Bung Hatta dan Cinta yang Ditunda atas Nama Indonesia

Bung Hatta. (poto/net)

Penuls: Jufri, Pegiat sosial politik dan dakwah kebangsaan

Satuju.com - Pagi ini, entah mengapa, saya ingin menulis tentang sosok proklamator dari tanah Minang: Mohammad Hatta, atau Bung Hatta. Ia bukan manusia yang sempurna, sebagaimana manusia lainnya, namun ia istimewa. Seperti siapapun yang hidup dengan laku dan pikir, Hatta tentu saja mengalami pujian dan celaan. Itu adalah hal yang wajar, sebab setiap manusia yang berpikir dan bertindak selalu membuka dirinya pada penilaian zamannya dan generasi setelahnya.

Hatta adalah pribadi pemalu, tenang, dan nyaris tanpa hasrat tampil. Namun di balik sikap itu tersimpan keteguhan yang keras: kesetiaan pada janji kemerdekaan. Sejak awal pergerakan, ia meyakini bahwa kemerdekaan Indonesia bukan sekadar tujuan politik, melainkan amanah hidup. Keyakinan itu bahkan ia bawa hingga ke wilayah paling personal. Hatta bahkan berjanji tak akan menikah sebelum Indonesia merdeka, sebuah janji yang ia jaga dengan disiplin dan kesabaran yang panjang.

Dan Allah mengizinkannya untuk menepati janji itu. Setelah Indonesia merdeka, Hatta baru menikah, pada usia yang tidak lagi muda. Sebuah kisah sunyi tentang pengorbanan, tentang bagaimana kebahagiaan pribadi dengan sadar ditunda demi sebuah cita-cita kolektif bernama kemerdekaan.

Dalam hal cinta, Hatta berbeda dengan Soekarno, dan berbeda pula dengan Tan Malaka. Soekarno mencintai dengan gairah dan romantisme yang menyala, sebagaimana ia memimpin dengan kata-kata yang membakar semangat massa. Tan Malaka mencintai revolusi dengan totalitas yang keras dan sunyi, seakan tak menyisakan ruang bagi kehidupan personal. Hatta memilih jalan lain: cinta yang ditunda, ditertibkan oleh disiplin, dan diserahkan sepenuhnya pada keyakinan bahwa ada kepentingan yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Perbedaan itu menunjukkan satu hal penting: para pendiri bangsa ini adalah manusia-manusia khas, unik, dan tidak seragam. Mereka memiliki cara berpikir, cara mencintai, dan cara berjuang yang berbeda. Namun mereka dipertemukan oleh satu sifat yang sama: tidak pernah menyerah. Penjara, pengasingan, kesepian, dan tekanan zaman tidak membuat mereka surut dari keyakinannya tentang Indonesia merdeka.

Sebagai pembaca sejarah, dan sebagai warga bangsa hari ini, kisah Hatta terasa sangat personal. Ia mengajarkan bahwa mencintai Indonesia bukan hanya lewat pidato dan jabatan, tetapi lewat laku hidup yang konsisten, bahkan ketika harus menunda kebahagiaan diri. Dari Soekarno yang menggetarkan, Hatta yang menenangkan, hingga Tan Malaka yang menggelisahkan, Indonesia lahir dari perbedaan watak yang disatukan oleh keberanian dan kesetiaan pada cita-cita.