Gitar Listrik, Kacamata Retak dan Cerita yang Tak Sinkron
Ilustrasi. (poto Ai)
Satuju.com - Ada yang janggal dari kepingan puzzle masa lalu ini.
Kita sering disuguhi cerita sedih: Kisah kemiskinan, rumah pinggir kali, hingga kacamata retak yang tak terbeli karena tak punya uang. Narasi yang menyentuh hati, bukan?
Tapi tunggu dulu.
Di sisi lain, muncul narasi kebanggaan tentang hobi musik cadas, lengkap dengan Gitar Listrik di era 80-an.
Mari Pakai Logika Sederhana:
Di tahun 80-an, gitar listrik adalah barang mewah. Harganya selangit, belum lagi amplifier-nya. Hanya anak orang kaya yang bisa memilikinya.
Pertanyaannya:
Bagaimana mungkin seseorang mampu membeli instrumen musik mahal, tapi di saat bersamaan mengaku tak mampu mengganti kacamata yang merupakan kebutuhan primer matanya?
Apakah gitar itu cuma properti foto? Atau cerita kemiskinan itu yang cuma "naskah drama"?
Misteri Wajah & Nama
Belum lagi soal fisik. Kadang Mulyono, kadang Jack. Kadang berkumis tebal belah tengah, kadang klimis belah samping.
Perbedaan ini bukan sekadar ganti gaya, tapi seperti melihat dua sosok berbeda dalam satu lini masa kehidupan.
Tabu Transparansi
Dan puncaknya: Selembar Ijazah.
Di negara demokrasi, riwayat pendidikan pejabat harusnya jadi kebanggaan yang dipajang. Tapi di sini? Ia diperlakukan seperti dokumen rahasia negara, atau "aib" yang disembunyikan rapat-rapat.
Semakin ditutupi, semakin liar spekulasi rakyat.
KESIMPULAN:
Kita seperti sedang menonton teater kolosal.
Pertanyaannya bukan lagi "Siapa yang main gitar?", tapi "Sampai kapan kita dipaksa percaya pada skenario yang penuh lubang ini?"
Logika rakyat tidak bisa dibohongi selamanya.

