Dari Makam ke Kertas: Hikmah Ziarah dalam Kata
Wahyudi El Panggabean. (poto/ist)
Oleh : Wahyudi El Panggabean
Satuju.com - Entah kenapa? Perasaanku selalu mencekam saat mendeskripsikan ihwal kematian. Mungkin, karena menyangkut reportase perjalanan—traveling reportage— terakhir seseorang. Sayangnya, tulisan ini tidak bertajuk soal haru-biru kematian.
Ritual pemakaman jenazah, menjadi keunikan masa kecilku. Pemandangan ini, selalu membuatku terharu dan takjup. Merasa gamang, menyaksikan iring-iringan mengantar jenazah. Apalagi ikut menyaksikan pemakamannya.
Sayangnya, seperti kujelaskan tadi, tulisan ini tidak bertajuk soal haru-biru kematian. Tulisan ini, seputar respon ritual manusia hidup terhadap orang-orang tercinta yang telah lebih dulu meninggal dunia. Ritual itu, lebih populer dengan: Ziarah Kubur.
Aku memetik makna hikmah di balik “traveling religius” itu. So, menjadikannya angel tulisan “Ziarah Lewat Pena” ini.
Lantas, melayang ingatan ke masa silam. Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Keseharianku lepas sekolah: bekerja membantu orangtua di sawah. Nun jauh di sana, di Kawasan Persawahan Pulau Sisoma, Batangtoru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Tanah leluhurku. Tempatku dilahirkan. Tempatku dibesarkan.
Alam nan indah. Pesona persawahan—yang mungkin—turut memengaruhi watakku. Sungai kecil membentang di sisi kanan persawahan. Ada jalan setapak di sisi utara.
Jalan selebar 75 cm itu, melintasi sungai via jembatan beton. Jalan terpaut dengan sisi pematang oleh ilalang. Jalan kecil ini, sarana penghubung ke persawahan penduduk. Juga sarana penghubung ke Komplek Pekuburan. Pekuburan Islam, Kristen serta Pekuburan Etnis Tionghoa.
Dari jalan setapak inilah aku menuai pengalaman tentang orang-orang berziarah kubur. Pengalaman masa silam itu, ternyata menjadi bank memori yang tersimpan elok di benakku. Mungkin karena keunikannya.
Salah satu keunikan sekaligus aneh, justru yang dilakoni Peziarah Makam Islam. Biasanya, peziarah ini berkelompok. Terdiri dari 3 hingga 20 orang. Mereka bersengaja datang dari luar kota untuk menziarahi makam orang tua atau saudara mereka.
Anehnya, setiap kelompok selalu membawa ceret kosong. Ceret kosong ini, kemudian ditadahkan ke pancuran bambu kecil di dekat jembatan. Air pancuran itu bersumber dari lereng bukit kebun karet kami.
Sementara, peziarah yang lain terus melangkah pelan menuju pekuburan, si Tukang Tadah ini masih menadah air 5 hingga 10 menit, menunggu ceret penuh. Di pancuran itu debit air sangat kecil. Tetapi, peziarah selalu sabar menunggu hingga ceret penuh. Terlihat juga antrean di sana.
Untuk mengusir rasa penasaranku, suatu hari aku mencoba mengintip kegunaan air bagi peziarah. Ternyata air itu digunakan untuk menyiram permukaan makam. Meski di atas makam tidak ditumbuhi sesuatu, makam itu tetap disiram.
Aku coba bertanya kepada ayahku tentang makna “tradisi” siram makam itu. Ayahku hanya berkisah singkat: “Dulu usai mengubur jenazah, mereka menanam bunga di atas makam sebagai tanda saja. Agar bunga itu tidak layu, mereka menyiramnya dengan air. Kurasa itu awal dari tradisi menyiram makam,” kata ayahku.
Dalam literatur Islam, kita temukan bahwa makna berziarah sebagai ritual sunnah, mengenang kematian, sudah lama bergeser. Mendahului pergeseran fungsi pena untuk menulis yang dikepit jemari tangan manusia.
Saat ini menulis, sudah lebih pada pengertian menekan tombol-tombol komputer atau alat digital sejenis sebagai alat pembaharu mesin ketik.
Ziarah lewat pena? So, apa hubungan ziarah dengan menulis rerportase perjalanan ini? Pada intinya ziarah pekuburan itu, hanya untuk mengenang kematian.
Islam mengajarkan pemeluknya agar sesering mungkin melakukan ziarah kubur. Makna agungnya: Mengenang kematian. Hidup ini tidak lama. Tidak abadi. Maka, berbuat baiklah!
Untuk itulah, orang-orang yang punya pengalaman pahit alias nyaris mati, bisa beroleh motivasi yang luar biasa atas pengalaman tragis itu. Itu artinya, mereka sadar bahwa hidup ini memang singkat.
Ada sederet kisah-kisah realis yang dialami orang-orang yang lolos dari maut. Peristiwa tragis kala nyaris merampas kehidupan seseorang, acap memberi inspirasi gemilang. Mengubah pemalas jadi seorang yang kreatif.
Pekerti yang dipetik: betapa dekatnya kita dengan maut. Sadar akan kematian yang bisa datang tiba-tiba, seyogianya membuat kita tergugah melakoni kebaikan. “Gajah mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama”.
Intinya, jika ziarah itu bertujuan mengenang kematian, tentu tidak harus ke makam. Tidak mesti kekuburan. Kita bisa berziarah dengan cara-cara spritual. Lewat hati dan komunikasi dengan bathin, bahwa hidup ini begitu singkatnya.
Cara ini akan melahirkan imajinasi dan inspirasi. Seterusnya, kita hanya perlu pena dan secarik kertas ‘tuk menuliskan pengalaman bathin kita setelah merenungi kematian. Tulislah, pengalaman apa saja yang muncul saat mengenang kematian itu.
Coba “berziarah” dan selalu mengenang kematian, menjelang tidur atau begitu bangun pagi hari. “Ini suatu gagasan dan wahana kreativitas dalam mencari ide menulis,” kata seorang sastrawan.
Terasa lebih “mengena” jika Anda menulis pengalaman langsung, tentang nyaris mati. Saatnya meng ingat-ingat lagi saat-saat yang mengerikan yang pernah Anda alami. Yang membuat Anda hampir saja bercumbu dengan sang Maut. Tulis kisah itu. Diyakini: pasti menarik!
Sesuatu yang ditakutkan, tapi pasti, adalah kematian. Dengan demikian, ziarah lewat pena dan memproduk tulisan-tulisan, justru efektif menggugah kreativitas. Ziarah lewat pena sekaligus sarana berkreasi.
Jika Anda sering berziarah lewat pena, stok tulisan akan abadi, saat kematian menjemput. Catatan-catatan kita tentang kebaikan akan dikenang orang.
Berziarah lewat pena sekaligus sebagai pembatas kita pada tindakan yang menyalahi hukum, etik dan moral.
Vita brevis art longa: Hidup ini singkat. Tapi seni dan kebaikan akan abadi.

