WEF, Trump dan “Harga” Perdamaian yang Bikin Publik Terperangah

Ilustrasi. (poto Ai)

Penulis: Lhynaa Marlinaa

Satuju.com – Di tengah dinginnya pegunungan Alpen saat perhelatan World Economic Forum (WEF), suhu politik tanah air justru mendadak panas. Pemicunya bukan sekadar jabat tangan biasa, melainkan sebuah tanda tangan di atas dokumen berlogo "Board of Peace" milik Donald Trump.

Presiden Prabowo Subianto resmi membawa Indonesia masuk ke dalam lingkaran baru yang diinisiasi oleh Presiden AS terpilih tersebut. Namun, bukan hanya soal diplomasi yang jadi sorotan, melainkan sebuah angka fantastis yang menyertainya: Rp16,9 Triliun.

Mahar Politik atau Komitmen Kemanusiaan?

Jagat maya langsung riuh ketika sebuah tangkapan layar berita viral menyebutkan narasi: "Harus Bayar Iuran Rp16,9 T".

Bagi masyarakat awam, angka ini bikin melongo. Setara dengan US$ 1 Miliar, dana sebesar itu bisa membangun ribuan sekolah atau membiayai subsidi pangan di dalam negeri. Muncul pertanyaan liar: Apakah perdamaian dunia kini menjadi klub eksklusif berbayar? Apakah Trump, sang taipan properti, sedang "menjual" tiket keanggotaan elit global?

Dalam draf piagam Board of Peace, angka US$ 1 Miliar itu memang nyata tertulis. Itu adalah syarat bagi negara yang ingin duduk di kursi Anggota Tetap (Permanent Member)—posisi prestisius dengan hak suara penuh selama tiga tahun untuk menentukan arah rekonstruksi jalur Gaza.

Plot Twist: Penjelasan "Rem Tangan" dari Kemlu

Sebelum spekulasi semakin liar, pihak Istana dan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) bergerak cepat melakukan klarifikasi. Narasi yang berkembang adalah: Bergabung? Ya. Bayar? Nanti dulu.

Posisi Indonesia saat ini adalah mendukung inisiatif damai tersebut, terutama karena Trump menjanjikan skema pembangunan ulang Gaza yang "tanpa birokrasi berbelit" (menyindir lambatnya PBB). Namun, soal "tiket emas" seharga Rp16,9 triliun itu, pemerintah menegaskan belum ada kesepakatan pembayaran.

Ini tak ubahnya strategi "cek ombak". Indonesia masuk ke dalam ruangan, duduk di meja perundingan, tapi belum tentu memesan menu termahal di restoran tersebut.

Pertaruhan Prabowo di Panggung Global

Langkah Prabowo ini jelas sebuah manuver high-risk, high-reward.
 
* Sisi Positif: Jika Board of Peace benar-benar efektif, Indonesia akan dicatat sejarah sebagai pemain kunci yang berhasil mendesak AS (sekutu utama Israel) untuk membangun kembali Palestina.

 * Sisi Kontroversial: Bergabung dengan inisiatif Trump—sosok yang seringkali polaritatif—bisa memicu debat panas di dalam negeri, apalagi jika di kemudian hari tagihan "iuran sukarela" itu benar-benar disodorkan ke meja APBN.

Apakah keanggotaan ini murni diplomasi bebas aktif demi Palestina, ataukah kita sedang melihat awal dari transaksi geopolitik yang harganya sangat mahal?
Satu hal yang pasti, angka Rp16,9 Triliun kini telah tertanam di benak publik sebagai "harga bayangan" dari sebuah gengsi internasional.