Ketika Puasa Hanya Formalitas: Refleksi yang Menyentil Publik
Ilustrasi
Jakarta, Satuju.com - Sebuah refleksi tentang makna puasa ramai diperbincangkan di media sosial setelah diunggah oleh akun Instagram @logika.filsuf. Unggahan tersebut mengajak publik merenungkan kembali esensi ibadah puasa yang tidak hanya sebatas menahan lapar dan haus, tetapi juga pengendalian diri secara menyeluruh.
Dalam unggahan itu, refleksi dikaitkan dengan pemikiran cendekiawan Fahruddin Faiz yang menekankan bahwa banyak orang menjalani puasa hanya secara lahiriah. Ibarat “mencuci muka tanpa berwudhu”, tampak bersih di luar namun tidak sah secara makna.
Narasi tersebut menyoroti kebiasaan yang dinilai masih sering terjadi, seperti mampu menahan makan dan minum selama berjam-jam tetapi sulit menahan diri dari perilaku negatif, termasuk berkomentar sinis di media sosial atau memperturutkan ego pribadi.
Puasa disebut sebagai proses self-mastery atau penguasaan diri, yakni kemampuan mengendalikan hawa nafsu dan tidak menjadi “budak” keinginan. Refleksi ini mengajak umat untuk menjadikan puasa sebagai momentum memperbaiki sikap, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Unggahan itu juga mengutip pandangan ulama besar Imam Al-Ghazali yang menyebut ibadah memiliki “kulit” dan “isi”. Artinya, pelaksanaan ibadah tidak cukup hanya pada aspek lahiriah, tetapi harus diiringi pemahaman dan penghayatan batin agar tidak kehilangan makna.
Dengan bahasa metaforis, unggahan tersebut menggambarkan bahwa kedekatan spiritual bisa terabaikan ketika seseorang lebih sibuk mengikuti hawa nafsu dibanding memperdalam kualitas ibadahnya.
Konten reflektif semacam ini mendapat respons beragam dari warganet, mulai dari yang merasa tersentil hingga yang menganggapnya sebagai pengingat untuk memperbaiki kualitas ibadah, khususnya menjelang dan selama bulan Ramadan.

