Saat Penjara Lebih Dipercaya daripada Kotak Suara

Ilustrasi. (poto Ai)

Oleh: Lhynaa Marlinaa

Satuju.com – Tidak ada air mata kesedihan, yang ada hanya nasi kotak dan gema tawa. Sebuah video yang viral pekan ini merekam anomali sosial di Kabupaten Pati: rakyat berpesta saat pemimpinnya dipenjara.

​Di bawah langit mendung Alun-alun Pati, ratusan warga duduk bersila. Bukan untuk mendemo kebijakan, melainkan merayakan jatuhnya sang Bupati, Sudewo, ke tangan penyidik KPK. Video berdurasi singkat itu menangkap esensi demokrasi yang tersumbat; ketika kotak suara tak lagi memuaskan, rompi oranye KPK menjadi jawaban yang dinanti.

​"Hanya di Pati, Bupatinya ditangkap, warganya syukuran," demikian bunyi narasi yang beredar. Kalimat satir ini merangkum kekesalan kolektif yang telah lama terpendam. Mulai dari kontroversi kenaikan PBB yang mencekik, hingga arogansi kekuasaan yang sempat menantang kritik warga secara terbuka.

​Pemandangan drone yang terbang di atas kerumunan merekam lebih dari sekadar makan bersama. Itu adalah simbol runtuhnya kepercayaan publik. Bagi warga Pati hari ini, nasi kotak di aspal alun-alun terasa jauh lebih nikmat daripada janji manis kampanye yang berujung korupsi.

​KPK telah melakukan tugasnya secara hukum. Namun di jalanan Pati, hukuman sosial telah dijatuhkan lebih dulu: sebuah perayaan perpisahan tanpa rasa kehilangan.