi. Kata “integritas” dielu-elukan, sementara kebijakan dibuat dengan kalkulasi untung-rugi pribadi. Di sinilah kejujuran berubah dari nilai menjadi kosmetik: indah dilihat, rapuh disentuh.

Lihatlah berbagai narasi yang berseliweran di ruang publik: mobil Esemka yang lebih banyak menjadi cerita daripada kenyataan, drama ijazah yang tak kunjung jernih, polemik kuota haji yang selalu berulang, dan entah masalah apalagi yang datang silih berganti. Semua itu, jika ditarik ke akar, bermuara pada satu hal yang sama: langkanya kejujuran dan hilangnya rasa malu.

Lebih getir lagi, banyak dari mereka yang terlibat justru orang-orang yang diagungkan di seantero negeri ini. Dipuja, dibela, bahkan dikeramatkan. Padahal, ketika figur publik kehilangan rasa malu, maka publik pun perlahan kehilangan kepekaan. Kebohongan tidak lagi terasa memalukan, asal dibungkus dengan kekuasaan, popularitas, dan dukungan massa.

Ibu Pertiwi seperti ibu yang mendengar anak-anaknya berjanji setia, tetapi terus disakiti oleh perbuatan mereka sendiri. Negeri ini kaya, namun sering dipiskinkan oleh ketidakjujuran. Rakyatnya sabar, namun terus diuji oleh kebohongan yang dibungkus rapi dengan bahasa birokrasi dan retorika moral.

Yang lebih menyedihkan, ketidakjujuran itu lama-lama dianggap wajar. Korupsi disebut “budaya”. Manipulasi disebut “strategi”. Ingkar janji disebut “dinamika politik”. Di titik ini, kejujuran bukan hanya langka, tapi juga terasa asing. Orang jujur sering dianggap naif. Orang lurus sering dicurigai. Dunia terbalik menjadi normal.

Padahal, bangsa besar tidak dibangun dari pidato yang indah, tetapi dari laku yang jujur. Ibu Pertiwi tidak butuh lebih banyak slogan. Ia butuh teladan. Ia tidak menunggu retorika, tapi menanti keberanian untuk berkata benar meski tidak populer, dan berlaku lurus meski tidak menguntungkan.

Kejujuran memang mahal. Ia menuntut keberanian. Ia menuntut konsistensi. Ia menuntut pengorbanan. Tapi tanpa kejujuran, semua pembangunan hanya akan berdiri di atas fondasi pasir: megah sebentar, lalu runtuh perlahan.

Dan inilah barangkali ironi terbesar bangsa ini:
kita sedang menuju bonus demografi dan memimpikan Indonesia Emas,
tetapi fondasi moralnya justru mencemaskan.

Jika kita sungguh mencintai Ibu Pertiwi, barangkali cara paling sederhana—dan paling sulit—adalah ini: berhenti mempidatokan kejujuran, dan mulai mempraktikkannya. Karena negeri ini tidak kekurangan kata-kata. Yang langka adalah keteladanan.

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni