Bemper Politik Jokowi: Membaca Peran Bambang Saptono di Solo

Ilustrasi. (poto Ai)

Oleh: Lhynaa Marlinaa

Satuju.com – Sejak purnatugas dan kembali ke kediaman pribadinya di Sumber, Solo, aktivitas di sekitar Joko Widodo (Jokowi) tidak benar-benar surut. Namun, ada pergeseran fundamental dalam pola kerumunan yang terjadi. Di balik antrean warga, petani, dan tukang becak yang tampak "organik" ingin bersilaturahmi, terdapat satu nama yang beroperasi sebagai dinamo penggerak: Bambang Saptono.

Dalam kacamata forensik pergerakan sosial, menempatkan Bambang sekadar sebagai "relawan militan" adalah sebuah simplifikasi yang berbahaya. Dalam ekosistem pasca-kekuasaan (post-power ecosystem) Jokowi, Bambang telah bertransformasi menjadi "Kepala Satpam Politik" atau Jenderal Lapangan yang bertugas menjaga garis demarkasi antara Jokowi dan realitas politik nasional yang kian memanas.

Akar Rumput yang Mengeras: Dari Furnitur ke Jalanan

Loyalitas Bambang Saptono memiliki genealogi yang berbeda dari relawan instan yang tumbuh menjamur saat Pilpres. Ia adalah produk dari "Sekabel" (Sedulur Kayu dan Mebel), sebuah ikatan primordial profesional saat Jokowi masih menjadi pengusaha mebel biasa. Ini menciptakan ikatan emosional yang jauh lebih purba dan kuat dibanding sekadar transaksional politik.

Reputasi Bambang dibangun di atas aksi-aksi teatrikal tunggal—mulai dari cukur gundul, memandikan kerbau, hingga ruwatan. Bagi pengamat awam, ini mungkin tampak eksentrik atau bahkan konyol. Namun, secara semiotika politik, ini adalah branding kesetiaan mutlak. Ia memposisikan diri sebagai martir yang rela melakukan hal paling absurd sekalipun demi "tuannya".

Operasi Cipta Kondisi: Membangun Pagar Betis Manusia

Fenomena mobilisasi massa ke kediaman Jokowi di Sumber sepanjang 2025-2026 bukanlah sekadar ajang kangen-kangenan. Ini adalah operasi Cipta Kondisi. Di tengah gempuran isu dinasti politik, skandal "Fufufafa", hingga tekanan lembaga antirasuah di Jakarta, Jokowi membutuhkan visualisasi dukungan yang konkret.

Di sinilah peran vital Bambang. Ia memobilisasi elemen rakyat kecil untuk menciptakan "Pagar Betis Manusia" (The Human Shield). Foto-foto Jokowi yang dikerubungi rakyat di Solo dikapitalisasi menjadi pesan visual ke Jakarta: "Elite boleh menyerang, tapi akar rumput masih memuja." Ini adalah tameng psikologis yang dirancang untuk menepis narasi bahwa Jokowi telah ditinggalkan.

Deterrent Effect: Pasukan Penjinak Friksi

Peran paling strategis—dan berpotensi paling eksplosif—dari Bambang Saptono adalah fungsinya sebagai counter-force atau kekuatan penyeimbang jalanan. Solo, yang dikenal sebagai "Kandang Banteng", memiliki potensi resistensi yang tinggi terhadap Jokowi pasca-PDIP pecah kongsi.

Pasukan yang dikoordinir Bambang berfungsi sebagai deterrent (pencegah) bagi elemen mahasiswa atau masyarakat sipil yang berniat melakukan demonstrasi di kediaman Sumber. Dengan narasi "Menjaga Ketenangan Bapak", kelompok ini siap menjadi lapisan pertama yang memblokade protes sebelum aparat resmi turun tangan. Bambang mengondisikan Solo tetap "adem" melalui pendekatan lapangan yang khas: persuasif namun dengan intimidasi halus jumlah massa.

Analisis Risiko: Jebakan "Echo Chamber" dan Gesekan Horizontal

Simbiosis mutualisme ini memang menguntungkan kedua belah pihak secara jangka pendek: Jokowi mendapatkan keamanan optik murah meriah tanpa pengerahan Paspampres berlebih, sementara Bambang mendapatkan kenaikan status sosial dan akses eksklusif ke lingkar dalam mantan presiden.

Namun, strategi ini menyimpan bom waktu:

Ilusi Popularitas (The Echo Chamber): Mobilisasi yang terus menerus dikondisikan berisiko menjebak Jokowi dalam gelembung informasi. Ia mungkin merasa masih sangat dicintai karena setiap membuka pintu, halaman rumahnya penuh. Padahal, massa tersebut adalah hasil kurasi, bukan representasi murni sentimen publik nasional. Ini rentan memicu kesalahan kalkulasi (miscalculation) dalam merespons isu nasional.

Potensi Konflik Horizontal: Jika tekanan politik di Jakarta mencapai titik didih dan memicu gelombang protes mahasiswa di daerah, keberadaan "Pam Swakarsa" ala Bambang Saptono justru bisa menjadi pemantik gesekan fisik. Jika bentrokan terjadi di depan pagar rumah Jokowi, citra "Negarawan" akan runtuh seketika, berganti menjadi narasi pemimpin yang berlindung di balik ketiak relawan demi menghindari kritik.

Kesimpulan

Bambang Saptono hari ini bukan lagi sekadar relawan pengusaha mebel. Ia adalah barometer kecemasan Jokowi. Semakin sering dan masif Bambang memobilisasi massa ke Sumber, itu adalah indikator bahwa suhu politik di Jakarta sedang tidak aman bagi keluarga Jokowi. Ia adalah "bemper politik" yang dipasang untuk memastikan benturan keras dari Ibu Kota tidak menggores kulit Jokowi di masa pensiunnya.